Di sini, bukan sepakbolanya yang seru, tapi soal organisasi yang membawahi cabang olahraga sepakbola yang bernama PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia). Adalah Nurdin Khalid, sang ketua umumnya didera cerca, didemo, dimaki dan sebagainya, bukan hanya karena dia sebagai ketua umum PSSI, tapi yang paling aktual, karena namanya tercantum untuk ketiga kalinya sebagai calon ketum PSSI. Tim verifikasi menyingkirkan dua calon lain, George Toisutta dan Arifin Panigoro.
Mengikuti rame-ramenya, sumpah mampus, kita dibikin bingung. Awalnya Nurdin diam. Disuruh mundur diam. Kantornya di Senayan di rante pendemo, dia diam. Dimaki-maki, dia tetap diam. Tapi belakangan, dia angkat bicara. Yang paling inti adalah, dia menegaskan bukan dirinya seharusnya yang didemo, tapi tokoh-tokoh yang memintanya tetap menjadi ketum PSSI.
Suasana kadung mengeruh. Adukannya makin cepat dan kekeruhannya makin kental. Nurdin disudutkan menjadi tokoh yang benar-benar tak disuka. Bisa jadi menjadi sedikit berubah, kalau kemudian Nurdin tak cuma mengatakan ada tokoh-tokoh yang memintanya tetap menjadi ketum PSSI. Sebut nama mungkin bisa sedikit menolong, jadi arah pandangan bisa bercabang.
Sepakbola di negeri ini selalu kisruh. Entah bagaimana dan siapa yang harusnya dengan jujur unjuk dada mengatakan, ''Ini salah saya!'' Adakah? Ooo tidak mungkin.
Sebelumnya, PSSI juga dibuat gerah, ketika muncul gerakan Liga Premiere Indonesia. PSSI mengatakan LPI itu seperti liga antarkampung saja, karena menurut mereka itu tidak diakui FIFA.
Maka bukan jalan perdamaian yang selalu muncul, tapi saling bertahan dan saling menuding. Mana yang benar? Mana yang salah.?
Kita sebagai rakyat jelata sebetulnya nggak peduli dengan itu. Yang kita peduli adalah, bagaimana kita bangga melihat prestasi sepakbola negeri persada.
Tapi bagaimana sepakbola mau berperestasi kalau pengurusnya sibuk memikirkan ''mempertahankan'' posisi, membuat organisasi tandingan dan lain sebagainya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar