Kamis, 24 Februari 2011

Fenomena Fenomena

Dua hari lalu Sakti menunggu-nunggu waktu tengah malam. Bersama teman-teman dia keluar rumah, menatap langit dan menunggui bulan kembar. ''Ini adalah tanda-tanda,'' komentar seorang temannya.
''Tanda-tanda apa?'' desak Sakti.
''Mau kiamat.''
Duh!
Sakti mengernyitkan dahi. Tak berkomentar lagi. Dan, ketika berpisah dari teman-temannya. Sakti tersenyum. Dia ingat lagi omongan teman-temannya. Dari sekian banyak mereka yang berkumpul melihat ''bulan kembar'' itu, hanya beberapa yang memahami fenomena itu. Bahwa planet Mars mendekati bumi, kemudian dia muncul dalam ukuran besar, seolah-olah bulan menjadi dua di malam hari.
Nggak apa-apa, pikir Sakti. Toh bukan hanya teman-temannya saja yang seperti itu. Di mana-mana orang membicarakan fenomena. Sungai darah di India, bongkah es yang ukurannya seperti gunung, mengambang di atas laut. Hujan kodok, kubah terbang dan macam-macam lagi. Begitu banyak yang menerjemahkannya sebagai tanda-tanda akan berakhirnya dunia.
Ini menarik, kata hati Sakti. Fenomena menjadi bahan omongan di mana-mana. Bahkan dengan rapi ditulis orang dan dibradcast di blackberry, beredar sebagai sms, jadi bahan tayangan televisi dan lain-lain.
Dua sisi yang berbeda analisis yang muncul. Satu sisi ini fenomena alam yang terjadi karena memang harus terjadi, atau terjadi karena ulah manusia yang tidak menyangi, mencintai dan merawat alam pemberian Tuhan sang pencipta alam semesta, dan sisi lainnya, ini benar sebagai ''tanda-tanda'' dari yang kuasa, bahwa kiamat telah dekat.
Secara pribadi, Sakti punya pilihan dari salah dua pilihan itu. Tapi dia melupakan itu. Dia hanya bingung, seperti yang dilakukannya bersama teman-temannya tadi, menikmati pemandangan peristiwa unik dan langka itu, lalu masing-masing berpendapat. Hanya berpendapat. Kalau itu memang kerusakan alam karena ulah manusia, tidak banyak yang membahas bagaimana mengatasinya? Apa yang harus diperbuat?
Seharusnya, kata Sakti, teman-temannya yang berpendapat ini fenomena alam yang membutuhkan sikap manusia, maka harus mulai dari lingkungan terkecil itu, langsung berbuat.
Atau ini tanda-tanda mau kiamat?
Kalau benar, maka yang dibutuhkan adalah tindakan lebih konkret lagi : Tobatkan diri masing-masing! (hmb)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar