Senin, 07 Maret 2011

Coretan-Coretan Renunganku

Tepatnya 23 Desember 2009, nyawaku hampir melayang. Sekitar pukul 21.00 WIB, ojek yang aku naiki disambar mobil. Aku dan si tukang ojek terhempas. Ketika mau berdiri, aku baru sadar, kaki kananku bermasalah. Tepat di bawah tempurung kaki, tulangnya remuk. Rasa sakitnya bukan main. Sebenarnya aku nggak kepikir untuk operasi, jadi selama sekitar tiga bulan kakiku diurut-urut saja. Sampai akhirnya berhadapan dengan dokter, vonisnya harus operasi.

Sepanjang menahan sakit, yang kurasa sakit hanya kakiku. Nggak mau menjalar ke mana-mana (walau sempat dirawat karena persoalan lain, kebanyakan makan obat penahan sakit). Sepanjang masa penantian yang menjemukan itu, aku mencoba mencoret-coretkan apa yang ada di pikiran dan batinku. Setiap ada sunyi, aku menulis. Tulisan itu tersimpan rapi di laptopku. Dan hari ini, setelah setahun operasi kaki, dan aku sudah mulai berjalan normal kembali dengan 16 mur penahan besi permanen di kakiku. Aku kembali membaca coretan-coretan yang satupun tak kukusih judul. Barangkali menarik untuk dibaca, atau malah dibahas?


1
kembali masuki arena
tegakkan dada, tegapkan langkah
berjalan was-was, menatap awas
pompa semangat, libas tantangan, susun rancangan
selama nadi berdetak, jantung berdegup
tetaplah jadi penakluk
sebab hidup untuk ditaklukkan
selamat pagi matahari
selamat pagi semua
aku datang
dan selalu untuk menang

2

Sepilu-pilu sunyi

telah kuanyam menjadi tikar yang lebar

Aku masih rebah di atasnya

menghitung setiap detak perdetak jantung

denyut perdenyut nadi

masanya terlalu panjang dan membosankan

Wahai ketidakberdayaan

hargai usahaku mengenyahkanmu

dari waktu-waktuku

Aku ingin cepat kembali

seperti aku yang sesungguhnya....

Bukan ini duniaku

Bukan ini keseharianku

Bukan ini nasibku

Wahai...........

 

3

Janji matahari

adalah bersinar terang

sejak pagi menjelang

Tapi, saat langit diselimuti kabut hitam

sang matahari tetap tak berdaya

Kesabarannya menunggu kabut hilang

untuk kembali tepati janji

itu luar biasa.


4

Pagi yang cantik

Matahari tersenyum

langit biru sumringah

Nyanyian daun-daun

mendayu

Aku sedang menyapa kebesaran-Nya



5

Takkan pernah menyerah

dalam masa penangguhan keberdayaan

Sedetik pun harus tetap berarti.

Harus!


6

Romantisme dari ketidakberdayaan dalam kesunyian

adalah munculnya kesadaran introspeksi

Kelemahannya

Introspeksi kadang membuat kesal

karena melihat kembali potret panjang masa lalu

banyak juga yang membuat kesal

akibat munculnya penyesalan

Sialan kesendirian dan kesunyian ini!

 

7

nyanyian pulang

adalah untaian rindu dan penantian

yang sejenak terbengkalai

dan harus tabah dalam uji-NYA

mengalun pagi ini dengan nada kemenangan

aku pulang

aku pulang....


 

 

 

 

 

8

oo sunyi

kau sapa lagi aku

di simpang kebosanan

aku dengarkan nyanyian bulan sabit

di saat yang sama

kudendangkan rintihan perih

dan lirih

lalu

detak jam dinding kamar bertirai putih

masih menjebak batinku

oOo sunyi...

 


9

Sore ini dengerin musik

sambil menikmati segelas kopi panas dan pisang goreng

Besok kita nonton reality show

dari studio senayan lagi

di layar kaca

Lebih seru nggak ya?

 

10

Kesendirian

tidak membuat otak berhenti berpikir

Yang berhenti kadang-kadang

adalah keberdayaan

mewujudkan apa yang dihasilkan pikiran

Untung masih ada akal

dan teman-teman yang tulus

memberi semangat dan dorongan

Memastikan

kesendirian

adalah ujian kesabaran dan ketabahan

Terimakasih akal

terimakasih teman yang tulus

 

11

Nikmati segelas kupi

sepotong roti

nonton tv

sambil mikir-mikir

kaki yang mau dioperasi

Duh, geli!

 

12

Sudah lewat malam

Tidurlah

Aku

masih hendak memanjakan kesendirianku

dalam pelukan sunyi

Jika nanti lelah

aku akan rebah

di ujung mimpimu

Tidurlah

 

13

Mengunci pikiran di satu titik

konsentrasi berjuang

Selamat gini hari

semoga teman-teman yang lagi sakit

diberi-Nya kesembuhan

dan kita semua

selalu dalam bimbingan

dan

lindungan-Nya.

 

14

Sarapan pagi paling bergizi pagi ini

adalah

sapaan tulus

dan senyuman

 

15

langit mendung

tapi

langit hatiku tenteram

dalam buaian

angin harapan

yang kian berwujud

 

 

16

pagi menyapaku ramah

langit seperti biasa

mengernyitkan kening

muram

hendak meneteskan airmata

 

 

17

semakin sering kusebut nama-Mu

di detik-detik sunyiku

Dari sekian sering itu

aku berharap

ada yang melintas

di frekwensi sesungguhnya

 

18

Bangun pagi

mensyukuri rasa sembuh

yang datang pelan-pelan

Lalu hanyut lagi

dalam penantian

yang membosankan

Terimakasih ya Allah

Kau uji aku

untuk menghitung

dan menimbang

semua dalam sunyi

dan waktu yang lapang

Semoga kutemukan

hitam putihku

dengan tepat

 

19

Semalam aku bermimpi

jalan-jalan di padang tanpa tepi

Dalam sadar

rasa takutku menyeruak

Kuhitung sujudku

yang khusuk tak seberapa

Bayangan bocah-bocah kecilku

yang nyenyak dalam tidurnya

membuat sebuah keyakinan

dan kepastian dalam batinku

Aku ingin pulang

ketika aku sudah siap pulang

Lalu kumulai lagi

menyebut

namaMu

 

20

Terimakasih Tuhan

Pagi ini

matahari

melambaikan tangan padaku

dari balik kaca jendela kamarku

 

21

Sudah sore lagi

Aku masih di sini

Tergeletak

Sedang diuji kesabaran

dan ketabahanku

Kadang-kadang

aku merintih kesakitan

Untung tak banyak yang tahu

Untuk apa ya

aku

harus sampai begini?

 


22

Kalau saja ibuku masih hidup,

 aku akan sujud dan mencium kakinya

Selamat hari ibu

kepada semua perempuan


 23

Sangat terhormat membela kehormatan

Tapi dibutuhkan kedewasaan

Kearifan

kesabaran

dan ketenangan berpikir

untuk menyikapinya

Apapun itu


24

Semua momen

bisa menjadi awal

perubahan

Saya sedang menikmatinya


25

Dibutuhkan ketegasan

untuk mengurut benang kusut

daripada makin lama makin kusut

mau ke mana

dan akan bagaimana kita ini?


26

Waktu berjalan tak pernah henti

Tanpa sadar

kita sudah sampai di sini

dan

akan terus ke sana

Mari teruslah

kita jalani semua

dengan senyuman yang tulus

dan kedewasaan

yang semakin matang.


 27

sendiri itu sunyi

sunyi itu sepi

sendiri itu kesepian

pulanglah

wahai kau yang pergi


28

Gempa lagi

di hatiku

Untung

kau

kembali

tersenyum


29
nyanyian sore
adalah rindu.
ingin menatap
mataMu yang teduh
dan kutebar rinduku
di dalamnya
dalam teduhMu
aku ingin melepas
semua lelah dan gundahku
Lelap dalam dekapanMu
dalam teduhMu

30

Nyanyian pagi ini
adalah nyanyian hati
yang bergairah
ditemani matahari
yang cerah
dan tentu saja
berharap dan berdoa
kita semua
diberi-Nya berkah
yang berlimpah

Jakarta - Bogor 23 Desember 2009 - Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar