Seorang doktor musik (musikolog) Rizaldi Siagian menulis komentar (menitipkan pesan) di FB saya, mengingatkan bahwa pohon kemenyan di daerah Pakpak, salah satu daerah di Sumatera Utara habis diganti dengan pohon akasia. Sebagai muskolog, konsentrasi pertama Bang Rizaldi tentu saja pada musik. Makanya dia menekankan, Odong-Odong di tanah Pakpak sudah ''kiamat'' karena pohon kemenyan dihabisi.
Apa hubungan pohon kemenyan dengan Odong-Odong?
Bagi orang Pakpak, mencari getah kemenyan adalah salah satu mata pencarian. Biasanya, seorang ayah berangkat mengumpulkan getah kemenyan (istilahnya ''mrkemenjn'') dan memakan waktu berhari-hari atau malah bisa berminggu di hutan belantara. Selama di hutan belantara itu, tak ada yang dikerjakan selain mrkemenjn. Memanjat pohon kemenyan yang tinggi, duduk di dahan yang kokoh, memukul-mukulkan pisau khusus atau mencongkel getah kemenyan dari batang pohon dan memasukkannya ke ucang-ucang (kerancjang yang digendong).
Entah bagaimana asal-usulnya, istilah Odong-Odong muncul, dan dia menjadi bagian dari kesenian ttradisional Pakpak. Odong-Odong adalah nyanyian yang dilantunkan prkemenjn dari atas pohon. Musiknya adalah ketukan pisau di batang pohon. Suara lantang berligato-ligato, menyuarakan semua perasaan sang prkemenjn selama di hutan. Impiannya, harapannya, rasa rindunya kepada anak istri, semua dituang dalam Odong-Odong.
Secara resmi, saya sendiri baru sekali mendengar Odong-Odong (pada sebuah pertunjukan kesenian Pakpak di TMII. Seorang anggota dewan Pakpak Bharat bermarga Manik yang ternyata seniman tulen melantunkannya dalam sebuah adegan. Luar biasa.
Lha, saya yang asli orang Pakpak saja baru sekali mendengarnya, bagaimana dengan yang bukan Pakpak?
Saya pernah bilang, kok Odong-Odong yang begitu terkenal itu seperti tak berwujud? Seperti sebuah legenda yang kita dengar hanya dari cerita? Padahal dia nyanyian. Padahal dia terdiri dari susunan notasi dan rangkaian kata-kata yang seharusnya bisa dihafalkan.
Saya pernah mencoba menghubungi sang seniman dan meminta contoh lirik Odong-Odong. entah kenapa, sudah bertahun-tahun, itu tak pernah saya dapatkan. Saya cuma bisa tersenyum saja.
Kesenian Pakpak, entah kenapa seperti menjadi sesuatu yang eksklusif untuk orang tertentu saja. Mungkin juga karena tidak memikirkan atau paham bagaimana melestarikan dan membuatnya menjadi sesuatu yang dimiliki turun-temurun. Itu juga terjadi pada kesenian populernya. Ketika lagu-lagu pop daerah menasional, lagu-lagu Pakpak menjadi bagian yang cuma berkutat di ''regional''. Pembicaraan pembangunan di daerah Pakpak sangat kurang menyentuh ''kesenian''. Saya berani mengatakan itu karena buktinya tidak ada yang ''mumbul'' alias tampak ke permukaan. Tidak ada yang dibicarakan orang banyak, selain orang-orang Pakpak sendiri yang mengulasnya.
Apa yang diucapkan sang musikolog kepada saya adalah cambuk. Secara kasat mata, pohon kemenyan memang tempat menyanyikan Odong-Odong. Tapi sebagai bagian dari kesenian, dia seharusnya bisa muncul di mana-mana. menjadi kekayaan yang luar biasa.
Pagi ini, saya menahan amarah, hati saya merintih. Sebagai putra Pakpak asli, tak pernah paham ke mana mencari akar-akar kesenian seperti ini. Atau dia akan berhenti menjadi milik orang-orang sebelumnya, dan kepada generasi mudahnya tinggal cerita?
Ong ko lbbe tbbu-tbbu mberengggggg.... ko tbbu-tbbu mbaraaaaa, eamale....
Otang kabang-kabang mi urang julu ko lbbe manuk-manuk......
(potongan lirik Odong-Odong yang pernah saya dengar dan dinyanyikan meliuk-liuk, dan begitu seksi.)
Benarkah Odong-Odong akan lenyap dan tinggal cerita?

njuah njuah.stelah saya membaca catatan di atats,ternyata budaya pakpak itu begutu di knal di kalangan budayawan.namun sgt di sayangkn org pakpak sndirilh yg melupakn budanya sndiri.namun demikian tdk ada kata terlmbat.ETAKEMO KALTU SIMBAH MIJOLO BUDAYATA I ASA ULANG BENNE,ASA LOT EKUTN DUKAK DUKAKTA KADUAN.njuah njuah odahi ke mambru HANSMILLER BANUREA.
BalasHapusTerus terang, sejak kecil saya kepengen bisa mrodong-odong, tapi mendengarnya pun baru sekali. Yang banyak saya dengar adalah cerita. Meski demikian, saya mencoba mempelajarinya sendiri. Nyanyiannya saya bisa, tapi kata-katanya, saya tak punya. Saya berpikir ada lirik pakemnya tapi ada juga yang bilang, liriknya bikin sendiri, tergantung suasana hati. Tapi setidaknya, yang sangat bisa dan mampu mau berbagi, memberitahu bahkan mengajari. Njuah-njuah.
BalasHapus