Keberagaman itu adalah kekayaan, apalagi falsafahnya bhineka tunggal ika. Saling menghormati, itulah kunci. Hidup berdampingan, tepo seliro, tolong menolong, saling memahami, ah, sempurna sekali kalau itu tercapai, dan seharusnya tercapai.
Negeri kita yang penuh corak ragam budaya dan tata sosial sejak dulu kita agungkan sebagai harta yang membuat negeri lain ''iri''. Kebhinekaan yang terus dibangun menjadi satu kebesaran yang luar biasa. Kebesaran dari segala sisi pandang.
Upaya mensosialisasikan yang begitu selalu tumbuh, meski ada riak-riak yang kadang menakutkan. Salah satu yang bisa kita lihat adalah, upaya pemerintah kabupaten Dairi, salah satu kabupaten yang ada di Sumatera Utara. Sekitar 153 kilometer dari Medan, melewati kota wisata Bandar Baru dan Brastagi, lalu Kabanjahe, Merek (yang terkenal dengan jagung bakarnya) kita akan melalui jalan provinsi yang sekarang ini tidak terlalu mulus, tapi dihidangi pemandangan alam yang luar biasa. Lepas dari kota Merek, tepat di sebelah kiri, terhampas perbukitan yang begitu luas, dan di ujung batas, hamparan biru air danau Toba membentang. Ujungnya seperti bersatu dengan langit.
Tak lama kita akan melewati hutan lebat menjelang Tanjung Beringin yang dinginnya luar biasa. Dan setelah melewati kota Sumbul, tepatnya di jalan berkelok-kelok menanjak, ada sebuah sajian yang luar biasa. Sejak beberapa tahun lalu, pemerintah daerah Dairi membangun satu tempat yang ada kaitannya dengan kebersamaan dalam keragaman. Kaitannya dengan keimanan.
Nama tempat itu disebut Taman Wisata Iman. Berbagai simbol-simbol aneka ragam agama yang diakui di negeri kita hadir di sana. Dalam satu areal perbukitan yang begitu luas.
Meski tak banyak publikasi, Dairi yang bertetangga dengan Tapanuli dan Aceh terkenal sebagai daerah yang sangat toleran bukan hanya pada perbedaan suku dan ras (di Dairi -- tanoh Pakpak -- sejak dulu hidup, tinggal, rukun, hampir semua subsuku Batak), tapi juga toleransi beragama.
Maka, berkunjung atau berwisata ke tempat ini sepertinya menjadi satu pilihan penting bagi yang ingin merenungi ''kebersamaan'' itu. Seperti juga yang sudah dilakukan bukan hanya wisatawan lokal, tapi juga sudah bermunculan wasatawan mancanegara ke sana.
Banyak hal yang menjadi bahan perenungan di sana. Mariiiii.........

Tidak ada komentar:
Posting Komentar