Kamis, 24 Februari 2011

Narsis Membawa Bencana

Sakti masih terhenyak di kursi goyangnya. Acara TV yang baru ditontonnya, sudah habis berganti dengan segala macam iklan. Tapi nampak sekali Sakti tidak puas dengan acara yang baru ditontonnya. "Aneh.... gimana acara TV seperti ini bisa disajikan, tanpa ada pengetahuannya sama sekali.." gumam Sakti penasaran.
"Berdebat tidak beraturan...semuanya hanya mengeluarkan pendapat untuk diri sendiri, bukan suatu pencerahan untuk para penontonnya... tidak ada yang bisa dipetik dari talkshow ini...." bisik hati Sakti gelisah sambil menghirup sisa kopi pahitnya. "Tau hanya gini acaranya... mending tadi ikut nemani dua ponakan ke Jakarta Fair...bisa lebih segar dan gembira..." gerutu Sakti sambil bangkit dari kursi goyang, langsung berjalan menuju kamarnya.
Di dalam kamar Sakti malah bingung, ia menggaruk-garuk kepalanya, mengikat rambut sebahunya, perlahan-lahan ia merebahkan tubuhnya di ranjang besinya. Tapi tidak lama ia bangun kembali, duduk di sisi ranjang, keningnya berkerut "Privasi... bagaimana kalau saya membuat foto telanjang saya di kamar mandi... lalu HP saya itu dicuri...."
Sakti mengingat-ingat kata-kata dari seorang tokoh peranan wanita, dalam acara talkshow yang baru ditontonnya..."Ngapain foto dirinya sendiri, telanjang di kamar mandi? Iseng sekali....Apa tidak ada kerjaan lain?" cetus bathin Sakti semakin penasaran. Dahinya berkerut-kerut untuk mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri. Tiba-tiba wajah Sakti bercahaya, ia seperti menemukan jawaban arti pertanyaannya... "Narsisisme!!!" teriak hati Sakti gembira sambil menjentikan jarinya.
Sakti cepat bangkit dari duduknya di ranjang, sehingga ranjang besinya berderit, seperti jerit hatinya yang begitu gembira. Ia cepat membuka laptopnya. "Narsisisme.... hmm... aku harus cari arti dari kata itu...lebih baik aku langsung masuk ke wikipidia..." Sakti nampak bersemangat sekali. Tapi rupanya, koneksi internetnya tidak mau kompromi. Sangat lambat untuk membuka jaringan internet... "Ah....lambat kali....." gerutunya tidak sabar.
Begitu jaringan internet terbuka, Sakti langsung masuk ke link wikipidia, mengetik dengan cepat arti kata yang membuat ia sangat penasaran. Tapi kembali jaringan untuk masuk ke arti kata yang dicarinya, belum juga terbuka. "Woalahhhh....." teriaknya jengkel sambil bangkit dari duduknya, langsung ke luar kamarnya.
Tidak lama, Sakti sudah kembali sambil membawa kopi pahitnya yang masih mengepulkan asap panas. Ia menyeruput kopi panasnya sedikit, bersama itu link kata yang dicarinya terbuka.
"Narsisisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narcissus, yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Tanpa sengaja ia menjulurkan tangannya, sehingga ia tenggelam dan tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis.."
Sakti diam sejenak, keningnya kembali berkerut-kerut berpikir, ia benar-benar ingin menyimak dengan jelas kata demi kata di wikipidia. "Narsisisme bisa membawa bencana untuk diri sendiri....." pikirnya sambil menyeruput kopi pahitnya sedikit.
"Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir, bahkan Andrew Morrison berpendapat bahwa dimilikinya sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain. Narsisisme memiliki sebuah peranan yang sehat dalam artian membiasakan seseorang untuk berhenti bergantung pada standar dan prestasi orang lain demi membuat dirinya bahagia." Sakti mengangguk-angguk kecil, lalu melanjutkan membaca..
"Namun apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis...." Sakti kembali berhenti membaca sambil mengusap wajahnya, menghela nafas sejenak. "patologis...? Apa artinya ya...?" Dengan sigap Sakti langsung mencari arti kata patologis....
"Patologi merupakan cabang bidang kedokteran yang berkaitan dengan ciri-ciri dan perkembangan penyakit melalui analisis perubahan fungsi atau keadaan bagian tubuh. Bidang patologi terdiri atas patologi anatomi dan patologi klinik. Ahli patologi membuat kajian dengan mengkaji organ, sedangkan ahli patologi klinik mengkaji perubahan pada fungsi yang nyata pada fisiologi tubuh...." Sakti menghela nafas panjang, diseruput lagi kopi pahitnya. Tangannya kembali mengetik mencari kata fisiologi.
"Fisiologi, dari kata Yunani physis = 'alam' dan logos = 'cerita', adalah ilmu yang mempelajari fungsi mekanik, fisik, dan biokimia dari makluk hidup. Fisiologi dibagi menjadi fisiologi tumbuhan dan fisiologi hewan tetapi prinsip dari fisiologi bersifat universal, tidak bergantung pada jenis organisme yang dipelajari.
Misalnya, apa yang dipelajari pada fisiologi sel khamir dapat pula diterapkan pada sel manusia. Fisiologi hewan bermula dari metode dan peralatan yang digunakan dalam pembelajaran fisiologi manusia yang kemudian meluas pada specias hewan selain manusia....."
Sakti merenung sejenak, dilihatnya cicak di pojok langit-langit kamarnya, merayap perlahan menangkap nyamuk, tapi ternyata meleset. Bibir Sakti tersenyum melihat cicak yang kecewa tidak dapat makanan..."Cicak kecewa tidak berhasil menangkap nyamuk, manusia kecewa apabila kebutuhan informasi yang ingin diperoleh, justru hanya jadi benang kusut dan serba tidak jelas...." pikirnya, sambil jari-jari tangan mengetuk-ngetuk laptopnya. Sakti kembali melanjutkan membaca tentang Narsisisme...
"......bersifat patologis. Kelainan kepribadian atau bisa disebut juga penyimpangan kepribadian merupakan istilah umum untuk jenis penyakit mental seseorang, dimana pada kondisi tersebut cara berpikir, cara memahami situasi dan kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi normal.
Kondisi itu membuat seseorang memiliki sifat yang menyebabkannya merasa dan berperilaku dengan cara-cara yang menyedihkan, membatasi kemampuannya untuk dapat berperan dalam suatu hubungan. Seseorang yang narsis biasanya memiliki rasa percaya diri yang sangat kuat, namun apabila narsisme yang dimilikinya sudah mengarah pada kelainan yang bersifat patologis, maka rasa percaya diri yang kuat tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk rasa percaya diri yang tidak sehat, karena hanya memandang dirinya lah yang paling hebat dari orang lain tanpa bisa menghargai orang lain...."
Sakti kembali menyeruput kopi pahitnya, bacaan terakhirnya di wikipidia tentang narsisisme telah membuat pikirannya terbuka lebar. Ia merentangkan kedua tangannya, bangkit perlahan dengan bibir tersenyum. Ia langsung melempar tubuhnya di pembaringan, yang membuat ranjang besinya berderit nyaring.
"Memang banyak orang terlalu bangga terhadap diri sendiri.... tidak menghargai orang lain.... sikap narsisisme berlebihan..... seperti juga terjadi pada diri nara sumber wanita di TV tadi... buat foto dirinya, telanjang di kamar mandi.... dalihnya privasi.... foto, video, laptop... bukan tempat aman untuk menyimpan privasi.... uang tabungan di bank saja, bukan lagi privasi..... rumah tangga saja bukan lagi privasi... bila apa yang terjadi di dalam rumah sampai terdengar ke tetangga..... terlebih lagi bila apa yang dianggap privasi, sudah sampai ke tangan orang lain..... sikap narsisisme yang berlebihan.... ini sebuah penyakit manusia...." bibir Sakti tersenyum puas, seakan seluruh masalah yang dihadapi hari ini, mulai dari nonton TV acara talkshow, sampai kepada kasus video mesum, yang membuat ia kelabakan untuk menjaga dua ponakannya supaya jangan sampai nonton tayangan tersebut.
"hmm.... kini jelas sudah... yang perlu dijaga... sikap mementingkan diri sendiri, bangga terhadap diri sendiri, harus bisa menghargai orang lain... dan tentu juga menjaga kehormatan diri sendiri, jangan sampai berbuat bodoh....." cetus bathin Sakti sambil mengelus dagunya. Ia tiba-tiba tersentak kaget, ketika terdengar suara mobil masuk halaman rumah "hmm...itu tentu dua ponakanku baru pulang..." cetusnya sambil bangkit ke luar kamar.
Begitu Sakti membuka pintu depan rumah, kedua ponakan yang masih kecil-kecil itu langsung merangkul, "Oom... oom.... lihat... fotonya bagus-bagus...." teriak kedua ponakan Sakti hampir berbarengan, sambil menyorongkan kamera fotonya, yang tadi dipinjam kakak iparnya.
Sakti langsung melihat hasil foto di kamera digitalnya, sambil melirik kakak perempuan dan kakak iparnya yang nampak lelah berjalan ke kamar mereka di lantai dua.
"Bagus-bagus kan oom....." teriak kedua ponakannya lagi kegirangan.....
"Waduuuhhhh....apa ini bentuk narsisisme kecil ya....." Bisik bathin Sakti kuatir, sambil melihat segala tingkah polah kedua ponakannya di kamera digitalnya.
"Bagaimana, Oom? Bagus-bagus kan??" tanya kedua ponakannya lagi penuh rasa penasaran.
"Iya...bagus-bagus.... gaya kalian juga bagus-bagus....."
"Horeeeee......." teriak kedua ponakan Sakti kegirangan. Sakti menaruh telunjuknya di depan mulutnya. Kedua ponakan Sakti juga langsung menutup mulutnya, sambil melirik ke arah ruang atas.
"Tapi ingat pesan, Oom ya.... Kalian kalau foto, harus ditempat ramai seperti ini... tidak boleh di tempat sepi, tidak boleh di kamar tidur hanya berduaan...."
"Foto di kamar tidur mana bagus, Oom??" cetus dua ponakan sambil memonyongkan mulutnya. Tanpa mengetahui maksud dari pertanyaan Sakti.
"Hebat kalian...Juga jangan foto di kamar mandi ya....."
"Idiiiiihhhhhhhhhh...... malu lagi, Oom... masa foto di kamar mandi... iiihhh... malu... Tidak akan pernah, oom...." ujar dua ponakan Sakti sambil menggoyang-goyangkan kedua tangan mereka. Sakti langsung memeluk kedua ponakannya, mencium kening mereka, lalu menyuruh mereka cepat tidur. Kedua ponakan balas mencium pipi Sakti, setelah itu langsung berlari ke kamar. Sakti tersenyum melihat tingkah dua ponakannya.
Sakti mengunci pintu depan rumah, bersandar di pintu, menghela nafas panjang. "Semoga kelak saat mereka sudah besar, bisa terus menjaganya.....jangan sampai sikap narsisisme membawa bencana...."
Sakti memejamkan matanya. (sak)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar