Kamis, 24 Februari 2011

Derita Seniman Indonesia

Menyaksikan potret hidup seniman Indonesia, Sakti merasa ngilu. Yang paling aktual saat ini adalah kisah Franky Sahilatua. Seniman tulen asli Ambon asal Surabaya itu, sedang terbaring tak berdaya di sebuah rumah sakit di Singapura. Awalnya sakit batu ginjal, tapi ternyata kena kanker sumsum. Sudah dilakukan operasi sekali, mengangkat 20an benjolan dari 50an benjolan yang muncul di punggungnya. Jadi akan dilakukan beberapa kali operasi lagi.
Dan, yang membuat Sakti ngilu adalah, persoalan yang kemudian dihadapi Franky bukan hanya penyakitnya. Tapi bagaimana membiayai pengobatan dan perawatannya. Bah!
Merunut kembali ke era 80an, Sakti yakin seyakin-yakinnya, Franky yang kala itu muncul dengan nama Franky & Jane (Frankt berduet dengan adiknya, Jane) tercatat sebagai artis papan atas. Nyanyian folk yang mereka tawarkan selalu mendapat tempat. Secara nama mereka luar biasa, dan secara penghasilan seharusnya juga luar biasa. Apalagi, Franky juga terkenal sebagai pencipta lagu-lagu hits yang luar biasa.
Lalu apa yang membuatnya tak berdaya sekarang menanggulangi biaya pengobatan?
Sakti menarik nafas panjang. Bukan hanya Franky, tapi lagi-lagi kalau merunut waktu ke belakang, mayoritas seniman Indonesia ternyata hanya mengantongi wangi nama besar di kemudian hari. Bolehlah menyebut siapa saja seniman Indonesia yang ketika diserang penyakit di hari tuanya, selalu babak belur.
Apa sebenarnya yang terjadi?
Sakti mengingat lagi, seorang petinggi di negeri ini pernah berbincang dengan Sakti. Petinggi yang menceritakan begitu banyak dia berteman dengan seniman. Dan si petinggi ini merasa bangga, bisa membantu beberapa seniman. Tapi di balik cerita bantuan itu, si petinggi yang jawara soal ekonomi itu mengatakan, hal yang paling gagal di dunia seniman Indonesia adalah management. Baik management yang diolah sendiri oleh si seniman itu (untuk dirinya), maupun management yang dikelola kelompok seprofesi.
Maka ketika nama masih besar, uang masih banyak, sering lupa bahwa hari masih panjang. Menurut si ekonom itu, management pengelolaan uang adalah persoalan utama. Ditambah lagi, sulit rasanya membangun kejujuran, misalnya memastikan bahwa sebuah karya yang terus-menerus digunakan, dihargai tak seberapa. Atau malah seringkali ada karya yang menjadi bola liar. Si pemilik karya tak lagi tahu mengejar bayaran karyanya yang beredar ke mana?
Namun yang paling parah lagi, secara profesi kurang ada kesepahaman atau pemikiran untuk membuat sesuatu bagi kepentingan kesejahteraan atau untuk menanggulangi hal-hal darutat.
Maka meringislah Sakti. Dia yang sedikit banyak mengetahui kehidupan Franky karena cukup lama juga berteman, hanya bisa menarik nafas dan mengeluas dada. Sakti merasa bangga teman-teman seniman biasanya melakukan aksi ketika ada seorang seniman bermasalah. Seperti melaksanakan pengumpulan dana untuk Franky semalam dan terkumpul 117 juta rupiah.
Sakti merasa, sudah seharusnya para seniman itu memikirkan diri dan kelompok mereka. Bagaimana hidup mereka sejahtera apalagi di masa tuanya. Bagaimana mereka tidak terpuruk, padahal sebelumnya duduk di singgasana terpuncak.
Sakti ingin, dramatisasi yang muncul ketika seorang seniman sakit bukan pada kisah bagaimana mereka menjadi sangat papa, tak mampu apa-apa. Tapi semua terkelola dengan cantik.
Semoga Franky kembali pulih dan kembali berkarya. Amin. (hmb)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar