Tanggal 9 Maret 2010 tercanang sebagai Hari Musik Indonesia. Dirayakan tentunya. Dengan cara apa? Ini soal. Perayaan hari jadi seperti ini biasanya mensyukuri anugerah, rezeki, keselamatan, kesuksesan dan sebagainya. Kalau mau dibagi dua, layaknya perjalanan hidup, harus dihitung suka dan duka. Dan tentu saja yang kita harap, sukanya lebih banyak.
Dunia musik Indonesia, apakah demikian adanya? Apakah sukanya benar lebih banyak dari dukanya? Nah... Kalau sudah masuk ke pilihan seperti ini, saya yakin musik Indonesia harus diakui masih diselimuti awan duka yang suram. Beberapa tahun belakangan, sosok (fisik) seperti kaset dan CD tak lagi populer di negeri ini. Para pengelola industri musik seperti tak punya jalan keluar dari benturan dengan para pembajak. Fisik benar-benar disikat sama pembajak yang ada di depan mata, jualan terang-terangan, tapi seperti tak tersentuh oleh apapun.
Maka tak heran kalau kemudian apa yang disebut RBT (Ring Back Tone) menjadi primadona. Apalagi secara materi dia menjanjikan. Hitung saja seperti band Wali misalnya, bisa menjual RBT sampai di atas 25 juta. Bego-begoan saja menghitungnya, Wali dapat 1000 perak dari tiap download, maka 25 milyar di tangan.
Yang jadi soal, apakah bermusik hanya mengarah pada tujuan uang? Para pemusik yang beruntung RBT-nya laku keras mungkin puas secara materi, tapi, dengan dipotongnya lagu mereka menjadi 30 detik dari rata-rata satu lagu lebih dari 3 menit, ini menyakitkan. Repot-repot membuat karya panjang, tapi akhirnya penggalan saja yang diminati orang. Sebagai seniman, pastilah ada rasa sakit. Ada ketidakpuasan.
Tapi sekali lagi, pembajak yang merajalela membuat semua berantakan dan para pebisnis industri musik harus berpikir sepuluh kali membuat sesuatu yang sudah pasti dibajak. Bayangkan, para pebisnis musik itu mengeluarkan konsep, tenaga, pikiran, rancangan, dan dana yang tidak sedikit, ketika barangnya sudah jadi, para pembajak membeli satu CD, lalu ''kerjai'', dengan modal penggandaan saja. Menyesakkan.
Padahal, jika dihitung pajak pendapatan pemerintah (apabila bisnis musik ini berjalan normal, bukanlah sesuatu yang bisa dikecilkan).
Selalu ada untung. Para produser musik Indonesia itu ternyata masih terus bergeliat tak putus asa. Bisa jadi kelesuan mereka sekarang ini juga bagian dari strategi. Seperti yang dilakukan salah seorang produser bernama Rahayu Kertawiguna, bos Nagaswara Records, yang bisa dibilang ''raja'' bisnis industri musik saat ini. Meski dari sisi pendapatan RBT luar biasa, Rahayu tak pernah mau kalah ''menghajar'' para pembajak. Terkenal keras dan tegas, berkeliling Indonesia untuk menumpas, memenjarakan para pembajak yang terang-terangan merusak bisnis industri musik di negeri ini.
''Saya tidak pernah takut, karena apa yang saya lakukan adalah membela eksistensi musik Indonesia yang seharusnya berkembang dengan baik. Semua rusak karena ulah para pembajak,'' tutur Rahayu dalam satu perbincangan dengan saya. ''Kita terus bekerjasama dengan pihak penegak hukum terkait untuk memberantas ini,'' tambahnya.
Dalam rangka memperingati Hari Musik Indonesia inilah, Rahayu dengan ratusan artisnya merancang sesuatu. Tepat pada tanggal 9 Maret, Rahayu punya ide gila, mengimbau hari itu menjadi hari tanpa musik. Ini bentuk protes. Semoga saja pihak terkait berkenan seiring sejalan.
Tapi di luar itu, Rahayu juga punya rancangan gebrakan yang bisa membelalakkan mata para pembajak itu. Yang ini belum diberitahu, karena dia ingin pada tanggal 9 Maret, ketika gebrakan itu dilakukan, semua terbelalak.
Kita tunggu, gebrakan Rahayu, dari Nagaswara dan berharap gebrakan dari produser-produser lain. No Music No Life.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar