Mari berbagi berita, kabar terkini, ulasan peristiwa apa saja. Pasti menyenangkan.
Kamis, 24 Februari 2011
Daun Berzikir (Pesan dari kaki gunung Salak)
……..
Tergetar rindu kampung halamanku
Yang telah punah ditelan bencana
Insan serakah dengan keganasan
Penuh nafsu menguasai bumi
Selamat pagi tragedi
(Penggalan lirik yang ditulis Remy Soetansyah untuk lagu Selamat Pagi Tragedi, album Anak Asuhan Rembulan (Peterson), band Grassrock, 1991)
Pujilah Tuhan Dengan Menanam Pohon. Kalimat itu tertulis di sebuah poster, bergambarkan Bella Saphira memegang bibit tanaman. Dan, yang membuat slogan itu adalah seorang musisi muda bernama Viky Sianipar.
Belakangan, Viky yang terkenal sebagai musisi yang begitu concern membuat lagu-lagu tradisional Indonesia menjadi santapan dunia, lewat aransemen-aransemen yang memukau, membagi konsentrasinya ke hal lain di luar musik. Dia begitu prihatin melihat tepian Danau Toba yang mulai gersang. Yang mulai sepi pohon. Padahal, pohon adalah juga sumber kehidupan. Pohon memberikan banyak hal untuk kehidupan.
Apa yang dikonsepkan Viky tidaklah berlebihan. Keresahannya sebagai anak bangsa harusnya kita hargai, dan kita dukung sepenuhnya. Dia mencoba menggiring orang untuk serius memberi cinta kepada kehidupan itu, dengan menanam pohon. Satu keluarga menanam satu pohon saja, menurut Viky sudah bisa dibayangkan berapa pohon yang kemudian akan tumbuh sebagai harapan baru.
Di akhir pekan, dua minggu lalu, penulis beruntung menikmati sejuknya angin yang bertiup dari sela-sela daun pepohonan rimbun yang tumbuh, dan terawat dengan baik. Adanya di Cipuray, di kaki gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Di padepokan Pak Tony, seorang lelaki paruh baya yang sudah puluhan tahun menentukan pilihan, hidup di atas tanahnya sekitar 10 hektar di kaki gunung Salak itu, dan berjanji memelihara semua tanaman yang tumbuh di atas tanahnya. Pak Tony yang arsitek, lulusan ITB itu konsisten menjaga janjinya. Dia hanya mendirikan 6 bangunan di atas tanahnya yang luas (bagian dari kaki gunung Salak itu), ditambah sebuah bale-bale di atas sungai tak begitu besar yang mengalir deras, plus satu mushola antik, didirikan dengan menggali/melubangi sebuah batu besar, di kaki bukit. Lalu di tengah gunung, Pak Tony juga membuka lapangan untuk digunakan sebagai tempat latihan fisik, dan nonfisik. Semua fasilitas itu boleh dipergunakan orang luar, tapi jumlahnya maksimal 40 orang. Alasannya adalah, jumlah itu ukuran yang pas untuk mendapatkan udara yang sangat segar, dan segala kebutuhan lain yang dihasilkan tumbuh-tumbuhan yang ada di situ.
Ketika berbincang dengan Pak Tony yang selalu tampil dengan busana hitam-hitam, dan mengenakan ikat kepala batik coklat hitam, lelaki itu begitu bersemangat menceritakan betapa bahagianya dia bergaul dengan hutan. Dengan pepohonan yang dirawatnya dengan baik di atas tanahnya. Dia membayangkan dengan keseimbangan yang dibangun, akhirnya daun-daun pohonan di atas tanahnya bisa berdzikir, memuja Sang Pencipta, karena daun-daun itu merasa disayangi sebagaimana harusnya, dan memberi apa yang dibutuhkan manusia secukupnya, sebagaimana juga seharusnya.
Pak Tony, bisa jadi dikatagorikan orang sebagai orang aneh. Melakukan pekerjaan yang sudah begitu asing di negeri ini. Dia menjadi salah seorang dari segelintir orang yang masih berpikir bahwa alam memberikan banyak hal yang sangat dibutuhkan manusia. Oleh karena itu, manusia harus memelihara alam dengan sungguh-sungguh.
Di negeri kita ini, pencanangan ‘’hijau alamku’’ sering juga terdengar. Tapi hasilnya, kita mendengar kabar terburuk, tahun ini misalnya, yang menduduki posisi teratas perusak hutan di dunia adalah negeri kita. Masya Allah!
Bagaimanapun, dalam hati kecil, kita semua mengakui itu. Fakta yang terjadi sehari-hari, begitu ganasnya orang-orang tak bertanggung jawab merusak, menjarak hutan kita menjadi semakin gundul. Semakin tandus. Yang akhirnya, bencana alam terjadi di mana-mana.
Hampir setiap saat kita menyaksikan petugas yang berwenang menangkap bonggolan kayu bertumpuk-tumpuk, yang dibabat dari hutan, untuk kemudian tujuannya memperkaya orang perorang. Seperti kata pak Tony, kalau kita tidak mencintai alam, tidak memelihara keseimbangan, lama kelamaan alam itu sendiri yang akan menelan kita hidup-hidup.
Apa yang dibayangkan Pak Tony sesungguhnya sudah terjadi. Kita tak perlu mengingatkan berapa banyak bencana alam yang terjadi di negeri ini, dan berapa banyak nyawa yang lenyap sia-sia karena bencana alam itu.
Pak Tony selalu setia menunggu kesadaran kita. Dia terus mengurusi pohon-pohonan di atas tanahnya. Bahkan dia sudah berhasil menambah jenis tanaman 30-an jenis pohon bambu menghiasi pohon-pohon keras yang sudah ada. Dia hidup sehat bersama komunitasnya di tempat itu. Menikmati apa yang seharusnya bisa dinikmati dari tumbuh-tumbuhan itu.
Pohon dibutuhkan untuk penyeimbang, penyaring udara yang jumlahnya sebenarnya sangat terukur dibutuhkan manusia. Maka tak heran kalau Pak Tony mengaku takut datang ke kota, karena takut sesak tak mendapatkan jumlah, serta kejernihan udara yang dia butuhkan, dan dia dapatkan selama hidup di hutan. Dia sendiri tidak ingin ektrem menanggapi itu. Tapi dia benar-benar prihatin, dan berharap orang-orang kota menyadari itu. Orang-orang yang merusak pohon di hutan-hutan menyadari itu.
Maka tak heran, kalau kemudian Pak Tony membayangkan, harus ada orang yang menjadi pelopor, mencanangkan, mengkampanyekan soal kebutuhan tanaman, pohon-pohon itu tadi. Dia membayangkan, kalau semua artis menjadi seperti Viky, yang membagi konsentrasinya berkampanye untuk menanam pohon, itu sangat menarik. Selebriti menurutnya selalu punya fans yang loyal. Yang mengikuti apa kata pujaannya. Nah, kalau selebriti di Indonesia ini 1000 orang (katakanlah begitu), lalu masing-masing punya 1000 fans yang diajak menanam pohon, maka 1 juta pohon dalam satu periode sudah tertanam. Mungkin bukan untuk kita sekarang, tapi setidaknya anak cucu kita kelak terselamatkan dari ancaman alam. Terselamatkan dari malapetaka.
Kegalauan Remy Soetansyah dalam lirik yang ditulisnya untuk lagu Selamat Pagi Tragedi, bisa jadi terobati. Manusia tak serakah lagi menganiaya bumi. Hutan kembali hijau. Ah….
Ketika malam semakin larut, Pak Tony menyilakan penulis menikmati suasana, dan kebersihan udara yang diberikan alam sekitar. Bukan hanya damai, tapi bersihnya udara yang tersembur dari sela-sela dedaunan itu, membuat kerongkongan dan paru-paru sejuk sejenak, sebelum kembali ke sesaknya udara Jakarta. (hmb)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar