Mengejutkan! Itu selalu terjadi setiap ada berita kematian. Dan siang ini, kembali rasa itu muncul. Ketika muncul berita si pencipta dan penyanyi balada, Franky Sahilatua telah dipanggil oleh untuk selamanya, menghadap sang Khalik, tepatnya hari ini, Rabu (20/4) pukul 15.15 WIB di RS Medika Permata Hijau, Jakarta Barat.
Franky selama ini memang sedang berjuang melawan kanker yang menyerangnya. Sempat dirawat 7 bulan di Singapura dan menjalani operasi, kemudian dia dibawa pulang. Seminggu lalu dia dilarikan lagi ke rumah sakit dan tak sadarkan diri. Lalu, akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Insan musik dan penikmat musik, dosa besar kalau sampai bilang tak pernah tahu nama Franky Sahilatua. Di era 70-80an, lelaki kelahiran Surabaya tahun 1953 terkenal dengan duetnya bersama Jane, adik kandungnya. Sempat juga bertiga menyanyi dengan adik satunya lagi Johny Sahilatua. Gaya khasnya, menggendong gitar dan memetiknya sambil menyanyikan lagu-lagu balada ciptaannya, menjadi ingatan tersendiri untuk kita.
Sebagai seniman musik, Franky tergolong cukup sederhana. Pernah mengajak keluarganya menempati sebuah rumah (dalam kurun waktu yang cukup panjang) di bilangan Bintaro, sebelum menempati rumah sendiri sekarang ini, banyak pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Masalahnya rumah itu selalu kebanjiran. Tapi dengan tenang dan melemparkan senyum Franky mengatakan selalu menikmati suasa itu. Dia malah mengaku bisa membuat lagu ketika berada di atap rumah, sementara bagian bawah rumahnya terendam.
Humoris, tapi kerap juga sangat serius. Itulah sosok pencipta lagu fenomenal Kemesraan ini. Dia selalu menempatkan diri sebagai ''yang melayani''. Penulis pernah datang ke rumahnya beberapa tahun lalu. Mengajaknya membuat sebuah lagu bareng-bareng. Dengan santai dia mengambil gitar dan langsung memulai tawaran itu.
Di era 90-an, Franky juga cukup dekat dengan petinggi, termasuk Gus Dur. Anak Ambon yang kental berlogat Surabaya ini memang cepat dekat dengan orang. Tetapi dengan para petinggi itu justru dia lakukan ketika dia mulai menggeser karya-karyanya ke posisi yang lebih fokus, melihat dan memotret penyakit-penyakit sosial yang berkembang pesat di sekelilingnya.
Ketika reformasi berlangsung dia juga membuat sebuah grup yang manggung dari kampus ke kampus.
Ini berarti, Franky memang hidup di segala era. Dia aktual di segala masa. Hanya saja, penyakit yang dideritanya sepertinya terlalu kuat untuk ditahan, dan akhirnya membawanya pergi untuk selamanya. Selamat jalan, Bung Franky. Semoga damai di sisi Tuhan. Amin.
Mari berbagi berita, kabar terkini, ulasan peristiwa apa saja. Pasti menyenangkan.
Rabu, 20 April 2011
Senin, 18 April 2011
Balada si Norman
Pagi ini, Selasa (19/4), Briptu Norman, anggota Brimob Gorontalo yang menggemparkan itu pulang kampung. Saking lelahnya, di pesawat dia menghabiskan waktu perjalanan dengan tidur. Lelah. Ya, sepanjang lawatan ke Jakarta, hampir tidak ada waktu kosong untuk berleha-leha. Tur televisi, diundang sana-sini lengkap dengan mendapat hadiah bermacam-macam, mulai dari motor sampai beasiswa.
Bisa jadi, bagi institusi kepolisian, menghumbar Norman di media sudah saatnya dihentikan. Kemampuan Norman menyanyi dan menari, sudah harus dikonsentrasikan pada posisi yang pas, yakni, seperti falsafah institusi kepolisian soal kemitraan dengan masyarakat. Orang-orang seperti Norman harus dimaksimalkan di sana. Konkret. Ketika urusan kemitraan itu dikedepankan, Norman-Norman yang ada di institusi kepolisian bisa menjadi kembang-kembangnya.
Apapun, Norman tetap anggota polisi. Yang mempunyai tugas dan tanggungjawab yang sangat jelas dan pasti. Itu yang utama. Bahwa kemudian ada pergeseran pemanfaatan, itu menjadi tugas dan tanggungjawab alias beban berikutnya.
Kehadiran Norman dalam waktu yang singkat, cukuplah mencairkan suasana. Pilihan kebijakan kepolisian cukup tepat. Garis penegasan kemitraan untuk menghilangkan batasan-batasan, sangatlah terasa.
Maka kalau sekarang Norman ''dipulangkan'', pastilah pihak kepolisian menganggap ini bisa 'over expose''. Norman seperti dikembalikan ke dunia nyatanya. Pulang kampung, menghadapi keseharian seperti biasanya, dan pasti jauh lebih tenang. Meski, ketika tugas itu ''bisa saja'' terulang kerika dibutukan, pastilah Norman akan berdiri tegak lagi.
Bisa jadi, bagi institusi kepolisian, menghumbar Norman di media sudah saatnya dihentikan. Kemampuan Norman menyanyi dan menari, sudah harus dikonsentrasikan pada posisi yang pas, yakni, seperti falsafah institusi kepolisian soal kemitraan dengan masyarakat. Orang-orang seperti Norman harus dimaksimalkan di sana. Konkret. Ketika urusan kemitraan itu dikedepankan, Norman-Norman yang ada di institusi kepolisian bisa menjadi kembang-kembangnya.
Apapun, Norman tetap anggota polisi. Yang mempunyai tugas dan tanggungjawab yang sangat jelas dan pasti. Itu yang utama. Bahwa kemudian ada pergeseran pemanfaatan, itu menjadi tugas dan tanggungjawab alias beban berikutnya.
Kehadiran Norman dalam waktu yang singkat, cukuplah mencairkan suasana. Pilihan kebijakan kepolisian cukup tepat. Garis penegasan kemitraan untuk menghilangkan batasan-batasan, sangatlah terasa.
Maka kalau sekarang Norman ''dipulangkan'', pastilah pihak kepolisian menganggap ini bisa 'over expose''. Norman seperti dikembalikan ke dunia nyatanya. Pulang kampung, menghadapi keseharian seperti biasanya, dan pasti jauh lebih tenang. Meski, ketika tugas itu ''bisa saja'' terulang kerika dibutukan, pastilah Norman akan berdiri tegak lagi.
Kamis, 14 April 2011
Kematian Tak Pernah Terduga
Seorang teman pencipta lagu tengah main catur dan bercengkerama dengan temannya. Tiba-tiba dia merasa sesak nafas. Karena nggak kunjung hilang (walau dia sangka awalnya hanya masuk angin) temannya memaksa membawanya ke rumah sakit.
Kawan yang bernama Arie Wibowo pencipta dan penyanyi Singkong dan Keju, satu lagi Madu dan Racun yang ngetop di akhir 70-an diboyong ke RS Islam Jakarta (Kamis, 14/4). Nyawa Arie tak terselamatkan. Ternyata serangan jantunglah yang menerkam lelaki berusia 59 tahun itu.
Arie Wibowo yang begitu aktif di dunia musik di era 80-an sudah sejak lama berperang melawan penyakit. Kepada saya dlam beberapa kali ketemuan dan berbincang, dia sering menceritakan bagaimana dia berperang melawan diabetes. Arie memberitahukan pola pengobatan dan obat-obat yang dikonsumsinya untuk itu. Mulai dari obat dokter, sampai obat alternatif. Bahkan Arie berjanji membagi obat diabetes tradisional. Hanya karena kesibukan dan jarang ketemu lagi, tak kesampaian.
Itu bukan soal. Yang menjadi soal adalah, kita akhirnya kehilangan satu lagi insan musik yang pernah menorehkan karya yang fenomenal di blantika musik Indonesia. Ketika Glodok menjadi pusat musik, pendiri grup Bill Brod ini menjadi salah seorang pentolan, khususnya di kalangan pencipta dan produser.
Arie tak pernah berhenti mengurusi dunia musik. Berkarya jalan terus. Setidaknya di tahun ini, dia menelorkan satu rekaman di bawah bendera Nagaswara. Dia ditemani dua dara temuannya. Lalu dia juga belakangan sibuk mengurusi acara-acara musik 80-an, khususnya di Medan yang melaksanakannya tiap bulan.
Arie, bukan hanya selalu semangat memikirkan musik, tapi juga semangat melawan penyakit. Tapi tetap saja, tidak ada yang pernah bisa menebak hadirnya kematian. Dan, kemarin, dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Selamat jalan Arie, semoga mendapat tempat di sisi Allah SWT.
Kawan yang bernama Arie Wibowo pencipta dan penyanyi Singkong dan Keju, satu lagi Madu dan Racun yang ngetop di akhir 70-an diboyong ke RS Islam Jakarta (Kamis, 14/4). Nyawa Arie tak terselamatkan. Ternyata serangan jantunglah yang menerkam lelaki berusia 59 tahun itu.
Arie Wibowo yang begitu aktif di dunia musik di era 80-an sudah sejak lama berperang melawan penyakit. Kepada saya dlam beberapa kali ketemuan dan berbincang, dia sering menceritakan bagaimana dia berperang melawan diabetes. Arie memberitahukan pola pengobatan dan obat-obat yang dikonsumsinya untuk itu. Mulai dari obat dokter, sampai obat alternatif. Bahkan Arie berjanji membagi obat diabetes tradisional. Hanya karena kesibukan dan jarang ketemu lagi, tak kesampaian.
Itu bukan soal. Yang menjadi soal adalah, kita akhirnya kehilangan satu lagi insan musik yang pernah menorehkan karya yang fenomenal di blantika musik Indonesia. Ketika Glodok menjadi pusat musik, pendiri grup Bill Brod ini menjadi salah seorang pentolan, khususnya di kalangan pencipta dan produser.
Arie tak pernah berhenti mengurusi dunia musik. Berkarya jalan terus. Setidaknya di tahun ini, dia menelorkan satu rekaman di bawah bendera Nagaswara. Dia ditemani dua dara temuannya. Lalu dia juga belakangan sibuk mengurusi acara-acara musik 80-an, khususnya di Medan yang melaksanakannya tiap bulan.
Arie, bukan hanya selalu semangat memikirkan musik, tapi juga semangat melawan penyakit. Tapi tetap saja, tidak ada yang pernah bisa menebak hadirnya kematian. Dan, kemarin, dia menghembuskan nafas terakhirnya.
Selamat jalan Arie, semoga mendapat tempat di sisi Allah SWT.
Selamat Jalan Sang Maha Guru
Pak Ros, begitu ia akrab dipanggil, Nama panjangnya, Haji Rosihan Anwar. Siapa yang tak tahu nama putra Minang yang menggeluti dunia jurnalistik sejak usia berkepala dua itu? Tulisannya yang bersahaja, nakal, tidak membungkus-bungkus, adalah khas yang selalu menarik. Perjalan hingga usianya 89 (saat meninggal hari Kamis, 14/4/2011) cukup dipenuhi pengalaman dan catatan-catatan sejarah. Maka sang budayawan dan sejarawan ini, di dunia jurnalistik bukan hanya dipanggil senior, tapi juga yang dipanuti.
Dalam satu kesempatan berbincang, Pak Ros mengatakan kesehatannya terjaga karena dia terus dan terus menulis, membaca dan berolahraga. Menulis membuat otaknya terus bekerja dan membaca membuat ingatannya terus kuat. Itu menurut dia.
Maka Pak Ros adalah orang yang rajin menulis obituari, ketika pejabat atau tokoh meninggal. Selalu ada yang berbeda dalam tulisannya, karena dia mengingat banyak hal. Dia mencatat banyak peristiwa terkait dengan apa atau siapa yang ditulisnya.
Hingga akhir hayatnya, Pak Ros tetap menulis. Dengan mesin ketik tuanya. Walau ada yang menghadihinya komputer, dia tidak pernah mau menggunakan selain mesin tik tua. Alasannya, seni menulis dan semangatnya justru membludak ketika mendengar bunyi tak tik tak tik itu. Tapi di sisi lain dia pernah juga menyebutkan, mengtik seperti itu juga menjadi obat. Setidaknya kekerasan jari yang ditekankan ke huruf-huruf (tuts) mesin ketik akan selalu menjadi semacam olahraga yang mengusik saraf-saraf di ujung jarinya.
Cinta adalah landasan dan dasar Pak Ros menjalankan profesinya. Karena cinta itu pulalah dia selalu menerima apapun hasilnya. Falsafah menjalankan profesi menulisnya adalah seperti judul buku yang ditulisnya di tahun 1983, Menulis di Atas Air. Tak perah berbekas karena selalu ada aktualitas yang baru, bukan masalah. Tapi seperti dia pernah bilang kepada penulis, ketinggalan aktualitas atau ketidakmampuan mencari kelengkapan sebuah peristiwa adalah aib dan duka bagi seorang yang mengaku wartawan.
Banyak yang bisa dipelajari dari Pak Ros, khususnya bagi orang-orang yang berprofesi sebagai jurnalis atau penulis. Ketekunan dan keuletannya menggali banyak bahan selalu menjadi kekuatan dalam tulisan-tulisannya. Keliarannya menggiring sebuah tema ke satu titik yang luar biasa, pun didapatkannya karena itu.
Maka tak ada kalimat lain yang bisa terucap selain, Selamat Jalan Sang Mahaguru!
Dalam satu kesempatan berbincang, Pak Ros mengatakan kesehatannya terjaga karena dia terus dan terus menulis, membaca dan berolahraga. Menulis membuat otaknya terus bekerja dan membaca membuat ingatannya terus kuat. Itu menurut dia.
Maka Pak Ros adalah orang yang rajin menulis obituari, ketika pejabat atau tokoh meninggal. Selalu ada yang berbeda dalam tulisannya, karena dia mengingat banyak hal. Dia mencatat banyak peristiwa terkait dengan apa atau siapa yang ditulisnya.
Hingga akhir hayatnya, Pak Ros tetap menulis. Dengan mesin ketik tuanya. Walau ada yang menghadihinya komputer, dia tidak pernah mau menggunakan selain mesin tik tua. Alasannya, seni menulis dan semangatnya justru membludak ketika mendengar bunyi tak tik tak tik itu. Tapi di sisi lain dia pernah juga menyebutkan, mengtik seperti itu juga menjadi obat. Setidaknya kekerasan jari yang ditekankan ke huruf-huruf (tuts) mesin ketik akan selalu menjadi semacam olahraga yang mengusik saraf-saraf di ujung jarinya.
Cinta adalah landasan dan dasar Pak Ros menjalankan profesinya. Karena cinta itu pulalah dia selalu menerima apapun hasilnya. Falsafah menjalankan profesi menulisnya adalah seperti judul buku yang ditulisnya di tahun 1983, Menulis di Atas Air. Tak perah berbekas karena selalu ada aktualitas yang baru, bukan masalah. Tapi seperti dia pernah bilang kepada penulis, ketinggalan aktualitas atau ketidakmampuan mencari kelengkapan sebuah peristiwa adalah aib dan duka bagi seorang yang mengaku wartawan.
Banyak yang bisa dipelajari dari Pak Ros, khususnya bagi orang-orang yang berprofesi sebagai jurnalis atau penulis. Ketekunan dan keuletannya menggali banyak bahan selalu menjadi kekuatan dalam tulisan-tulisannya. Keliarannya menggiring sebuah tema ke satu titik yang luar biasa, pun didapatkannya karena itu.
Maka tak ada kalimat lain yang bisa terucap selain, Selamat Jalan Sang Mahaguru!
Selasa, 12 April 2011
Awas!
Seorang teman mengirim pesan kepada saya. Cuma satu kata: Awas!
Awalnya saya pikir, salah apa saya sama teman satu ini, kok tiba-tiba mengancam? Karena penasaran, saya menghubunginya. Dia ketawa-ketawa. ''Saya cuma mengingatkan. Sekarang ini kita harus ''awas''. Lihat-lihat tempat, kalau memang tidak bisa menghilangkan ''tabiat'' alias hobi.
Maksudnya?
Si Norman yang polisi itu, untung saja malah ngetop ketika rekaman video menyanyi Indianya diunduh orang ke youtube. Tapi seorang anggota DPR yang kepergok nonton blue film di ruang rapat kantor wakil rayat di Senayan itu?
Ya ya... Awas! Di segala sudut sekarang ini ada mata. Ada kemudahan teknologi yang bisa mencelakakan. Kalau beberapa seperti Justin Bieber masuk youtube malah terkenal sedunia, bayangkan apa yang terjadi kalau kekonyolan kita yang diunduh ''entah siapa'' ke dunia maya itu? Sudah banyak contoh.
Maka yang paling benar adalah, bagaimana kita berusaha menghindarkan ''yang nggak-nggak''. Dengan begitu, kita nggak perlu ''awas'' kenakalan atau keisengan yang berdampak mencoreng nama dan muka kita jadi tontonan orang banyak.
Awas!
Awalnya saya pikir, salah apa saya sama teman satu ini, kok tiba-tiba mengancam? Karena penasaran, saya menghubunginya. Dia ketawa-ketawa. ''Saya cuma mengingatkan. Sekarang ini kita harus ''awas''. Lihat-lihat tempat, kalau memang tidak bisa menghilangkan ''tabiat'' alias hobi.
Maksudnya?
Si Norman yang polisi itu, untung saja malah ngetop ketika rekaman video menyanyi Indianya diunduh orang ke youtube. Tapi seorang anggota DPR yang kepergok nonton blue film di ruang rapat kantor wakil rayat di Senayan itu?
Ya ya... Awas! Di segala sudut sekarang ini ada mata. Ada kemudahan teknologi yang bisa mencelakakan. Kalau beberapa seperti Justin Bieber masuk youtube malah terkenal sedunia, bayangkan apa yang terjadi kalau kekonyolan kita yang diunduh ''entah siapa'' ke dunia maya itu? Sudah banyak contoh.
Maka yang paling benar adalah, bagaimana kita berusaha menghindarkan ''yang nggak-nggak''. Dengan begitu, kita nggak perlu ''awas'' kenakalan atau keisengan yang berdampak mencoreng nama dan muka kita jadi tontonan orang banyak.
Awas!
Selasa, 05 April 2011
Promo Gila!
Seorang artis menghubungi saya, minta saran atas persoalan yang tiba-tiba dihadapinya. Kocak awalnya, tapi ketika dipikir-pikir, ini persoalan ''genit'' yang nggak karuan.
''Seorang produser film menghubungi saya. Dia baru memproduksi film judulnya Guna-Guna Celana Dalam. Sang produser mengatakan, idenya terinspirasi dari masa lalu saya,'' kata si artis.
Apa yang menjadi soal?
''Bertahun-tahun saya memperbaiki diri, mengembalikan nama baik saya dari kasus yang pernah terjadi. Masa lalu itu sudah saya kubur dalam-dalam. Saya sudah mempunyai kehidupan baru, tapi kok malah diungkit dengan cara seperti ini?'' si artis memelas.
Saya cuma bisa mengernyitkan dahi. Di satu sisi, peristiwa itu memang pernah terjadi. Di sisi lain, peristiwa yang ''menyakitkan'' dan menorehkan luka dalam hidup si artis itu, sama sekali tak pernah ingin dikenangnya, bahkan dibicarakan pun tidak.
Pelik ini persoalan. Kalau saja si produser tidak mengatakan ide film itu terinspirasi dari kasus si artis, mungkin tak jadi soal. Tapi kalau diomongkan seperti itu, maksudnya apa?
Saya langsung memutar otak. Saya bilang sama si artis, ''Gampangnya, si produser ini bukan hanya ingin cerita kepada kamu. Tapi dia berharap kamu bereaksi. Reaksi kamu, apapun itu, apalagi kalau itu di dengar wartawan, akan menjadi berita, dan berita itu menjadi promosi filmnya.''
Bah! Sekarang ini memang gaya promosi aneh-aneh. Makin menggila. Kita ingat bagaimana Julia Perez dan Dewi Perssik berperang, selama syuting sebuah film yang mereka bintangi berdua, berita cakar-cakaran terus menjadi santapan, seperti dikelola dengan baik.
Pikir saya, apakah memang sudah begini keadaannya? Apakah sudah biasa mengorbankan orang lain untuk kepentingan sendiri? Bah! Saya nggak punya kata-kata lagi.
''Seorang produser film menghubungi saya. Dia baru memproduksi film judulnya Guna-Guna Celana Dalam. Sang produser mengatakan, idenya terinspirasi dari masa lalu saya,'' kata si artis.
Apa yang menjadi soal?
''Bertahun-tahun saya memperbaiki diri, mengembalikan nama baik saya dari kasus yang pernah terjadi. Masa lalu itu sudah saya kubur dalam-dalam. Saya sudah mempunyai kehidupan baru, tapi kok malah diungkit dengan cara seperti ini?'' si artis memelas.
Saya cuma bisa mengernyitkan dahi. Di satu sisi, peristiwa itu memang pernah terjadi. Di sisi lain, peristiwa yang ''menyakitkan'' dan menorehkan luka dalam hidup si artis itu, sama sekali tak pernah ingin dikenangnya, bahkan dibicarakan pun tidak.
Pelik ini persoalan. Kalau saja si produser tidak mengatakan ide film itu terinspirasi dari kasus si artis, mungkin tak jadi soal. Tapi kalau diomongkan seperti itu, maksudnya apa?
Saya langsung memutar otak. Saya bilang sama si artis, ''Gampangnya, si produser ini bukan hanya ingin cerita kepada kamu. Tapi dia berharap kamu bereaksi. Reaksi kamu, apapun itu, apalagi kalau itu di dengar wartawan, akan menjadi berita, dan berita itu menjadi promosi filmnya.''
Bah! Sekarang ini memang gaya promosi aneh-aneh. Makin menggila. Kita ingat bagaimana Julia Perez dan Dewi Perssik berperang, selama syuting sebuah film yang mereka bintangi berdua, berita cakar-cakaran terus menjadi santapan, seperti dikelola dengan baik.
Pikir saya, apakah memang sudah begini keadaannya? Apakah sudah biasa mengorbankan orang lain untuk kepentingan sendiri? Bah! Saya nggak punya kata-kata lagi.
Sabtu, 02 April 2011
Odong-Odong
Seorang doktor musik (musikolog) Rizaldi Siagian menulis komentar (menitipkan pesan) di FB saya, mengingatkan bahwa pohon kemenyan di daerah Pakpak, salah satu daerah di Sumatera Utara habis diganti dengan pohon akasia. Sebagai muskolog, konsentrasi pertama Bang Rizaldi tentu saja pada musik. Makanya dia menekankan, Odong-Odong di tanah Pakpak sudah ''kiamat'' karena pohon kemenyan dihabisi.
Apa hubungan pohon kemenyan dengan Odong-Odong?
Bagi orang Pakpak, mencari getah kemenyan adalah salah satu mata pencarian. Biasanya, seorang ayah berangkat mengumpulkan getah kemenyan (istilahnya ''mrkemenjn'') dan memakan waktu berhari-hari atau malah bisa berminggu di hutan belantara. Selama di hutan belantara itu, tak ada yang dikerjakan selain mrkemenjn. Memanjat pohon kemenyan yang tinggi, duduk di dahan yang kokoh, memukul-mukulkan pisau khusus atau mencongkel getah kemenyan dari batang pohon dan memasukkannya ke ucang-ucang (kerancjang yang digendong).
Entah bagaimana asal-usulnya, istilah Odong-Odong muncul, dan dia menjadi bagian dari kesenian ttradisional Pakpak. Odong-Odong adalah nyanyian yang dilantunkan prkemenjn dari atas pohon. Musiknya adalah ketukan pisau di batang pohon. Suara lantang berligato-ligato, menyuarakan semua perasaan sang prkemenjn selama di hutan. Impiannya, harapannya, rasa rindunya kepada anak istri, semua dituang dalam Odong-Odong.
Secara resmi, saya sendiri baru sekali mendengar Odong-Odong (pada sebuah pertunjukan kesenian Pakpak di TMII. Seorang anggota dewan Pakpak Bharat bermarga Manik yang ternyata seniman tulen melantunkannya dalam sebuah adegan. Luar biasa.
Lha, saya yang asli orang Pakpak saja baru sekali mendengarnya, bagaimana dengan yang bukan Pakpak?
Saya pernah bilang, kok Odong-Odong yang begitu terkenal itu seperti tak berwujud? Seperti sebuah legenda yang kita dengar hanya dari cerita? Padahal dia nyanyian. Padahal dia terdiri dari susunan notasi dan rangkaian kata-kata yang seharusnya bisa dihafalkan.
Saya pernah mencoba menghubungi sang seniman dan meminta contoh lirik Odong-Odong. entah kenapa, sudah bertahun-tahun, itu tak pernah saya dapatkan. Saya cuma bisa tersenyum saja.
Kesenian Pakpak, entah kenapa seperti menjadi sesuatu yang eksklusif untuk orang tertentu saja. Mungkin juga karena tidak memikirkan atau paham bagaimana melestarikan dan membuatnya menjadi sesuatu yang dimiliki turun-temurun. Itu juga terjadi pada kesenian populernya. Ketika lagu-lagu pop daerah menasional, lagu-lagu Pakpak menjadi bagian yang cuma berkutat di ''regional''. Pembicaraan pembangunan di daerah Pakpak sangat kurang menyentuh ''kesenian''. Saya berani mengatakan itu karena buktinya tidak ada yang ''mumbul'' alias tampak ke permukaan. Tidak ada yang dibicarakan orang banyak, selain orang-orang Pakpak sendiri yang mengulasnya.
Apa yang diucapkan sang musikolog kepada saya adalah cambuk. Secara kasat mata, pohon kemenyan memang tempat menyanyikan Odong-Odong. Tapi sebagai bagian dari kesenian, dia seharusnya bisa muncul di mana-mana. menjadi kekayaan yang luar biasa.
Pagi ini, saya menahan amarah, hati saya merintih. Sebagai putra Pakpak asli, tak pernah paham ke mana mencari akar-akar kesenian seperti ini. Atau dia akan berhenti menjadi milik orang-orang sebelumnya, dan kepada generasi mudahnya tinggal cerita?
Ong ko lbbe tbbu-tbbu mberengggggg.... ko tbbu-tbbu mbaraaaaa, eamale....
Otang kabang-kabang mi urang julu ko lbbe manuk-manuk......
(potongan lirik Odong-Odong yang pernah saya dengar dan dinyanyikan meliuk-liuk, dan begitu seksi.)
Benarkah Odong-Odong akan lenyap dan tinggal cerita?
Apa hubungan pohon kemenyan dengan Odong-Odong?
Bagi orang Pakpak, mencari getah kemenyan adalah salah satu mata pencarian. Biasanya, seorang ayah berangkat mengumpulkan getah kemenyan (istilahnya ''mrkemenjn'') dan memakan waktu berhari-hari atau malah bisa berminggu di hutan belantara. Selama di hutan belantara itu, tak ada yang dikerjakan selain mrkemenjn. Memanjat pohon kemenyan yang tinggi, duduk di dahan yang kokoh, memukul-mukulkan pisau khusus atau mencongkel getah kemenyan dari batang pohon dan memasukkannya ke ucang-ucang (kerancjang yang digendong).
Entah bagaimana asal-usulnya, istilah Odong-Odong muncul, dan dia menjadi bagian dari kesenian ttradisional Pakpak. Odong-Odong adalah nyanyian yang dilantunkan prkemenjn dari atas pohon. Musiknya adalah ketukan pisau di batang pohon. Suara lantang berligato-ligato, menyuarakan semua perasaan sang prkemenjn selama di hutan. Impiannya, harapannya, rasa rindunya kepada anak istri, semua dituang dalam Odong-Odong.
Secara resmi, saya sendiri baru sekali mendengar Odong-Odong (pada sebuah pertunjukan kesenian Pakpak di TMII. Seorang anggota dewan Pakpak Bharat bermarga Manik yang ternyata seniman tulen melantunkannya dalam sebuah adegan. Luar biasa.
Lha, saya yang asli orang Pakpak saja baru sekali mendengarnya, bagaimana dengan yang bukan Pakpak?
Saya pernah bilang, kok Odong-Odong yang begitu terkenal itu seperti tak berwujud? Seperti sebuah legenda yang kita dengar hanya dari cerita? Padahal dia nyanyian. Padahal dia terdiri dari susunan notasi dan rangkaian kata-kata yang seharusnya bisa dihafalkan.
Saya pernah mencoba menghubungi sang seniman dan meminta contoh lirik Odong-Odong. entah kenapa, sudah bertahun-tahun, itu tak pernah saya dapatkan. Saya cuma bisa tersenyum saja.
Kesenian Pakpak, entah kenapa seperti menjadi sesuatu yang eksklusif untuk orang tertentu saja. Mungkin juga karena tidak memikirkan atau paham bagaimana melestarikan dan membuatnya menjadi sesuatu yang dimiliki turun-temurun. Itu juga terjadi pada kesenian populernya. Ketika lagu-lagu pop daerah menasional, lagu-lagu Pakpak menjadi bagian yang cuma berkutat di ''regional''. Pembicaraan pembangunan di daerah Pakpak sangat kurang menyentuh ''kesenian''. Saya berani mengatakan itu karena buktinya tidak ada yang ''mumbul'' alias tampak ke permukaan. Tidak ada yang dibicarakan orang banyak, selain orang-orang Pakpak sendiri yang mengulasnya.
Apa yang diucapkan sang musikolog kepada saya adalah cambuk. Secara kasat mata, pohon kemenyan memang tempat menyanyikan Odong-Odong. Tapi sebagai bagian dari kesenian, dia seharusnya bisa muncul di mana-mana. menjadi kekayaan yang luar biasa.
Pagi ini, saya menahan amarah, hati saya merintih. Sebagai putra Pakpak asli, tak pernah paham ke mana mencari akar-akar kesenian seperti ini. Atau dia akan berhenti menjadi milik orang-orang sebelumnya, dan kepada generasi mudahnya tinggal cerita?
Ong ko lbbe tbbu-tbbu mberengggggg.... ko tbbu-tbbu mbaraaaaa, eamale....
Otang kabang-kabang mi urang julu ko lbbe manuk-manuk......
(potongan lirik Odong-Odong yang pernah saya dengar dan dinyanyikan meliuk-liuk, dan begitu seksi.)
Benarkah Odong-Odong akan lenyap dan tinggal cerita?
Jumat, 01 April 2011
Tuliskan Saja, Pasti Bisa!
Seorang anak muda datang menemui saya. Begitu antusias meminta saya mengajarinya menulis. Saya bilang, bukannya kamu sudah bisa menulis?
''Saya mau jadi pengarang, Om,'' jawabnya.
Jadi pengarang? Saya mengernyitkan kening. ''Bukankah sekarang jadi pengarang jauh lebih gampang? Kamu menulis status di twitter, bikin status di facebook, menulis di blog pribadi, beres,'' jawab saya.
''Ya, cuma memulai menulis itu seperti apa?'' tanyanya.
Menulis, mengarang, ya, pasti sangat nikmat. Bahkan seorang penulis andal, Rosihan Anwar pernah bilang, menulis (dan membaca) itu bagian dari ''obat'' yang membuat dirinya sehat sampai usia kepala 8 saat ini. Dengan mesin tik tua, Pak Ros, begitu kami biasa memanggil wartawan senior itu setiap hari pasti menulis. Apa saja.
Mengarang itu gampang, kata Arswendo Atmowiloto. Bukan hanya diomongkan, tapi dia malah pernah menulis buku dengan judul itu. Saya pernah membuat puisi Mas Wendo menjadi sebuah lagu yang dipakai di acara tayangan TVRI di akhir 80-an dengan judul yang sama, Mengarang Itu Gampang, yang dipandu Ms Wendo sendiri.
Tuliskan saja/ Jangan ditunda....
......
Mengarang itu gampang/ asal mau...
Menulis puisi gampang sekali/ Asal dicoba pasti bisa....
Begitulah. Saya bilang kepada anak yang menemui saya, bahwa dia sudah punya modal awal, kemauan. Langkah berikutnya adalah ''keinginan'' menulis apa?
Tapi yang pasti saya tidak ingin meribetkan pikirannya. Saya meringankannya dengan, ''Sudah, kamu mulai saja. Tulis apa saja apa yang kamu mau. Baca lagi. Kasih juga dibaca teman-teman. Apapun komentar mereka, dengar saja.
Coba kirim ke media. Nggak dimuat nggak apa-apa. Coba lagi. Bikin pula blog pribadi, atau tulis di mana sajalah. Yang paling penting, menulislah setiap saat.
Saya tetap menggiringnya pada logika. Bagaimana menentukan tema. Bagaimana membuat kerangka awal, bagaimana menyusun irama tulisan, bagaimana memilih judul, dan sebagainya. Dia mencamkan dengan baik (semoga).
Dari semua pembicaraan, ada yang hampir lupa saya tekankan kepada kawan muda satu ini, ''Menulislah dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.'' Ini kayaknya yang paling penting ingin saya omongkan. Dengan alasan komunikatif, seringkali orang menulis seenak udel. Mengacak-acak tatakrama berbahasa Indonesia, merusak struktur kalimat dan lain sebagainya.
Ampun dah!
''Saya mau jadi pengarang, Om,'' jawabnya.
Jadi pengarang? Saya mengernyitkan kening. ''Bukankah sekarang jadi pengarang jauh lebih gampang? Kamu menulis status di twitter, bikin status di facebook, menulis di blog pribadi, beres,'' jawab saya.
''Ya, cuma memulai menulis itu seperti apa?'' tanyanya.
Menulis, mengarang, ya, pasti sangat nikmat. Bahkan seorang penulis andal, Rosihan Anwar pernah bilang, menulis (dan membaca) itu bagian dari ''obat'' yang membuat dirinya sehat sampai usia kepala 8 saat ini. Dengan mesin tik tua, Pak Ros, begitu kami biasa memanggil wartawan senior itu setiap hari pasti menulis. Apa saja.
Mengarang itu gampang, kata Arswendo Atmowiloto. Bukan hanya diomongkan, tapi dia malah pernah menulis buku dengan judul itu. Saya pernah membuat puisi Mas Wendo menjadi sebuah lagu yang dipakai di acara tayangan TVRI di akhir 80-an dengan judul yang sama, Mengarang Itu Gampang, yang dipandu Ms Wendo sendiri.
Tuliskan saja/ Jangan ditunda....
......
Mengarang itu gampang/ asal mau...
Menulis puisi gampang sekali/ Asal dicoba pasti bisa....
Begitulah. Saya bilang kepada anak yang menemui saya, bahwa dia sudah punya modal awal, kemauan. Langkah berikutnya adalah ''keinginan'' menulis apa?
Tapi yang pasti saya tidak ingin meribetkan pikirannya. Saya meringankannya dengan, ''Sudah, kamu mulai saja. Tulis apa saja apa yang kamu mau. Baca lagi. Kasih juga dibaca teman-teman. Apapun komentar mereka, dengar saja.
Coba kirim ke media. Nggak dimuat nggak apa-apa. Coba lagi. Bikin pula blog pribadi, atau tulis di mana sajalah. Yang paling penting, menulislah setiap saat.
Saya tetap menggiringnya pada logika. Bagaimana menentukan tema. Bagaimana membuat kerangka awal, bagaimana menyusun irama tulisan, bagaimana memilih judul, dan sebagainya. Dia mencamkan dengan baik (semoga).
Dari semua pembicaraan, ada yang hampir lupa saya tekankan kepada kawan muda satu ini, ''Menulislah dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.'' Ini kayaknya yang paling penting ingin saya omongkan. Dengan alasan komunikatif, seringkali orang menulis seenak udel. Mengacak-acak tatakrama berbahasa Indonesia, merusak struktur kalimat dan lain sebagainya.
Ampun dah!
Langganan:
Komentar (Atom)







