Minggu, 27 Februari 2011

Narkoba Lagi! Selebriti Lagi!

Kali ini Yoyo Padi. Drummer yang mantan suami penyanyi kondang Rossa itu dicokot polisi dari kamar apartmentnya di bilangan Sudirman, Jakarta, Minggu dini hari (27/2). Urusannya narkoba. Polisi mengaku ketika Yoyo disambangi tidak lagi ''memakai'', tapi dari tempat itu polisi menyita barang bukti berupa bong (alat hisap narkoba) dan narkoba jenis shabu-shabu.

Sialnya, kemudian banyak orang bilang, ''Ah, artis mah biasa!'' Nah lo.

Memang, sepanjang masa, sederet nama sudah tercatat tereret-eret menggunakan barang haram jadah itu. Tak perlulah disebut-sebut lagi nama mereka, apalagi mereka yang sudah berbalik, berpaling meninggalkan penyesalan yang dalam untuk ulah tak terpuji dan merusak diri dan hidup sendiri itu. Tapi, lagi-lagi artis. Meski kalau dihitung persentasi jumlah artis yang terlibat narkoba dengan masyarakat biasa bisa jadi cuma secuil persen, tapi tetap saja, kalau wartawan bilang, ''Name make news.'' Orang-orang terkenal selalu mejadi objek berita, dan -- apalagi artis -- orang-orang awam selalu menunggu berita tentang mereka.

Tapi berita narkoba? Inilah dukanya. Aibnya. Seorang Yoyo pula. Drummer yang dipasangkan namanya di papan atas. Drummer yang cukup disegani di bidangnya. Halah! Kenapa harus seperti ini?

Kadang kita tidak habis pikir. Tapi, yang paling tahu sebab-sebab, tentulah orang kayak Yoyo sendiri. Kenapa dia harus terkait dengan barang itu?

Selebriti konon adalah sosok terpilih, yang kemudian ikutannya mendapat ''gelar'' itu adalah, mereka disadari atau tidak, menjadi tokoh panutan. Panutan setidaknya bagi penggemar masing-masing. Setidaknya! Nah, kalau panutan, berarti memang banyak hal yang menjadi ''pantangan''. Ini salah satu risiko. Maka saya setuju dengan teori seorang teman pengamat entertainment, Remy Soetansyah: Terkenal adalah risiko. Banyak yang tak terduga muncul di sana. Maka inti dan kuncinya adalah: Berhati-hatilah.

Narkoba dan artis, seringkali saling terkait. Entah karena para pemain bisnis narkoba itu tahu bahwa artis ternyata seringkali ''merasa sepi'' ketika tidak beraktivitas, atau bisa pula dengan memperdaya artis (selebriti), ini menjadi bagian dari promo dagangannya. Ini cuma asumsi.

Di sisi lain, kesadaran sebagai manusia, kesadaran sebagai mahluk yang hidup di negeri ini, yang tegas-tegas menentang ''yang begituan'', yang jelas-jelas hukumnya menjerat yang mencoba tersangkut-sangkut dengan kasus narkoba, kesadaran sebagai panutan (selebriti -- tokoh masyarakat), manusia pilihan, seharusnya menjadi rem yang paling pakem untuk menjauh dari godaan setan khususnya narkoba itu.

Selalu dan selalu kita berharap, kasus teraktual harusnya menjadi kasus terakhir kaum selebriti tersangkut narkoba.  Mungkinkah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar