Rabu, 20 April 2011

Selamat Jalan Franky Sahilatua

Mengejutkan! Itu selalu terjadi setiap ada berita kematian. Dan siang ini, kembali rasa itu muncul. Ketika muncul berita si pencipta dan penyanyi balada, Franky Sahilatua telah dipanggil oleh untuk selamanya, menghadap sang Khalik, tepatnya hari ini, Rabu (20/4) pukul 15.15 WIB di RS Medika Permata Hijau, Jakarta Barat.

Franky selama ini memang sedang berjuang melawan kanker yang menyerangnya. Sempat dirawat 7 bulan di Singapura dan menjalani operasi, kemudian dia dibawa pulang. Seminggu lalu dia dilarikan lagi ke rumah sakit dan tak sadarkan diri. Lalu, akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.

Insan musik dan penikmat musik, dosa besar kalau sampai bilang tak pernah tahu nama Franky Sahilatua. Di era 70-80an, lelaki kelahiran Surabaya tahun 1953 terkenal dengan duetnya bersama Jane, adik kandungnya. Sempat juga bertiga menyanyi dengan adik satunya lagi Johny Sahilatua. Gaya khasnya, menggendong gitar dan memetiknya sambil menyanyikan lagu-lagu balada ciptaannya, menjadi ingatan tersendiri untuk kita.

Sebagai seniman musik, Franky tergolong cukup sederhana. Pernah mengajak keluarganya menempati sebuah rumah (dalam kurun waktu yang cukup panjang) di bilangan Bintaro, sebelum menempati rumah sendiri sekarang ini, banyak pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Masalahnya rumah itu selalu kebanjiran. Tapi dengan tenang dan melemparkan senyum Franky mengatakan selalu menikmati suasa itu. Dia malah mengaku bisa membuat lagu ketika berada di atap rumah, sementara bagian bawah rumahnya terendam.

Humoris, tapi kerap juga sangat serius. Itulah sosok pencipta lagu fenomenal Kemesraan ini. Dia selalu menempatkan diri sebagai ''yang melayani''. Penulis pernah datang ke rumahnya beberapa tahun lalu. Mengajaknya membuat sebuah lagu bareng-bareng. Dengan santai dia mengambil gitar dan langsung memulai tawaran itu.

Di era 90-an, Franky juga cukup dekat dengan petinggi, termasuk Gus Dur. Anak Ambon yang kental berlogat Surabaya ini memang cepat dekat dengan orang. Tetapi dengan para petinggi itu justru dia lakukan ketika dia mulai menggeser karya-karyanya ke posisi yang lebih fokus, melihat dan memotret penyakit-penyakit sosial yang berkembang pesat di sekelilingnya.

Ketika reformasi berlangsung dia juga membuat sebuah grup yang manggung dari kampus ke kampus.
Ini berarti, Franky memang hidup di segala era. Dia aktual di segala masa. Hanya saja, penyakit yang dideritanya sepertinya terlalu kuat untuk ditahan, dan akhirnya membawanya pergi untuk selamanya. Selamat jalan, Bung Franky. Semoga damai di sisi Tuhan. Amin.

Senin, 18 April 2011

Balada si Norman

Pagi ini, Selasa (19/4), Briptu Norman, anggota Brimob Gorontalo yang menggemparkan itu pulang kampung. Saking lelahnya, di pesawat dia menghabiskan waktu perjalanan dengan tidur. Lelah. Ya, sepanjang lawatan ke Jakarta, hampir tidak ada waktu kosong untuk berleha-leha. Tur televisi, diundang sana-sini lengkap dengan mendapat hadiah bermacam-macam, mulai dari motor sampai beasiswa.

Bisa jadi, bagi institusi kepolisian, menghumbar Norman di media sudah saatnya dihentikan. Kemampuan Norman menyanyi dan menari, sudah harus dikonsentrasikan pada posisi yang pas, yakni, seperti falsafah institusi kepolisian soal kemitraan dengan masyarakat. Orang-orang seperti Norman harus dimaksimalkan di sana. Konkret. Ketika urusan kemitraan itu dikedepankan, Norman-Norman yang ada di institusi kepolisian bisa menjadi kembang-kembangnya.

Apapun, Norman tetap anggota polisi. Yang mempunyai tugas dan tanggungjawab yang sangat jelas dan pasti. Itu yang utama. Bahwa kemudian ada pergeseran pemanfaatan, itu menjadi tugas dan tanggungjawab alias beban berikutnya.

Kehadiran Norman dalam waktu yang singkat, cukuplah mencairkan suasana. Pilihan kebijakan kepolisian cukup tepat. Garis penegasan kemitraan untuk menghilangkan batasan-batasan, sangatlah terasa.

Maka kalau sekarang Norman ''dipulangkan'', pastilah pihak kepolisian menganggap ini bisa 'over expose''. Norman seperti dikembalikan ke dunia nyatanya. Pulang kampung, menghadapi keseharian seperti biasanya, dan pasti jauh lebih tenang. Meski, ketika tugas itu ''bisa saja'' terulang kerika dibutukan, pastilah Norman akan berdiri tegak lagi.

Kamis, 14 April 2011

Kematian Tak Pernah Terduga

Seorang teman pencipta lagu tengah main catur dan bercengkerama dengan temannya. Tiba-tiba dia merasa sesak nafas. Karena nggak kunjung hilang (walau dia sangka awalnya hanya masuk angin) temannya memaksa membawanya ke rumah sakit.

Kawan yang bernama Arie Wibowo pencipta dan penyanyi Singkong dan Keju, satu lagi Madu dan Racun yang ngetop di akhir 70-an diboyong ke RS Islam Jakarta (Kamis, 14/4). Nyawa Arie tak terselamatkan. Ternyata serangan jantunglah yang menerkam lelaki berusia 59 tahun itu.

Arie Wibowo yang begitu aktif di dunia musik di era 80-an sudah sejak lama berperang melawan penyakit. Kepada saya dlam beberapa kali ketemuan dan berbincang, dia sering menceritakan bagaimana dia berperang melawan diabetes. Arie memberitahukan pola pengobatan dan obat-obat yang dikonsumsinya untuk itu. Mulai dari obat dokter, sampai obat alternatif. Bahkan Arie berjanji membagi obat diabetes tradisional. Hanya karena kesibukan dan jarang ketemu lagi, tak kesampaian.

Itu bukan soal. Yang menjadi soal adalah, kita akhirnya kehilangan satu lagi insan musik yang pernah menorehkan karya yang fenomenal di blantika musik Indonesia. Ketika Glodok menjadi pusat musik, pendiri grup Bill Brod ini menjadi salah seorang pentolan, khususnya di kalangan pencipta dan produser.

Arie tak pernah berhenti mengurusi dunia musik. Berkarya jalan terus. Setidaknya di tahun ini, dia menelorkan satu rekaman di bawah bendera Nagaswara. Dia ditemani dua dara temuannya. Lalu dia juga belakangan sibuk mengurusi acara-acara musik 80-an, khususnya di Medan yang melaksanakannya tiap bulan.

Arie, bukan hanya selalu semangat memikirkan musik, tapi juga semangat melawan penyakit. Tapi tetap saja, tidak ada yang pernah bisa menebak hadirnya kematian. Dan, kemarin, dia menghembuskan nafas terakhirnya.

Selamat jalan Arie, semoga mendapat tempat di sisi Allah SWT.

Selamat Jalan Sang Maha Guru

Pak Ros, begitu ia akrab dipanggil, Nama panjangnya, Haji Rosihan Anwar. Siapa yang tak tahu nama putra Minang yang menggeluti dunia jurnalistik sejak usia berkepala dua itu? Tulisannya yang bersahaja, nakal, tidak membungkus-bungkus, adalah khas yang selalu menarik. Perjalan hingga usianya 89 (saat meninggal hari Kamis, 14/4/2011) cukup dipenuhi pengalaman dan catatan-catatan sejarah. Maka sang budayawan dan sejarawan ini, di dunia jurnalistik bukan hanya dipanggil senior, tapi juga yang dipanuti.

Dalam satu kesempatan berbincang, Pak Ros mengatakan kesehatannya terjaga karena dia terus dan terus menulis, membaca dan berolahraga. Menulis membuat otaknya terus bekerja dan membaca membuat ingatannya terus kuat. Itu menurut dia.

Maka Pak Ros adalah orang yang rajin menulis obituari, ketika pejabat atau tokoh meninggal. Selalu ada yang berbeda dalam tulisannya, karena dia mengingat banyak hal. Dia mencatat banyak peristiwa terkait dengan apa atau siapa yang ditulisnya.

Hingga akhir hayatnya, Pak Ros tetap menulis. Dengan mesin ketik tuanya. Walau ada yang menghadihinya komputer, dia tidak pernah mau menggunakan selain mesin tik tua. Alasannya, seni menulis dan semangatnya justru membludak ketika mendengar bunyi tak tik tak tik itu. Tapi di sisi lain dia pernah juga menyebutkan, mengtik seperti itu juga menjadi obat. Setidaknya kekerasan jari yang ditekankan ke huruf-huruf (tuts) mesin ketik akan selalu menjadi semacam olahraga yang mengusik saraf-saraf di ujung jarinya.

Cinta adalah landasan dan dasar Pak Ros menjalankan profesinya. Karena cinta itu pulalah dia selalu menerima apapun hasilnya. Falsafah menjalankan profesi menulisnya adalah seperti judul buku yang ditulisnya di tahun 1983, Menulis di Atas Air. Tak perah berbekas karena selalu ada aktualitas yang baru, bukan masalah. Tapi seperti dia pernah bilang kepada penulis, ketinggalan aktualitas atau ketidakmampuan mencari kelengkapan sebuah peristiwa adalah aib dan duka bagi seorang yang mengaku wartawan.

Banyak yang bisa dipelajari dari Pak Ros, khususnya bagi orang-orang yang berprofesi sebagai jurnalis atau penulis. Ketekunan dan keuletannya menggali banyak bahan selalu menjadi kekuatan dalam tulisan-tulisannya. Keliarannya menggiring sebuah tema ke satu titik yang luar biasa, pun didapatkannya karena itu.

Maka tak ada kalimat lain yang bisa terucap selain, Selamat Jalan Sang Mahaguru!

Selasa, 12 April 2011

Awas!

Seorang teman mengirim pesan kepada saya. Cuma satu kata: Awas!
Awalnya saya pikir, salah apa saya sama teman satu ini, kok tiba-tiba mengancam? Karena penasaran, saya menghubunginya. Dia ketawa-ketawa. ''Saya cuma mengingatkan. Sekarang ini kita harus ''awas''. Lihat-lihat tempat, kalau memang tidak bisa menghilangkan ''tabiat'' alias hobi.

Maksudnya?
Si Norman yang polisi itu, untung saja malah ngetop ketika rekaman video menyanyi Indianya diunduh orang ke youtube. Tapi seorang anggota DPR yang kepergok nonton blue film di ruang rapat kantor wakil rayat di Senayan itu?

Ya ya... Awas! Di segala sudut sekarang ini ada mata. Ada kemudahan teknologi yang bisa mencelakakan. Kalau beberapa seperti Justin Bieber masuk youtube malah terkenal sedunia, bayangkan apa yang terjadi kalau kekonyolan kita yang diunduh ''entah siapa'' ke dunia maya itu? Sudah banyak contoh.

Maka yang paling benar adalah, bagaimana kita berusaha menghindarkan ''yang nggak-nggak''. Dengan begitu, kita nggak perlu ''awas'' kenakalan atau keisengan yang berdampak mencoreng nama dan muka kita jadi tontonan orang banyak.

Awas!

Selasa, 05 April 2011

Promo Gila!

Seorang artis menghubungi saya, minta saran atas persoalan yang tiba-tiba dihadapinya. Kocak awalnya, tapi ketika dipikir-pikir, ini persoalan ''genit'' yang nggak karuan.

''Seorang produser film menghubungi saya. Dia baru memproduksi film judulnya Guna-Guna Celana Dalam. Sang produser mengatakan, idenya terinspirasi dari masa lalu saya,'' kata si artis.

Apa yang menjadi soal?

''Bertahun-tahun saya memperbaiki diri, mengembalikan nama baik saya dari kasus yang pernah terjadi. Masa lalu itu sudah saya kubur dalam-dalam. Saya sudah mempunyai kehidupan baru, tapi kok malah diungkit dengan cara seperti ini?'' si artis memelas.

Saya cuma bisa mengernyitkan dahi. Di satu sisi, peristiwa itu memang pernah terjadi. Di sisi lain, peristiwa yang ''menyakitkan'' dan menorehkan luka dalam hidup si artis itu, sama sekali tak pernah ingin dikenangnya, bahkan dibicarakan pun tidak.

Pelik ini persoalan. Kalau saja si produser tidak mengatakan ide film itu terinspirasi dari kasus si artis, mungkin tak jadi soal. Tapi kalau diomongkan seperti itu, maksudnya apa?

Saya langsung memutar otak. Saya bilang sama si artis, ''Gampangnya, si produser ini bukan hanya ingin cerita kepada kamu. Tapi dia berharap kamu bereaksi. Reaksi kamu, apapun itu, apalagi kalau itu di dengar wartawan, akan menjadi berita, dan berita itu menjadi promosi filmnya.''

Bah! Sekarang ini memang gaya promosi aneh-aneh. Makin menggila. Kita ingat bagaimana Julia Perez dan Dewi Perssik berperang, selama syuting sebuah film yang mereka bintangi berdua, berita cakar-cakaran terus menjadi santapan, seperti dikelola dengan baik.

Pikir saya, apakah memang sudah begini keadaannya? Apakah sudah biasa mengorbankan orang lain untuk kepentingan sendiri? Bah! Saya nggak punya kata-kata lagi.

Sabtu, 02 April 2011

Odong-Odong

Seorang doktor musik (musikolog) Rizaldi Siagian menulis komentar (menitipkan pesan) di FB saya, mengingatkan bahwa pohon kemenyan di daerah Pakpak, salah satu daerah di Sumatera Utara habis diganti dengan pohon akasia. Sebagai muskolog, konsentrasi pertama Bang Rizaldi tentu saja pada musik. Makanya dia menekankan, Odong-Odong di tanah Pakpak sudah ''kiamat'' karena pohon kemenyan dihabisi.

Apa hubungan pohon kemenyan dengan Odong-Odong?

Bagi orang Pakpak, mencari getah kemenyan adalah salah satu mata pencarian. Biasanya, seorang ayah berangkat mengumpulkan getah kemenyan (istilahnya ''mrkemenjn'') dan memakan waktu berhari-hari atau malah bisa berminggu di hutan belantara. Selama di hutan belantara itu, tak ada yang dikerjakan selain mrkemenjn. Memanjat pohon kemenyan yang tinggi, duduk di dahan yang kokoh, memukul-mukulkan pisau khusus atau mencongkel getah kemenyan dari batang pohon dan memasukkannya ke ucang-ucang (kerancjang yang digendong).

Entah bagaimana asal-usulnya, istilah Odong-Odong muncul, dan dia menjadi bagian dari kesenian ttradisional Pakpak. Odong-Odong adalah nyanyian yang dilantunkan prkemenjn dari atas pohon. Musiknya adalah ketukan pisau di batang pohon. Suara lantang berligato-ligato, menyuarakan semua perasaan sang prkemenjn selama di hutan. Impiannya, harapannya, rasa rindunya kepada anak istri, semua dituang dalam Odong-Odong.

Secara resmi, saya sendiri baru sekali mendengar Odong-Odong (pada sebuah pertunjukan kesenian Pakpak di TMII. Seorang anggota dewan Pakpak Bharat bermarga Manik yang ternyata seniman tulen melantunkannya dalam sebuah adegan. Luar biasa.

Lha, saya yang asli orang Pakpak saja baru sekali mendengarnya, bagaimana dengan yang bukan Pakpak?

Saya pernah bilang, kok Odong-Odong yang begitu terkenal itu seperti tak berwujud? Seperti sebuah legenda yang kita dengar hanya dari cerita? Padahal dia nyanyian. Padahal dia terdiri dari susunan notasi dan rangkaian kata-kata yang seharusnya bisa dihafalkan.

Saya pernah mencoba menghubungi sang seniman dan meminta contoh lirik Odong-Odong. entah kenapa, sudah bertahun-tahun, itu tak pernah saya dapatkan. Saya cuma bisa tersenyum saja.

Kesenian Pakpak, entah kenapa seperti menjadi sesuatu yang eksklusif untuk orang tertentu saja. Mungkin juga karena tidak memikirkan atau paham bagaimana melestarikan dan membuatnya menjadi sesuatu yang dimiliki turun-temurun. Itu juga terjadi pada kesenian populernya. Ketika lagu-lagu pop daerah menasional, lagu-lagu Pakpak menjadi bagian yang cuma berkutat di ''regional''. Pembicaraan pembangunan di daerah Pakpak sangat kurang menyentuh ''kesenian''. Saya berani mengatakan itu karena buktinya tidak ada yang ''mumbul'' alias tampak ke permukaan. Tidak ada yang dibicarakan orang banyak, selain orang-orang Pakpak sendiri yang mengulasnya.

Apa yang diucapkan sang musikolog kepada saya adalah cambuk. Secara kasat mata, pohon kemenyan memang tempat menyanyikan Odong-Odong. Tapi sebagai bagian dari kesenian, dia seharusnya bisa muncul di mana-mana. menjadi kekayaan yang luar biasa.

Pagi ini, saya menahan amarah, hati saya merintih. Sebagai putra Pakpak asli, tak pernah paham ke mana mencari akar-akar kesenian seperti ini. Atau dia akan berhenti menjadi milik orang-orang sebelumnya, dan kepada generasi mudahnya tinggal cerita?

Ong ko lbbe tbbu-tbbu mberengggggg.... ko tbbu-tbbu mbaraaaaa, eamale....
Otang kabang-kabang mi urang julu ko lbbe manuk-manuk......
(potongan lirik Odong-Odong yang pernah saya dengar dan dinyanyikan meliuk-liuk, dan begitu seksi.)

Benarkah Odong-Odong akan lenyap dan tinggal cerita?

Jumat, 01 April 2011

Tuliskan Saja, Pasti Bisa!

Seorang anak muda datang menemui saya. Begitu antusias meminta saya mengajarinya menulis. Saya bilang, bukannya kamu sudah bisa menulis?

''Saya mau jadi pengarang, Om,'' jawabnya.

Jadi pengarang? Saya mengernyitkan kening. ''Bukankah sekarang jadi pengarang jauh lebih gampang? Kamu menulis status di twitter, bikin status di facebook, menulis di blog pribadi, beres,'' jawab saya.

''Ya, cuma memulai menulis itu seperti apa?'' tanyanya.

Menulis, mengarang, ya, pasti sangat nikmat. Bahkan seorang penulis andal, Rosihan Anwar pernah bilang, menulis (dan membaca) itu bagian dari ''obat'' yang membuat dirinya sehat sampai usia kepala 8 saat ini. Dengan mesin tik tua, Pak Ros, begitu kami biasa memanggil wartawan senior itu setiap hari pasti menulis. Apa saja.

Mengarang itu gampang, kata Arswendo Atmowiloto. Bukan hanya diomongkan, tapi dia malah pernah menulis buku dengan judul itu. Saya pernah membuat puisi Mas Wendo menjadi sebuah lagu yang dipakai di acara tayangan TVRI di akhir 80-an dengan judul yang sama, Mengarang Itu Gampang, yang dipandu Ms Wendo sendiri.

Tuliskan saja/ Jangan ditunda....
......
Mengarang itu gampang/ asal mau...
Menulis puisi gampang sekali/ Asal dicoba pasti bisa....

Begitulah. Saya bilang kepada anak yang menemui saya, bahwa dia sudah punya modal awal, kemauan. Langkah berikutnya adalah ''keinginan'' menulis apa?

Tapi yang pasti saya tidak ingin meribetkan pikirannya. Saya meringankannya dengan, ''Sudah, kamu mulai saja. Tulis apa saja apa yang kamu mau. Baca lagi. Kasih juga dibaca teman-teman. Apapun komentar mereka, dengar saja.

Coba kirim ke media. Nggak dimuat nggak apa-apa. Coba lagi. Bikin pula blog pribadi, atau tulis di mana sajalah. Yang paling penting, menulislah setiap saat.

Saya tetap menggiringnya pada logika. Bagaimana menentukan tema. Bagaimana membuat kerangka awal, bagaimana menyusun irama tulisan, bagaimana memilih judul, dan sebagainya. Dia mencamkan dengan baik (semoga).  

Dari semua pembicaraan, ada yang hampir lupa saya tekankan kepada kawan muda satu ini, ''Menulislah dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.'' Ini kayaknya yang paling penting ingin saya omongkan. Dengan alasan komunikatif, seringkali orang menulis seenak udel. Mengacak-acak tatakrama berbahasa Indonesia, merusak struktur kalimat dan lain sebagainya.

Ampun dah!

Rabu, 23 Maret 2011

Jangan Biarkan Ibu Murka!

Jangan pernah bikin ibumu kesulitan. Ibumu yang melahirkan dan menyusuimu, yang berjuang lebih dari 8 bulan mengandungmu, membesarkanmu.

Kasih ibu sepanjang masa. Ternyata kadang-kadang itu bisa tak berlaku. Ketika seorang ibu dipurukkan, merasa disudutkan, dipojokkan, dia bisa berubah menjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka.

Kaget bin terjekut sangat ketika menyaksikan layat televisi, seorng ibu (ibu artis bernama Arumi) muncul dengan segala amarahnya. ''Saya akan berhenti mencari anak saya. Masih ada anak-anak saya yang lain yang harus saya hidupi. Saya tidak akan mencarinya lagi. Biarkan dia yang merangkak mencari saya (ibunya),'' kata sang ibu berapi-api. Berkali-kali dia menegaskan, apa yang dia putuskan adalah sesuatu yang serius dan tidak akan berubah.

Sebagai ilustrasi, bebrapa bulan ini Arumi yang cantik itu menjadi pembicaraan di media, karena melarikan diri dari rumahnya. Berbagai macam alasan pelarian ini, tapi keluarga menganggap kelakukan Arumi seperti itu karena pengaruh lelaki bernama Miller (yang juga bintang sinetron asal negeri jiran). Mereka ini pun sahut-sahutan di televisi. Saling menyalahkan dan saling membenarkan diri.

Lelah. Itu barangkali satu kata yang paling pas sebagai gambaran pergerakan keluarga, khususnya ibu Arumi selama ini. Lelah mencari sang putri yang bersembunyi, lelah berhadapan dengan pertanyaan wartawan, dan lelah terbarunya adalah, sang anak malah melaporkan ibunya ke pihak kepolisian.

Bah! Sudah sejauh itukah pergeseran nilai dalam kehidupan manusia ''maju''? Seorang anak nekat meninggalkan keluarga, seorng anak begitu tega melaporkan ibu kandung, mempersalahkan, dan dibawa ke jalur hukum?

Fenomena macam apa yang tejadi di depan mata ini? Bahkan bersura keras kepada ibu saja bisa dianggap salah dan berdosa, apalagi sampai meremehkan mereka dan mempermalukan mereka habis-habisan?

Kita memang cuma bisa berasumsi. Semua punya kewajiban introspeksi. Tapi intinya, bagi saya, ibu yang sudah meninggal puluhan tahun lalupun tetap menjadi ''sosok'' yang saya tempatkan di tempat terhormat di batin saya.

Rabu, 16 Maret 2011

Jangan Kirim Paket Bom

Kejadian kemarin, Selasa (15/3) sungguh mengerikan. Tiga paket bom buku dikirim ke tiga tempat. Satu meledug pula dan mencelakai orang. Bah! Apa sebenarnya yang kau cari? Sensasi, mengacau, atau berbuat tanpa dipikir panjang?

Begitu banyak cerita fakta ledakan bom dengan sengaja, makan korban yang jumlahnya tidak sedikit, baik yang mati maupun cacat seumur hidup. Belum lagi trauma yang disisakan terus menjadi hantu dan mimpi buruk. Korban pun berantai. Mulai dari korban fisik yang ada di tempat, sampai keluarga dan handai tolannya.

Meski perlakukan seperti itu sering dianggap sebagai bagian dari permainan politik, atau apalah namanya, kok melihat dari sisi manusia yang hakiki seharusnya jauh lebih dipentingkan. Kalau seseorang berkelahi dengan orang lain, haruskah menyambar atau melibatkan orang lain lagi yang lebih banyak tak ada kaitannya dengan perkelahian mereka.

Bisa jadi pemikiran ini dicap lugu, bodoh dan sebagainya. Tapi jujur, melihat kenyataan yang ada kita kadang nggak habis pikir dan nggak mengerti, kenapa jalan keluarnya dilakukan dengan cara yang tidak ''pas''.

Melihat orang mati, meringis kesakitan, menjerit, meraung-raung karena badan terbakar atau tercabik-cabik ledakan bom dalam kasus-kasus seperti, sungguh bikin pilu.

Jadi kepikir, apakah kata ''damai'' sangat sulit dicapai?

Tolonglah, jangan kirimi lagi paket bom!

Sabtu, 12 Maret 2011

Ganja

Beberapa tahun lalu, sebuah band asal Lampung membuat kejutan. Lagu mereka dibajak habis-habisan, dan mereka terkenal, sampai akhirnya masuk jalur industri, ditangani management yang genah dan produser bertangan dingin.

Banyak komentar tentang mereka. Karya yang pas-pasan (tapi begitu diminati pecinta musik Idonesia), berpanggung yang seadanya dan sebagainya. Tapi mereka melaju. Setidaknya sampai hari ini mereka selalu membuat kejutan. Lepas dari nilai karya yang disodorkan, nyatanya mereka menjadi idola bagi sebagian kelompok pecinta musik pop negeri ini.

Lalu, ketika kehidupan mereka terkuak, simpatik makin mengalir. Reality tentang kehidupan mereka yang begitu pilu sering menjadi barang eksploitasi di layar kaca. Bekas tukang bangunan, tukang es keliling dan lain sebagainya. Itu realnya. Tapi nasib siapa yang tahu?

Langkah mereka terus melaju. Riak-riak pun bermunculan. Vokalisnya cerai. Memukul orang. Ini dilema, hiasan hidup baru band ini. Lalu seorang personelnya keluar. Lalu......

Banyak ''lalu'' bermunculan.

Tapi di sisi lain, mereka menjadi inspirasi bagi kalangan bawah. Yang selama ini menganggap dunia panggung hanya mimpi, mereka membuktikan itu bisa nyata.

Masalahnya, Sabtu subuh (12/3), markas band bernama Kangen Band itu digerebek yang berwajib di bilangan Cibubur, Jakarta TImur. Semua personel dan kru serta teman sebanyak 10 orang diciduk. Dari markas mereka disita 30 gram ganja kering dan 3 pot ganja yang ditanam setinggi 3-4 cm.

Jadilah Kangen Band pesakitan saat ini. Secara intensif diperiksa pihak kepolisian.

Menyedihkan!

Tsunami

Ketika Aceh dihajar tsunami, semua orang mengingatkan, ''Tirulah Jepang. Yang begitu siap menghadapi bencana seperti ini.'' Bahkan konon di Jepang yang sering muncul tsunami, bukan hanya kesiapan negara matahari terbit itu menghadapinya, tapi sebagian malah sudah bisa menjadikan bagaimana tsunami itu menjadi tontonan.

Kemarin, Jumat (11/3), tsunami dengan 8.9 SR memorakporandakan Jepang. Semua tercengang. Tontonan di layar kaca mendadak terpusat ke sana. Melihat gedung-gedung pencakar langit bergoyang ke kiri dan ke kanan. Menyaksikan drama di kantor-kantor, dan yang menyeramkan, tentu saja melihat sapuan tsunami di pantai, yang menelan apa saja yang dilewati, lalu kembali dihempaskan ke laut.

Jepang memang luar biasa. Di pantai-pantai mereka mendirikan bangunan kukuh untuk tempat berlindung. Tidak terjamah sang tsunami. Tapi kelihatannya kesiapan tidak selalu menjadi pikiran utama. Buktinya, ribuan orang hilang juga nyawanya. Jepang terguncang. Kilang minyak terbakar. Gudang nuklir pun kena.

Lalu, seluruh dunia gempar. Negeri kita juga disinyalir bisa kena imbas (untung sang tsunami tidak jadi mampir khususnya di Indonesia bagian timur, yang diperkirakan).

Kalau sudah begini, apa yang ada di kepala kita? Ada permusuhan alam dengan manusia yang angkuh setiap saat seperti penguasa melakukan apa saja kehendaknya terhadap alam itu sendiri? Ada kealpaan kepada sang pencipta? Ada apa?

Jepang boleh siap. Jepang boleh kuat, tapi kalau Tuhan mau, apapun bisa terjadi.

Maka.......

Rabu, 09 Maret 2011

Mudik di Dunia Maya

Setelah perjaanan panjang, melewati lika-liku baik keberhasilan maupun kegagalan, kesenangan maupun kekecewaan, seorang teman berbincang dengan saya sore ini. Dia bercerita tentang ''mudik''. Setelah begitu lama ada sesuatu yang dulu pernah membuatnya besar, bahkan dijadikannya sumber nafkah ditinggalkan, dia mudik. Kembali menikmati masa lalunya itu. Teman saya itu fotografer. Dia kembali menggauli kameranya. Dia kembali bertualang meski tidak dalam petuangan yang cukup jauh. Tapi imajinasinya lepas sekarang. Dia kembali merasakan nikmat.

Perjalanan hidup ternyata tidak ada batasnya. Batasannya yang harus diperjelas. Maka ''mudik'' adalah bagian dari batasan. Kalau dulu hasil foto teman itu untuk menopang hidup. Sekarang untuk menopang nikmat. Dia berbuat, dan menikmati hasilnya, sekaligus merasa senang ketika hasil potretannya dinikmati banyak orang. Dia bikin blog khusus di dunia maya, yang setiap saat diupload foto-foto baru.

Yang membuat saya lebih tertarik lagi, teman ini bicara kuburan. Blog yang dia buat menurutnya sama dengan membuat kuburan sendiri, yang di nisannya penuh dengan sesuatu yang bisa dilihat dan dikenang orang kelak. Ada hal yang insya Allah berguna bagi orang lain maupun sanak keluarga kelak. Ada yang dibanggakan anak-anaknya.

Mudik dalam persfektif teman ini tidaklah harafiah. Banyak ternyata perjalanan sekadar cuma perjalanan, dalam hidup. Perlu ada semacam introspeksi, evaluasi untuk memahami semua yang dijalani, dan merenungkan apa yang harus diteruskan. Atau apa yang harus diulang.

Hidup harus hidup. teman saya bilang, ''Kita tidak mengingkari untuk meneruskan hidup dibutuhkan biaya. Dan, kadang kita menafkahi diri kita dari apa yang sesungguhnya bukan dengan talenta yang dianugerahkan Tuhan kepada kita.'' Ini pun anugerah. Tapi talenta yang sesungguhnya harus terus ada dan hidup.

Teman saya ini seperti sampai di satu titik soal talenta yang di''mudik''inya sekarang adalah bagaimana dia melakukan itu sesuai nuraninya. Sepenuhnya. Tidak ada yang menuntut saya memorret.''

Dia merasa memotret itu dengan kebebasan mutlak itu adalah kesunyian. Dia merasa kesunyian itu tempat dia bercermin. Tempat dia melakukan apa saja yang dia malukan. Sendirian. Dia harus menyelesaikan apapun sendirian. Lewat pikirannya, akalnya, dan diteruskan ke kameranya.

Dia kini menjadi seniman fotografi.

Intinya: Jangan lupakan atau sia-siakan talenta, anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

Selasa, 08 Maret 2011

Hari Musik kah Hari Ini?

Kalau saja hari ini, Rabu (9/3/2001) saya tidak membaca status facebook teman, sumpah, saya nggak ingat kalau hari ini Hari Musik. Lalu saya berpukir, begini-begini saja nih? Membayangkan megahnya musik, majunya industri musik, dan pentingnya musik di negeri ini, kok yang namanya hari musik nggak ada gaung sama sekali?

Di masa lain, perayaan kayak Valentine Day, bahkan halloween, biasanya orang-orang menyiapkannya jauh-jauh hari, sama dengan perayaan seperti hari lahir dan sebagainya. Dipestakan semeriah mungkin dan senyaman mungkin.


Musik sebagai karya seni, nggak usahlah dijelaskan. Musik sebagai sumber penghasilan, kita sering mendengar angka-angka spektakuler dan mencengangkan. Tapi kenapa dia seperti terperosok hanya dibahas di panggung pagelaran dan industrinya ''dibiarkan'' diacak-acak orang tak bertanggung jawab?

Sejak tahun 80-an ketika industri musik melejit pesat, ketika kita mulai mendengar kaset terjual di atas 2 juta bahkan lebih keping, para ''maling-maling'' mulai menggerogot. Produser menjerit-jerit, baru seminggu kaset (saat itu baru kaset yang menjadi bentuk fisik terbaru rekaman musik) beredar di pasar, para ''pembajak'' (begitu para penggerogot itu diistilahkan) beraksi. Kaset-kaset bajakan merajai pasar. Ada di depan mata.

Berbagai upaya dilakukan. Ada masa para pengurus industri rekaman seperti Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) membombardir, membawa para pembajak kaset itu ke meja hijau. Menghukum dan memenjarakan mereka. Tapi, selalu tidak tuntas.

Persoalan itu ternyata masih terus bahkan makin menjadi persoalan yang menggunung. Upaya untuk memerangi dilakukan para pelaku industri musik sah. Muncul organisasi seperti GAP (Gabungan Anti Pembajak) yang pencetusnya ada Jenderal (purn) Polisi Togar Sianipar, bergabung dengan produser-produser yang concern terhadap persoalan ini. Terus berperang, dan entah kenapa, nggak ada habis-habisnya.

Jika berita televisi sering kita lihat penggerebekan pabrik narkoba seperti ekstasi yang gede-gedean, ada masa di tahun 80-an, penggerebekan penggandaan kaset bajakanlah yang sering muncul di layar kaca.

Jenuh tak da habis-habisnya, bahkan barang bajakan itu malah dijual di depan mata, di pinggir-pinggir jalan (yang pastinya dipungut retribusi juga), dan masyarakat malah seperti dibutakan, apalagi mereka lebih mudah dan lebih murah mendapatkan karya-karya bajakan itu.

Maka jadilah seperti lagunya Ruth Sahanaya: Amburadul.

Seorang produser bernama Rahayu Kertawiguna (Nagaswara Records) yang sejak dulu concern terhadap peperangan melawan pembajak ini mencoba perang dengan cara sendiri. Dia mengaku beruntung sekarang ini Ring Back Tone (RBT) menjadi trend (walau dia sendiri kecewa karena karya seniman musik itu akhirnya harus dikebiri maksimal menjadi 30 detik), secara materi akhirnya banyak hal yang bisa diatasi. Dengan penghasilan RBT, si seniman musik bisa hidup nyaman kembali. Tapi, problem besarnya, karya musik itu harusnya utuh. Artinya, yang paling sempurna adalah mendapatkan fisik (sekaang ini seharusnya yang menjadi utama adalah penjualan CD). Kalau itu jalan, seniman puas lahir batin, konsumen penikmat musik juga puas karena mendapat karya utuh.

Sampai saat ini, itu tinggal mimpi. Bajakan menjadi ''raja''. Ada solusi yang pernah dicetuskan dan beberapa menjalani, dengan menjual CD ekonomi. Harga bersaing dengan bajakan. Tapi kita harus juga bicara mutu. Bahkan kalaupun itu dijalankan, tetap saja banyak pihak terugikan. Pembajak, banyak komponen yang tidak dia penuhi. Namanya juga pembajak, ya keruk untung sebanyak-banyaknya. Mereka hanya membeli satu CD (misalnya), perbanyak, cetak cover, jual. Tanpa bayar pajak pula. Sementara produser resmi, mulai dari membayar artis, lagu, produksi, promosi, bayar pajak resmi menjadi kewajiban.

Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk ini? Pertama pelaku industri musik harus bersikap, dengan menggandeng pihak pemerintah untuk membuat ketegasan. Belum lama kita lihat ada pembakaran barang-barang bajakan itu, mulai dari CD sampai DVD. Tapi lihat saja di bilangan Glodok atau pasar-pasar resmi bahkan mal-mal di kota besar, para penjual bajakan itu kastanya seperti lebih tinggi dari penjual barang resmi di sebelahnya.

Jalan keluarnya, ya sapu bersih, sikat tuntas.

Dengan kondisi yang masih membuat miris seperti sekarang, saya hanya bisa bertanya: Hari Musik kah Hari Ini?

Senin, 07 Maret 2011

DIARY DAIRI


PENGANTAR

Dairi, tanah Pakpak seringkali hanya jadi ilusi, bagi yang tidak mengerti. Tapi bagi kami, yang dilahirkan dan dibesarkan di sana, Dairi adalah tempat yang begitu sejuk dan tak terlupakan. Di sana kami mengurai dan merangkai kenangan. Manis dan pahit, tercatat dalam ruang hati kejujuran. Ada kalanya, kenangan itu muncul. Lalu menyenangkan, dan adapula yang menyakitkan. Semua harus tak  terhapus. Dan, ketika muncul desakan untuk berbuat, saya merasa nikmat menuangkan catatan peristiwa yang pernah ada, berharap jadi perenungan.
Bukankah berbagi adalah pekerjaan mulia, walau hanya sekadar cerita?
Saya juga tak begitu peduli, apa jenis rangkaian cerita ini. Yang pasti, kenangan Dairi yang saya tinggalkan sejak tahun 1979 saya tuang lewat kata-kata yang muncul begitu saja. Bagi teman seusia, dia menjadi cerita kenangan. Bagi yang muda, dia menjadi cerita pembuka mata. Begitu harapannya.
Terimakasih kepada semua yang mendorong dan mendukung sehingga Diary Dairi ini akhirnya selesai. Bapak Jansen Sinamo, yang menyumbangkan beberapa judul. Bapak Yade Ujung, Esra Banurea, Jannes Banurea, dan tentu saja anak-anak dan istri saya yang terus memberi pengertian dan support yang tak terbatas. God bless you all.

Hans Miller Banurea



1
SEMBAT

dalam sempurnanya sunyi
aku memasuki ruang yang sangat dalam
 masa silam
mencium wangi dupa puja-puja
berhembus dari bawah pohon beringin
sisi kanan jalan setapak belakang pabrik limun
wangi yang tak pernah membuat merinding
karena dia sudah menjadi aroma setiap waktu
lalu selalu bergegas agar segera tiba
menyapa bibir sembat
tembok semen berlumut hijau kehitaman

tubuh diceburkan
berbaur dengan siapa saja
dengan rasa apa saja


langit biru
langit abu-abu
langit hitam
panas terik
hujan gerimis
hujan deras
sembat seperti magnet
menarik-narik keras
minat merenangi dinginnya air yang muncrat dari perut bumi
tak henti limpahi dua kolam tua
dari semua sudut kota sidikalang
bebas datang
berenang atau sekadar bercengkerama
sembat
menjadi kolam hiburan
ah… sembat
masihkah airmu dingin menyemburat?


2
PENJARA

bocah kecil mengetuk pintu besi yang angkuh
tangannya menenteng rantang peot
berisi masakan ibu
‘’aku mengantar makanan untuk ayah,’’ katanya
lalu pintu kecil di sudut kiri pintu utama terbuka
bocah kecil masuk, seperti biasa
ayahnya menyambut tetap tersenyum
begitu setiap hari
tak dihitungnya sudah berapa lama
atau malah dia tak pernah berpikir untuk menghitungnya
bocah kecil tak pernah terguncang jiwanya
dia hanya menyimpan pertanyaan:
kenapa ayah dipenjara?
dan ayah yang semakin kerontang
tak pernah menjelaskan apa-apa
hidup berjalan biasa
ibupun hanya berkata, ‘’ayahmu sedang di penjara.’’
jika lelah, bocah kecil tidur di pangkuan ayah
di kamarnya yang kecil dihuni puluhan orang
pernah dilihatnya ayah menitikkan airmata
itupun tak terpikir ditanya, kenapa?
bocah kecil, terlalu dini untuk memahami makna
pergulatan hidup yang tak pernah bisa diduga
membawa ayah terjerat hukum atas perbuatannya
kini bocah kecil tumbuh dewasa
ayah telah tiada
ibu telah tiada
pertanyaan yang dulu disimpannya
tak juga ada jawabannya.
bocah kecil tetap menyimpannya
mungkin jadi rahasia yang tak pernah terbuka
selamanya
….


(aku tahu persis apa yang ada dalam batin si bocah kecil
karena dia adalah aku. dan penjara itu adalah penjara kota sidikalang, di masa lalu terletak di depan rumah sakit umum)



3
WISATA IMAN

di sana
di gerbang pintu masuk kotaku, sidikalang
di atas bukit bongkah-bongkah batu cadas
aku menatap hasrat yang putih

adalah mimpi kebersamaan
hidup dalam ketenteraman
terwujud dalam wisata iman

bukan!
itu bukan ala kadar
miniatur  tempat-tempat ibadah
dan catatan sejarah

bukan!
itu bukan sekedar gagah-gagahan
tapi berdiri di atas kesadaran
di mana semua insan dapat mengukur
jarak batin dengan sang Khalik

dihiasi pepohonan nan rindang
diusap nyanyian angin sepoi
khusuk diri menyelami lautan jiwa sendiri
mengukur tebalnya keimanan
menghitung ketulusan saling menghormati
menegaskan keyakinan
jalan dan cara berbeda
tujuannya sama
garisnya vertikal menuju langit
menghubungkan tali hati
dengan Tuhan


4
LAE PANDARO

berbuih-buih limpah berbusa-busa
tumpah dari sela bebatuan
bagai salju dingin menyiprati
siapa dan apa saja yang ada di bibir jembatan
lae pandaro
keras hempasanmu seolah sapaan
selamat datang kepada siapa saja
yang menghampiri Sidikalang
sendu  nyanyianmu seolah ucapan
selamat jalan kepada siapa saja
yang pergi tinggalkan sidikalang
lae pandaro…
irama benturanmu di atas bebatuan
adalah irama semangat yang teratur
diam-diam kau tikamkan ke ulu hati
hidup itu keras
hadapi atau tantang dia
seolah itu yang kau katakan
lantas
perpisahan menjadi wajib
tinggalkan kau tetap di situ
kelak temui kau tetap di situ
di bawah rindangnya pohon-pohon liar

dan
pada pertemuan berikutnya
aku meneriakkan, telah kutaklukkan kehidupan
telah kutaklukkan tantangannya
nyanyianmu tetap seperti itu
kau sambut aku ketika pulang
dengan bunyi-bunyian yang sama
kau antar aku pergi
dengan nyanyian yang berbeda:
jangan pernah menyerah dan kalah!
selalulah jadi pemenang!


5
SUKARAME URUK

kunang-kunang cantik
cahayanya menjelma jadi setitik warna
terang membelah hitamnya malam
menatap dari sukarame uruk
ke sukarame jehe
seperti menatap masa lalu
ketika tangisan pertamaku
menjadi senyuman ibu
yang berkeringat dan berdarah-darah
melahirkanku di sukarame uruk
aku hanya mencatat tempat lahirku di
sukarame uruk
meninggalkan ari-ariku di kota sepi
lalu rinduku selalu menjadi anyaman
yang indah
kepada malam-malammu yang sunyi
kepada angin dinginmu yang menikam
kepada hijau hutanmu
kepada ramah penghunimu

oooo sukarame uruk
kubayangkan kau telah berubah
menjadi perawan cantik
bersolek genit bibirmu bergincu merah
begitukah?
atau kau masih seperti dulu
hanya menjadi kota lintasan
yang ditinggal lambayan tangan
lalu diam
dan selalu berakhir sunyi

ooo sukarame uruk
masihkah kau duduk di bibir tebing
yang terjal
diam seperti tak berpengharapan?
kubayangkan kau telah berubah
menjadi kota yang dipermak
berhias kemajuan
atas nama pembangunan yang pesat
sehingga kelak
jika aku pulang
kita bercengkerama
dalam senda tawa karena bangga
atas perkembangan yang kau peroleh



                                                6
 GAVA – BARISAN NAULI

malam
bulan seperempat
menggelayut malu-malu di balik awan
hidupkan jalan gava dari senyap
berjalan beriring ke ujung barisan nauli
derak-derik pohon bambu si jaminus
menandakan tiup angin kencang
lalu nyanyian bersahutan dari tepi jalan
beradu seru dengan nyanyian parmitu
dari lapo si nase solin

ketika saatnya tiba
berangkatlah pencari makna
penakluk hidup
berharap doa-doa dari penghuni gava barisan nauli
agar kelak
putra yang dibesarkan di sana
mampu mendapatkan
apa yang seharusnya didapatkan
gava
barisan nauli
terus menggeliat
tak pernah henti lahirkan generasi
ada yang menjadi penjaga
terus bernafas dalam pangkuan ibunda
ada pula yang oleh garis tangan menggiringnya pergi
jauh

tapi gava - barisan nauli
tetap terjaga
seperti ibu yang melahirkan banyak anak
membesarkan anak-anaknya
dan pada waktunya
membiarkan anak-anaknya pergi
lalu menunggunya kembali
tanpa berharap apa-apa
    gava - barisan nauli
tetap menunggu
di tempat yang sama
duduk termenung
merajut rindunya
















7
SIMERPARA

di jalan setapak basah
tertutup dedaun lepas dari ranting
hutan tebal kukuhkan misteri
nyanyian aneka ragam satwa liar
menjadi sahabat pencipta riang
hati yang gelisah
oo… akan ke manakah kaki melangkah
ketika simerpara selamanya sahabat sunyi
malam-malamnya berhias auman si raja hutan
sepi-sepinya diusik dengus babi hutan
menggosok tubuh ke tiang penyangga kediaman
simervara
kucatatkan seribu atau sejuta cerita
di langitnya
cerita kepasrahan kepada alam
cerita pemahaman kepada cuaca
semuanya diterjemahkan ayah dan ibu
sebagai pertanda
penentu waktu
kapan harus bercocok tanam
dan bagaimana merawatnya
simervara
tanah suburnya hanya terjamah
oleh segelintir orang yang memahami
dan ayah ibuku
berpasrah di sana
bahagia di sana
sebab keterasingan
ternyata lambat laun membuahkan
kepastian
setidaknya
alamnya telah membiarkan kami hidup
darinya
tapi aku
harus mengikuti apa kata ayah dan ibu
meninggalkan simervara
melirik kehidupan yang lain
yang kata mereka lebih layak
dan
aku menuruti
maka kini
simervara
menjadi rindu yang tak terhingga

ketika hati terasa letih
simervara
yang damai tenteram
adalah mimpi surgawi
di mana kelak tempat aku ingin menutup mata
selamanya







8                                                   
LAE SINEMBATU


masih kau simpankah catatan ceritaku
di pusaran airmu yang bening?
lae sinembatu
kau tak pernah menegur mataku yang nakal
melirik perempuan-perempuan desa
mandi di pancuran tubuh dibalut helai kain tipis
masih kau simpankah ceritaku
saat kupetik bunga-bunga pancur
merah bergaris putih
tumbuh ranum di pinggir mata airmu?
aku menangkap putaran air
lalu membaca mantra-mantra
kupoleskan bunga pancur di bibirku
berharap si gadis yang kutaksir
serta-merta melompat dari jendela
mengikuti langkahku dari belakang

sia-sia
ya
sia-sia
hanya suara burung hantu yang mengusikku
sementara si gadis tetap lelap
                                                dalam mimpi indahnya
lae sinembatu
jika aku hendak bertemu dengannya
cukup duduk di tepimu yang ditumbuhi rerumput subur
lalu dia akan berlalu
dengan senyuman
itu saja sudah cukup
memuaskan hatiku



hanya sampai di situ
sebab
hidup terus mengalir
seperti aliran lae sinembatu
ketika aku menemukan tambatan hatiku
yang sesungguhnya
sering juga datang bayangan itu
lalu ingin rasanya berjumpa
seperti dulu
aku duduk di tepi lae sinembatu
dia berlalu
dan
aku tersenyum
walau dia tak memandangku


9
NYANYIAN HUTAN

aku dengar nyanyian hutan
rimba raya di tanah leluhur
iramanya pilu suaranya pedih
seperti rajawali
patah kedua sayapnya
bulu lebatnya ludes digunduli

kini dia tak kuat menahan terpaan angin malam
terbatuk-batuk berdarah-darah

jika dulu hijaunya tak terusik
kini semua situasi berbalik
raungan mesin senso dan tebangan kampak
suara mesin truk pengangkut
dan gaduhnya orang-orang serakah
membuat hutan kami tak nyaman lagi
perlahan tapi pasti digunduli
cukong-cukong penghisap darah
siapkan karungan emas penutup mata hati
semua berlomba membabat hutan lebat
lalu hutanku terbatuk-batuk
tumpahkan air liurnya bercampur darah
ah…
tidakkah ini bisa berbalik menjadi durjana
hadirkan kiamat sebelum waktunya
lalu masih pantaskah kita bertanya
kenapa?
masih layakkah kita bertanya
bagaimana bisa?


10
LAE UNE

cahaya garis-gemaris
menembus tajam dari sela-sela dedaunan rindang
adalah cahaya matahari pagi yang genit
nyanyian burung-burung dan suara imbo
hiasan yang menawan
di sela-sela deburan air terjun
lae une
di sudut kuta kecupak
kau tersimpan rapi
memberi sejuta makna
bagi siapa saja
di antara pohon raksasa tengah gunung perkasa
terus kau tumpahkan airmu yang bening dan dingin
sejuk duduk di atas batu cadas
besar dan licin tergolek di tepianmu
lae une
kau berikan romantisme yang luar biasa
ketika aku memegang jemarinya
lalu saat kami malu-malu bergandeng tangan
berjalan menuju palung tempat tumpah airmu
kau sirami kami dengan buih-buih penyejuk rasa
lae une
kudengar cerita tentang dirimu
yang memberi makna
bagi kehidupan sekitarmu
aku berdoa
semoga keserakahan tak menghampiri
manusia di sekitarmu
agar mereka tidak tega
merusak sekelilingmu
agar mereka sadar
membiarkanmu apa adanya
akan memberi arti yang luar biasa
selamanya
semoga


11
DELLENG RAJA

lahan yang kau siapkan untuk siapa saja
tak pernah kurang untuk berapa saja
berkah yang kau berikan untuk siapa saja
tak pernah kurang untuk berapa saja
delleng raja
gagah diam setengah mengelilingi kota salak
saat memandangimu dari kejauhan
seakan ada panggilanmu
seakan ada teriakanmu:
di sini kehidupan bisa berlanjut
di sini kusiapkan tanah subur
untuk kau tanami dengan apa saja
di sini padimu bisa tumbuh subur
di sini apa saja kau tanam akan berakar
tumbuh bertunas dan berbuah ranum
di sini
kehidupan bisa nyaman
lalu
ibu bertutup kepala saong
menyiangi rumput liar
dari tengah ladang padinya
di tengahnya buah labu mumbul dari bunga
buah ketimun masih berbentuk pentil

keringat membasahi sekijur wajah
tak pernah jadi soal
rasa lapar menunggu datangnya togoh
taka pa-apa dibiarkan
sampai waktunya matahari condong ke barat
ibu nyanyikan harapan
dalam iringan desir angin di sela dedaunan


12
SI TAGANDERA

nenek renta masih semangat
tuturkan kisah si tagandera
cerita legenda di tanoh pakpak

namanya juga legenda
banyak hal tak masuk akal
seekor monyet bisa menyamar
bahkan adakan pesta pernikahan
dengan gadis yang jatuh cinta kepadanya

si tagandera
carilah makna bukan fakta dalam ceritanya
sebab kalau mencari fakta
kita bisa tertawa
darimana monyet bisa bicara?
nenek renta tetap bercerita
dikerubung anak-anak desa
tradisi lestarikan budaya
masihkah apa adanya?
atau kita sudah terpana
pada badman atau supermen
otak anak-anak kita sudah kita jejali virus
pahlawan mereka naruto atau doraemon?
si tagandera adalah legenda
carilah makna bukan fakta dari ceritanya
galilah norma-norma
yang sarat dibungkusnya
(idim taganderaaaaaaa…….)…. 
suara nenek renta tetap bergema
di tengah kerumunan anak-anak desa
mulut mereka terbuka menganga
terkagum-kagum kepada tokohnya
di sini
di tempat yang jauh dari desa
masihkah kita mengingatnya?
masihkah kita terpikir akan budaya
peninggalan nenek moyang kita sejak lama?

   13
LAE PONDOM

wangi tanahmu yang basah
gemulai ranting-ranting pepohonan liar yang lentur
kabut senja yang putih
adalah rindu yang membawa hati
pada sejuta kenangan
kugenggam pundakku erat
terbungkus baju panas tebal
agar dingin yang menyengat sedikit
berkurang
bangkit lagi kenangan masa lalu
ketika melambaikan tangan
perpisahan
melewatimu
lae pondom
adalah batas kutinggalkan kampung halaman
seribu wanti-wanti dari ibu
seribu doa-doa dari ayah
menjadi jimat yang begitu ampuh
gagahkan langkah
menuju kota harapan
seribu mimpi tersimpan dalam hati
mengental menjadi cita-cita
yang harus diwujudkan
ibu menitikkan airmata
ayah menahannya
dekap hangat perpisahan
sesakkan dada
kehidupan adalah misteri
ketika mimpi belum juga terpenuhi
ibu pergi menutup mata
ayah menyusulnya
ketika hasrat bahagiakan mereka
semua seperti sia-sia
ooo lae pondom
aku melintasimu dengan desah panjang
hingga sampai di ujung tanjung beringin
hasratku tinggal satu
ingin cepat-cepat menyapa pagi
bergegas membasuh muka
di atas pusara ayahanda
di atas pusara ibunda


14
PERKEMENJEN

selamat pagi hutan belantara
matahari menggeliat  dari peraduan
sorot matanya tajam  menghujam
sejangkau pandang
lelaki separuh baya sendirian bergegas
siapkan semua peralatan
menyapa alam semesta guratkan harapan
dipeluknya erat pohon kemenjen
lebih erat ketimbang memeluk istrinya
bongkah-bongkah getah kemenjen
berbentuk seperti kumpulan kutil
dicungkilnya sedikit demi sedikit
lalu ditumpuk dalam keranjang yang menggelayut
di punggungnya
dalam hitungan hari
kadang minggu
dia gauli kesenyapan
dia akrabi kesunyian
dia nikmati kerinduan
kepada anak istri
dipisah lapisan lembah-lembah yang curam
hanya satu pelepas lara
untaian kata dinyanyikannya
odong-odong namanya:
ongko tebbu-tebbu mbereng....
ko tebbu-tebbu mbaraaaaa....
e yam male....
otang kabang-kadang mi urang julu ko manuk-manuk....
 embah mo lebbe tennah teddohku mendahi si buyung....
ooooooooo....

malam hitam diam
nyanyian misteri binatang malam
getarkan hati yang gelisah
sampai kemenjen cukup dirasa
pulanglah lelaki yang kian renta
menjual kemenjen yang dikumpulnya
kepada tengkulak
dengan harga mencekik
apa daya
laporan istri tentang beras dan lauk-pauk sudah ludes
uang sekolah si buyung menunggak tiga bulan
membuatnya pasrah
selalu begitu
hidup hanya sampai
pada kata pas-pasan!


15
NYANYIAN IMBO

dari balik bukit-bukit
menembus lekukan lembah-lembah
nyanyian imbo menyentuh sepi
hari sudah siang
bergegaslah si anak harapan
menapak pematang sawah
di bentang sungai menggeliat
                                                     matahari menyengat
semburat cahaya perak
di dagu dedaunan
padi-padi hijau berjejer rapi
seperti perempuan mengelus-elus
kandungannya menunggu hari
nyanyian imbo
menembus lembah-lembah
entah dari lapis ke berapa
iramanya teratur
suaranya pilu
si anak harapan terus berjalan
biarkan peluh basahi sekujur badan
antarkan bekal untuk inang
sedang merunduk-runduk di tengah ladang
siangi rumput yang jadi penghalang
di atas pantar silang
anak dan inang saling bersulang
menyuap togoh penahan lapar
hamparan padi jadi harapan
penyambung hidup sampai ke depan
dari atas pantar silang
kelak mimpi si anak harapan
jadi kenyataan
meraih mimpi masa depan
nasihat inang jadi kekuatan
sebab bapa telah pergi duluan
tak ada yang tak bisa diwujudkan
itu kata inang
selama kita punya mimpi
dan semangat meraih mimpi
tak ada yang tak bisa!
tak ada yang tak bisa!
ingat tennah
ingat peddah
ingat tuhan
ingat penderitaan
ingat kemelaratan
ingat ketidakberdayaan
semua
akan menjadi kekuatan
itu kata inang
dan
si anak harapan
terus mencamkan
nyanyian imbo tetap mengalun
seperti energi dia menyusup
ke pori-pori
lalu ke dalam nadi
mengalir bersama darah
di sekujur tubuh
si anak harapan
dan dia kembali mengucap tekad:
aku pasti bisa!



16
PUNCAK

kugenggam tanganmu
bergetar
kabut tipis di pucuk lembah
sebarkan rasa dingin
di sekujur tubuh
kita duduk di atas bongkah kayu yang patah
menatap jauh
gulungan lembah-lembah perawan

begitu jauh kita ke sini
membelok di simpang salak
lewati simpang penjaraten
lintasi kampung sidiangkat
hanya untuk diam
tanpa kata-kata
ku tahu
rasa tengah bergelora
di dada
tapi tak ada kuasa
mengucapkannya
hanya sorot mata
pertanda
nyanyian hati kita seirama
sungguhkah perjalanan akan mengikat kita?
kelak
kita serahkan pada perjalanan itu sendiri
sungguhkah rasa senada menjadi kepastian?
kelak
waktu akan mengujinya

sesuatu yang pasti
hanya
hari ini kita di sini
berdua
dengan rasa
tanpa kata

17
MERANI

seperti menapaki tangga nafsu
tibalah saatnya di puncak birahi
wajah ibu berseri-seri
memandang lautan padi
menguning merunduk menghadap bumi
dibantu tetangga dan banyak famili
ramai-ramai merani memotong padi
dengan sabit dan memetik pakai anai-anai
padi ditumpuk menggunung
sambil menunggu waktu dilepas dari tangkai
seperti menapaki tangga nafsu
tibalah saatnya di puncak birahi
wajah ibu berseri-seri
terbayang sudah panjang rezeki


malam bulan purnama
waktunya kumpul anak-anak muda
tugasnya mengerik namanya
menari-nari injakkan kaki di tangkai padi
     berputar-putar injakkan kaki
                   dalam irama terkendali
                saat lelah tubuh berpeluh
senda gurau jadi obatnya
sambil makan pelleng cina mbara
sesekali mata melirik yang disuka
ooo kampung halaman
jauh di sana
kini yang ada bayangan saja
indahnya masa-masa di sana
tak ditemukan
di mana pun berada
 





18
KERAJAAN

debur sungai bawah jembatan
ketika tangan lambaikan selamat tinggal
sukarame tetap diam
sejauh mata memandang ke depan
hamparan taman hijau membentang
tanah kerajaan
bulir-bulir sisa hujan
seperti permata di atas daun rerumputan
kerbau peliharaan bergerombol
mengunyah rerumput nan tumbuh subur
tiupan sordam gembala di atas pundak kerbau
seperti sihir
alirkan rasa rindu menusuk kalbu
terbawa tiupan angin sejauh jangkau telinga
misteri ini tak pernah terpecahkan
dari hulu sampai hilir kehidupan
hanya sampai di batas kecukupan
hidup di atas tanah berlumpur permata
tak seharusnya demikian
tapi inilah kenyataan
debur sungai mengalir deras seperti isyarat
kenapa hidup selalu terhempas?
tanah leluhur terdiam bisu
diperutnya tersimpan bongkahan emas permata
tak ada yang berpikir mengolahnya
hidup seakan-akan selesai pada nafas mendesah
jantung berdetak
bibir tersenyum walau retak-retak
hidup seakan cukup sampai batas
hari ini kita bisa makan
wahai siapa saja
yang hidup dan berkehidupan di kerajaan
kenapa tanah yang subur harus ditinggalkan?
atau malah disia-siakan?
nyanyian sordam gembala
masih terus memilukan
menambah susah pecahkan misteri
entah sampai kapan
ibu pertiwi muntahkan isi perut
yang membuat mata terbelalak
membuat kesadaran memuncak
kesadaran akan tanah leluhur
adalah lumbung kehidupan
yang tak terbatas jumlahnya


19
SIDIKALANG – TIGALINGGA

lepas tikungan menanjak lewati simpang tigalingga
kita masih terdiam
entah untuk apa perjalanan ini
selain keinginan tidak berpisah sedetikpun
berdesak-desak di antara penumpang
bis tua yang terbatuk-batuk
dimakan usia
tidak menjadi soal
duduk di sebelahmu
telah mengubah semuanya menjadi indah
ketika ujung rambutmu yang panjang
tergerai menyentuh pipiku
itupun menjadi rasa tak bertara
seharusnya aku mengajakmu bicara
atau kau mengajakku bicara
tapi kita seperti kehilangan kata-kata
jalan berlubang-lubang
tanaman liar di dindingnya
menjadi hiasan yang menarik
merias hati kita
berbunga-bunga
angin yang menyelusup
dari jendela kaca yang pecah
seperti bisikan kejujuran hati
yang sesungguhnya
aku mengantarkanmu pulang
setelah itu aku tinggalkan
dan
perjalanan pulang
lewat jalur yang sama
rasanya jauh berbeda
mual
digunjang-ganjing jalanan terjal
membuat isi perut seperti mau keluar
sedetik saja ketika kau berbalik
aku sudah merindu
tapi kutahu
rinduku tak pernah terjawab
sebab kau takkan pernah pulang
untukku


20
SUMBUL BERAMPU

usai senja menyapa
kutinggalkan kau sepi
sumbul berampu mulai bergairah
ketika orang-orang sudah pulang
dari sawah dan ladang
setelah begitu panjang kita bercengkerama
semua harus usai
kenyataan yang ada
antara kita
seperti bulan mengejar matahari
takkan pernah ada titik henti
semua akan terus jadi mimpi
meski kau harapan yang berikutnya
tetap saja
aku harus segera menyatakannya:
sampai di sini saja
biarkan semua menjadi catatan
perjalanan yang pernah ada
derai airmata tak ada guna
mencari salahpun tak ada artinya
biarkan saja
semua mengalir
apa adanya
jalan berbeda
sudah bagus kita tahu sebelumnya
sehingga
rasa tak terlalu jauh melayang-layang
mengharap-harap
selamat tinggal sumbul berampu
selamat tinggal guratan harapan
aku harus menemukan harapan yang lain
harapan yang nyata

(lalu bulan sabit menggelayut di bahu awan, menemani perjalanku yang sepi menuju sidikalang)


21
1965

siang
pertengahan tahun 1965
langit cerah
atas jalan sisingamangaraja
membelah panjang sidikalang
hanya ada gores awan tipis
anak-anak sekolah tanpa seragam
duduk berdesak di atas truk serdadu
deru angin tiup pohon cemara
depan kantor bupati
tak berarti apa-apa
langit menderu
capung besi raksasa melintas tinggi
truk berhenti
anak-anak sekolah tanpa seragam
terburu-buru diturunkan
lalu digiring memasuki parit pinggir jalan
rebah tiarap di sana
hingga capung besi raksasa berlalu
serdadu menaikkan anak-anak sekolah
ke atas truk kembali
diantar pulang ke rumah

puluhan tahun kemudian
baru kusadari
masa itu sangat mencekam
negeri ini sedang gawat terancam
padahal waktu itu
anak-anak sekolah tanpa seragam
malah cekikikan
ketika disuruh sembunyi
tanpa memahami
apa yang sesungguhnya terjadi


22
POLA TINADA

perjalanan ini tak pernah berarti
tanpa meneguk pola tinada
ketika lelah di puncak ubun-ubun
debur lae kombih
ramah  menyapa
derap dan ringkih kuda boban
transportasi darat angkut barang
sidikalang menuju salak
hiasi suasana
lambayan daun nyiur di atas bukit
seakan mengucap:
selamat jalan anak muda
tinggalkan ketidakpastian
menuju ketidakpastian
ketidakpastian di sini sudah sangat pasti
sementara ketidakpastian di sana
bisa menjadi kepastian
selama semangat dan daya juang berapi-api
mimpi bisa menjadi nyata
selamat jalan anak muda
buatlah getir kehidupan
menjadi manis
seperti pola tinada
berlarilah seiring doa-doa orang tercinta
cepatlah pergi
agar wajah kita yang pucat pasti
bisa berubah menjadi ceria
selamat jalan anak muda!
tegukan terakhir pola tinada
akan menjadi rindu yang panjang
dan mengkristal menjadi untai janji
kelak kehidupan yang getir akan kuubah
menjadi manis
semanis pola tinada


 23
MERSUAN

setelah benih ditabur
semai ditumpuk di bibir pematang
perempuan mengunyah sirih
berbaris rapi tundukkan tubuh
tancapkan
padi di lumpur sawah
yang sudah rapi dicangkuli dan diairi

orang-orang yang mersuan
bergerak ke belakang
semai hijau menancap berjajar
melambai-lambai daunnya tertiup angin
musim mersuan
musim menanam padi di sawah
musim mersuan
tanamkan harapan
sebab semua kebutuhan
akan berawal di sini
akan tergantung di sini
pada padi hijau yang ditanam
berharap kelak jadi kuning keemasan
pada cuaca yang teratur
agar kelak tumbuhnya subur
musim mersuan
tiba waktunya mersiurupen
saling membantu seisi kampung
itulah budaya turun temurun
yang dicatatkan nenek moyang


24
TAHUN BARU

untaian rasa haru
mengisi ruang hati
bedug di surau ditabuh
lonceng gereja bergema
tahun baru saja berganti
doa-doa dipanjatkan
dosa-dosa diurut seperti hitungan
masing-masing bersalam-salaman
saling berpelukan
begitu murah kata maaf
di saat seperti itu
tapi sudah menjadi tradisi
perjalanan 12 bulan
diayak-ayak mencari kesalahan
dengan sadar semua diakui
dan memohon dilupakan
malam menjadi gegap gempita
bunyi petasan dan kembang api
lampu-lampu kecil
di ranting-ranting pohon natal yang tersisa
masih kedap-kedip cantik warnanya
semua pintu terbuka
silih berganti saling mengunjungi
bukan hanya limun dan strup susu
temani keriaan
tapi juga kambang loyang dan alame
seperti syarat sempurnanya
malam tahun baru
anak-anak pamerkan baju, celana
dan sepatu baru
saling berebut harap salam tempel
bisa limper
bisa pula seribu
tergantung niat yang memberi
tahun baru di kampungku
sidikalang na balau
selalu jadi momentum yang seru
riang gembira bercampur dengan haru



25
PERSEBANEN

berjalan jauh ke tengah hutan penjaraten
bukan sekadar mencari kayu bakar
di persebanen
berjalan beriring denganmu
adalah harapan
menyiapkan dahan dan ranting untukmu
adalah keinginan
di bawah hujan rintik-rintik
kau tebarkan senyum menawan
aku semakin dalam terperangkap
berjalan jauh ke tengah hutan penjaraten
bukan sekadar mencari kayu bakar
di persebanen
melihat sedikit saja kain panjangmu tersingkap
lalu aku melihat sedikit atas dengkulmu yang coklat
kunikmati pikiran liarku

duhai
aku kini tersenyum
di bibir yang mulai keriput
merajut kembali kenangan lama
ketika kita masih bersama
hidup bertetangga
dan saling memendam rasa
di manapun kini kau berada
kuharap kau hidup bahagia



26
SIBURA-BURA
desing mesin mobil melaju
di jalan tengah belahan bukit
menjadi irama tak membisingkan
karena terbiasa
kaki lelah menggoes sepeda ontel
milik ayah
menghitung tanjakan demi tanjakan
sejak lewati simpang salak
berwujud menjadi peluh
di sekujur tubuh
ibu menunggu di ladang yang luas
sibura-bura
tanah yang selalu siap digauli
oleh siapa saja yang mau menggauli
selalu siap dijadikan juma
tempat menanam padi yang begitu subur
karena tanahnya begitu gembur
asap mengepul di sana-sini
pemilik ladang yang sudah dibatasi secara demokratis
berdiri menjaga
agar api tak rarat ke mana-mana
dan tetap menyala di sekitarnya
jika api sudah padam
basah oleh air hujan
semua yang disisakan adalah vitamin
kelak membuat apa saja yang tertanam
tumbuh subur dan gemuk
ibu merajut mimpi di kepulan asap yang tebal
sambil menunggu anak kesayangan
diliarkannya hayalan
juma ini selalu menjadi sumber inspirasi
sumber keyakinan
hidup masih terus
berkelanjutan
bahkan ketika matahari sudah buram
tak mampu sembunyikan rasa lelah
ibu enggan beranjak
ingin memastikan
semua impiannya kelak menjadi kenyataan
dari sini
jalan menuju ke mana saja bisa dipastikan
dari butir-butir beras yang digiling dari padi
dari padi yang ditanam di tanah ini
dari tanah yang kini sedang dibersihkan
dan
ketika malam mulai menyapa
ibu bergandeng tangan dengan anak kesayangan
yang menenteng sepeda ontelnya
menuju pulang
besok mereka
ke sini lagi
lebih pasti lagi
waktu semakin dekat
untuk bercocok tanam
27
LAE KOMBIH
dari hulu ke hilir tumpah ruah airmu
mengalir deras
susuri lembah-lembah
ikuti lekuk-lekuk
di berbagai persimpangan
tak ragu kau berbelok
lalu mengalir di anak sungaimu kecil
basahi sawah-sawah kering
lae kombih
airmu pelega kehidupan
airmu tak pernah surut
oleh perubahan cuaca
dari perutmu yang mistis
sesekali anak-anak desa
memancing ikan khasmu
bersisik hitam putih
bentuknya molek dan cantik
lae kombih
mengalirlah terus
tumpahlah terus
deraslah terus
jangan pernah berhenti
atau surut sedikitpun
sebab
kehidupan di sekitarmu
banyak mengantung nasib di aliranmu
lae kombih
kudengar dari jauh
deras arusmu kini
sudah berubah
menyalakan rumah-rumah
yang dulu pada malam hari
redup cahaya
lae kombih
teruslah mengalir
teruslah deras
teruslah tumpah
28
DATU BALANGA
si datu balanga bukan cerita legenda
si datu balanga adalah fakta
 panjang masa dia jadi wanita perkasa
keliling kota sidikalang kerjanya
dandanannya ala mbah surip di masa sekarang
rambut tergerai tak terurus
baju compang-camping tak karuan
kalung dan gelang berarakan di sekujur tubuhnya
dia menjadi aneh di masa lalu
duduk di tepi jalan
mulutnya komat-kamit
ada yang menyebutnya dukun
tak banyak yang mencapnya otak miring
datu balanga menjadi cerita panjang
yang pasti banyak mengenang
barang siapa berani mengusiknya
murkanya melebihi amarah banteng jantan
yang tengah menahan birahi
selalu mencoba anggun
memoles bibirnya
dengan gincu merah menyala
membuat semua orang tertawa
karena belepotan ke mana-mana
datu balanga
rambutnya diikat pita
tapi bisa tiba-tiba dijambak-jambaknya
datu balanga
adalah cerita fakta
sidikalang di satu masa
bagi yang ada di masa itu
pasti tak bisa melupakannya


 29
LETER ‘’S’’

meliuk-liuk di atas kereta tikungan leter s
angin menyapa dari balik bebatuan
sumbul membentang di senja bisu
tampak semua sudutnya
tampak lekuk tubuhnya
orang-orangan sawah bergerak-gerak
di pematang kejauhan
takuti gerombolan burung
pemakan padi

meliuk-liuk di atas kereta tikungan leter s
angkuhkan diri di dekapannya
tertoreh setumpuk kenangan
di sana
batu-batu cadas berukir nama
penuh tanda-tanda
lalu kita tinggalkan begitu saja
waktu yang panjang
mengubah suasana
ketika pulang penuh harapan
sederet nama di batu cadas masih ada
tersisa
dibungkus lumut-lumut hijau
telah kudengar cerita tentangmu
yang tak sabar menunggu
di waktu tak berbatas

di persimpangan
tempat kita dulu pertama bertemu
tak kutemukan lagi tubuhmu yang sintal
tak kulihat lagi sorot matamu yang sayu
tak kulihat lagi senyum ramahmu
 aku kini sendirian
mengukir sesal di langit hitam

30
PELLENG

rangkai-rangkai kata
terajut menjadi setangkup doa
pelleng
nasi kuning yang tak keras
tak pula lembek
berlauk daging ayam jago merah
dirubung keluarga berkeliling
duduk manis di atas tikar anyaman ibu
pergilah menuju tanah harapan
berbekal mimpi dan dendam pada kenyataan
airmata dan dekap ibu
peluk ayah dan isak keluarga
menjadi tenaga tak bertara
pergilah dengan semangat memanas
sepanas pelleng bercampur cabe merah
segagah ayam jago
menantang sang penantang
31
LAE PONDOM
 
seribu kunang-kunang
menyelusup dari sela-sela pepohonan liar
silih berganti penghuni hutan rindang
menyapa malam
bulan segaris di balik rindang dedaunan
menggelayut-gelayut
tebarkan sunyi
angin basah menyusupi rongga sumsum
ngilukan kesendirian
bangkitkan rindu
malam terus merangsek
membisikkan ucap selamat tidur
namun mata harus tetap jaga
menunggu keeping-keping harapan
yang jatuh dari langit
duduk sendiri di sudut rumah kecil
menghitung detik demi detik
bergerak terasa begitu lamban
menunggu larut malam adalah harapan
sebab pada larut malam
rezeki tak terduga bisa didapatkan
ketika truk-truk pengangkut kayu 
satu persatu mampir
menyalamkan lembar demi lembar  penutup mata
yang membuat esok jadi berwujud
tapi
menanti fajar adalah impian
berharap esok matahari menyaparamah
dan pulanglah si ayah
yang merengkuh sunyi
ke pelukan anak istri
membawa senyum
yang tidak mengada-ada
 
(mengenang mereka yang pernah jaga malam di pos lae pondom)

32
SILALAHI

sinar perak di bibir bukit-bukit
memantul bayang di bibir danau toba
hamparan rumput hijau bergelombang
luas membentang batas pandang
lepas kota merek
senja menyebar indah cakrawala
langit biru
bebaskan semua penghalang
saat menikmatimu silalahi
dari kejauhan
aku ingin lekas tiba
basahi rinduku dengan airmu yang dingin
menulis riakmu menjadi lirik
mengolahnya menjadi nyanyian
rinduku kepadamu
wahai yang tercinta
masihkah penantian tak berujung
dan kau duduk di tepian
sambil melihat anak-anak mujair
berenang bebas di tepian danau toba
meneriakkan dalam hati
airmata rindumu sudah kering?
aku pulang
dengan segala kekalahan dan kemenangan
masihkah hangat tanganmu
menyambut hadirku
atau
di tepian tempat kita berjanji
sekarang tinggal seonggok batu
bisu
aku pulang
silalahi
aku pulang


33
BANDAR SELAMAT

setelah lepas dari jalan setapak
bandar selamat menyapa senyum manis
sawah membentang seluas pandang
air sebatas pematang menggelinjang
terdorong angin sepoi
samai di tanah kering
bergerombol hijau sibur
selalu begitu
pintu-pintu rumah kayu
terkunci rapat kosong
anak-anak pergi sekolah
orang tua membenam diri di sawah
mengolah tanah berlumpur kental
pastikan subur sebelum musim tanam
begitu terus ikuti putaran cuaca
orang-orang yang menikmati hidup
apa adanya
telah terbiasa hadapi apa saja
tak ada keluh berlebih
sebab pikiran terpusat
kepada subur tumbuh padi di sawah
lalu ketika panen tiba
bernyanyilah harapan di depan mata
begitu seterusnya


34
BINARIA BATU DUA

ketika kugenggam jemarimu
kau hanya tersipu
diam malu
lalu mata kita berpapasan
begitu saja
sepertinya aku telah melumat habis
hasratmu
matahari di atas ubun-ubun
kita tak peduli
sebab
binaria batu dua
terus memberi arti
sepertinya
aku tak punya pilihan lain
(saat itu)


35
SIRPANG SALAK

lalu kita mengangkat gelas berisi tuak
mata kita sudah mulai sayu
lagu mitu terus mengalir
lapo persis di sudut sirpang salak
harusnya sudah tutup
jalan raya sudah lengang
tapi kita tetap sibuk
bernyanyi dan bercerita
entahlah
mungkin kita akan tidur di selokan mala mini
sebab kaki gemetar
tak sanggup berjalan
saling menuding
siapa yang tenggen?


36
ONGOL-ONGOL

sehari saja tak menikmati
ada yang hilang dari hari-hari
warung pojok sudut danau
depan mesjid raya
belokan ke gava

di sudut kenangan
masih ada potret jelas
duduk di bangku kayu
menghadap danau
nikmati secangkir teh manis
dan sepiring ongol-ongol
ludes tak perlu lama
lalu terbenam di pelukan
dinginnya malam
sidikalang


36
GULAMO

asap mengepul ke semua penjuru
sebar wangi ikan gulamo
ikan asin kering kepala batu
dibakar ibu di ambang sore

sekepal nasi di atas piring
hangat menguap jatuhkan liur
duduk bersila bentuk lingkaran
ibu – bapa dan semua anak mereka
panjatkan doa kepada yang maha kuasa
syukuri sepotong gulamo
dicubit bagi rata
makanlah nak apa yang ada
sebab yang ada adalah rezeki halal
dari tuhan
dia akan menjadi daging
menjadi nafas
menjadi darah
dan menjadi pertumbuhan
yang sah dan sehat

malam nyenyak dalam tidur
biarkan mimpi berbalik dari kenyataan
sepotong steak
sepiring kentang goreng
menyapa ramah 
itu hanya ada dalam mimpi

kata ibu
mimpi adalah rancangan harapan
yang harus dibuat menjadi nyata
bersyukurlah punya mimpi
sebab mimpi adalah semangat yang terbakar

sepotong gulamo bakar
mernjadi sangat nikmat
sebab ibu mengatakan
saat ini
itulah yang ternikmat
dan harus disyukuri

rasa syukur adalah nikmat
yang tak tertandingi
sebab
dari rasa syukur itulah
lahir kepasrahan
dan
dari kepasrahan
lahir kesabaran
dari kesabaran
lahir kenikmatan
kata ibu
kehidupan yang nyata
bukanlah saat ini
tapi ketika kita lulus dari semua ujian
pada kepasrahan
kesabaran
kenikmatan

mengalirlah seperti air
mendesislah seperti angin
berjalanlah di jalur kenyataan
dan
selalu menyadari
apapun yang didapat
datangnya dari
tuhan


37
BATU KAPUR

di jalan bebatuan
 ditulisnya sebuah kenangan
ketika malam gerimis
batu kapur bergaris-garis putih
tak tampak jelas
tapi selalu ada
menatap lelaki yang membentur-benturkan kecewa
di punggung sunyi
tak lagi dinyanyikannya tentang harapan
sebab bulan telah dililit awan
diikat erat tak lepas
malam kian terjembab basah
langkah lelaki yang hilang bayangan
tak lagi beraturan
dikiranya cuaca dapat ditaklukkannya
ternyata datang sesuka hati
berubah semaunya
lelaki yang kecewa
tetap gelisah dalam tanya
benarkah cinta apa adanya?
ketika rindu menggelayut di dada
sempurna bagai purnama
berdegup ia ingin menyampaikannya
dikiranya cuaca dapat ditaklukkannya
semua jadi sia-sia
bulan dililit awan
setitik pun tak lagi dilihatnya
nyanyian malam
nyanyian duka
seuntai asa
hilang begitu saja
tanpa alasan
sebab cuaca memang tak bisa
diterka



38
MELEK-MELEKAN

malam-malam hilang sunyi
berkumpul bercerita temani seorang ibu
yang baru saja lahirkan anaknya
ke dunia
perapian tepi peraduan
sedikit hangatkan tubuh
dari sengatan angin malam yang basah
ibu-ibu bercerita
temani si ibu yang lelah
bapak-bapak memirit kartu
berharap datang lembar keberuntungan
di sudut lain
pecatur kernyitkan kening
pikirkan langkah raja semakin terjepit
setelah seminggu melek-melekan
ada ritual perpisahan
seakan waktunya sudah tiba
bebas ibu dan bayinya dari semua goda
tak perlu lagi dijaga bersama
melek-melekan menjadi satu budaya
turun temurun begitu adanya
ibu-ibu bergantian temani yang partus
bapak-bapak ramaikan suasana
joker karo
main catur
atau kartu dam
itu sahabatnya
selesai di satu rumah
pindah ke rumah lain
di mana ibu melahirkan bayinya
melek-melekan
penghidup suasana
selama bisa saling menjaga
sebab kalau judi jadi tujuannya
bisa ludes harta benda



39
OPERA ONAN

malam merambat di los-los onan sidikalang
bulan tergantung di sudut tiang penyangganya
hiruk pikuk suara penggemar nyanyian tradisional
menanti disapa dipersilakan masuk
saksikan opera keliling yang baru tiba

lalu ada isak tangis bersama
ketika tokoh utama mendapat siksa
ada tarian bersama

ketika penyanyi setengah genit lantunkan suara
nyanyikan lagu-lagu lama

gemintang mengintip suasana
dari balik gumpal-gumpal embun yang tipis
malam merambat jauh
layar panggung masih terbuka
lelaki binal tak tahan nafsunya
mulutnya sebarkan aroma anggur
matanya merah menyala
naik ke panggung jarinya menjepit lembar rupiah
ditarikannya irama tanpa irama
dibatasinya gerak penyanyi dengan kedua tangannya
lalu dengan bangga
diselipkannya lembaran rupiah
di sela-sela kutang penyanyinya
lelaki binal turuni anak tangga
lambaikan tangan seperti orang menang perang
dalam sepi
semua orang ingin membeli suasana
dalam sepi
opera keliling adalah jawabannya
cerita tradisi masih terus terjaga
nyanyian asli masih terus menggema
lelaki binal pun terus mencari korban
lampiaskan keisengannya


40
SEKOLAH BELAKANG GEDUNG NASIONAL

ada kerinduan mengulangi kembali
masa dulu bersekolah
di bangunan berendeng panjang
belakang gedung nasional sidikalang

di sana dimulai perubahan
dari tak mengenal huruf
hingga mulai pandai bahkan cerdik
guru-guru yang kebanyakan perempuan
dengan sabar mengajar puluhan
ratusan
bahkan ribuan
atau puluh ribuan anak-anak
yang sudah melompat ke kehidupan nyata
dari sana
dari sekolah belakang gedung nasional
kubayangkan wajah-wajah guruku yang lelah
tapi selalu tunjukkan tak lelah
wajah-wajah yang resah
tapi selalu tunjukkan tak resah

jika jujur
hidup mereka juga senin-kemis
senin dapat kemis habis
tapi selalu
para guru itu
tak menunjukkan gelisah
senyum sabar menyapa ragam sifat muridnya
dan ketika waktu telah berjalan panjang
ibu guru itu masih tetap dipanggil guru
hanya itu





41
TOBING TAYLOR

memegang tangan ibu erat-erat
berjalan susuri teras panjang rumah berdempet
sepanjang depan gedung nasional
ketika lewati simpang empat
hati berbunga-bunga

sekali setahun
ya
hanya sekali setahun
ibu mengajak anak-anaknya ke tobing taylor
tempat menjahit pakaian paling terkenal
di tanah tempatku dibesarkan
musim menjahit tiba
 artinya
akhir tahun akan tiba
anak-anak bergembira ria
karena saatnya kenakan pakaian baru
tahun baru datang lagi di kampungku
salah satu ciri-cirinya
semua berbaju baru
badan diukur
kain diperiksa
bahan yang dibeli ibu di pasar
tahun baru datang lagi kampungku
semua menjadi baru
baju baru
dipakai saat berderet menglantunkan ayat-ayat suci
pajojorhon di atas altar
tahun baru datang lagi di kampungku
semua kenakan baju baru
saling menyapa  dan saling bermaafan
di bawah dentuman meriam bambu
dan
rentetan letusan petasan

anak-anak
terus pamerkan baju baru
 42
BULAN PURNAMA TIBA

malam gairah
saat bulan purnama tiba
tak lelah pamerkan senyum genitnya
di  langit malam yang cerah
anak-anak remaja yang mulai mengumbar cinta
mainkan gitar tua
menyanyi membelah sepi
duduk bergerombol di atas jalan tak rata

gadis-gadis belia berjalan malu-malu
lalu bergabung tanpa bersuara
hanya sesekali mata beradu
dengan si dia yang ramah menyapa

anak-anak ada yang margaltuk
ada pula marsitekka
sebagian main alip cendong

malam gairah
malam bulan purnama
bintang-bintang kedipkan mata dari kejauhan
menjadi hiasan indah tak tertandingi
malam gairah
malam indah
bunga-bunga bermekaran
melambai-lambai tertiup angin
anak-anak di kampungku
selalu akrab saling hormat
ini ajaran bapa dan ibu
sebagai bekal di hari esok


43
RINDUKU PADAMU DAIRI

kujemput serpihan-serpihan rindu
yang menumpuk di langit anganku
kukunyah-kunyah ia sampai lumat
kutelan dengan rasa manis pahitnya
rinduku padamu dairi
lebih panjang dari jalan yang kujalani
rinduku padamu dairi
lebih banyak dari waktu yang kulewati
melintas gunung-gunung
membelah samudera
tinggalkan kau jauh di sana
dipeluk dinginnya cuaca
kau kandung semua anak-anakmu
genap sembilan bulan
kau lahirkan dari rahimmu dengan beragam cara
kau besarkan ia di tanahmu yang subur
ketika tiba saatnya
berangkatlah secara berurutan
mencari kehidupan yang berbeda
lebih sewindu
tinggal kau berpeluk bisu
senyum mataharimu tetap begitu
derai tawa alir sungaimu tetap begitu
hijau gunungmu tetap begitu
kubayangkan anak-anakmu
pulang memelukmu
merawatmu
membawamu vitamin yang harganya mahal
agar wajahmu tetap awet muda
kurasa itu harapmu juga
tapi kadang kami anak-anakmu
bukan karena lupa
tapi ternyata
sepanjang perjalanan
pergumulan hidup sama saja
mampu selamatkan diri
itu sudah ;luar biasa
dairi
rinduku padamu
bisa juga berarti
tidak berdaya


  44
IBU

ibu merintih pedih hatinya
tangisi sunyi ketika sendiri
duduk bersandar pada derita
saat sendiri dinikmatinya
kendati mata hati basah diurai airmata
selalu saja ditampakkannya
nuraninya keras seolah-olah bagai baja
ibu mengukur langkah dalam hatinya
sampai manakah kelak pelayaran buah hatinya
menjelajah angan-angan membelah angkasa
ibu merintih pedih hatinya
dihitung segala kemampuannya
ragu langkah sampai di tujuannya
maka doa-doa kepada yang kuasa
menjadi ajimat penguat jiwa
yakinkan batin dan hatinya
jika tuhan berkenan tak ada yang tak bisa
ibu merintih pedih hatinya
dilepas buah hati dari pelukannya
melangkah ikuti bayangannya
menggantung nasib di lingkar cita-cita
bergegaslah nak sebelum matahari di atas kepala
jika tidak, panas terik membakar persada
lemah lunglai langkah dibuatnya
ibu merintih pedih hatinya
dilepasnya buah hati dari pelukannya
melangkah ikuti bayangannya
mengejar hari jelang senja


45
Aku Mulai Lagi dari Alif

aku mulai lagi dari alif
mengurai sesal
akan waktu yang terbuang
sia-sia
aku telah berjalan
di untaian keyakinan
atas ketidakyakinan
dan ketika cahaya-Mu
melintas sedetik
saat mataku terbuka jujur
rasa takutku hadir
oo….. Yang tercinta
aku begitu lama berpaling
tak menghiraukan-Mu
oo…. Yang terkasih
aku begitu jauh terpisah
meninggalkan-Mu
aku mulai lagi dari alif
berdegup jantungku
penuh harap
aku mulai lagi dari alif
memahami makna
tanda demi tanda
menuju
kebesaran-Mu




46
EMAS HITAM DI PERUT IBUKU

kudengar dari balik gunung-gunung
jauh dari seberang samudera
ibuku sedang mengandung
janin yang dikandungnya
 emas hitam
bertumpuk di seluruh ruang rahimnya
semua mata tiba-tiba terbelalak dan mengawasinya
bahkan semua orang tiba-tiba mengaku
sebagai ayah kandungnya
saudara kandungnya
sepupunya
iparnya
tantenya
omnya
neneknya
kakeknya

ibuku sedang mengandung
janin yang dikandungnya
 emas hitam
semua menjadi rajin menghitung waktu
menunggu bulan genap usia
ibuku menjadi tercantik di jagad raya
semua orang mengelus-elus perutnya
ibuku sedang mengandung
janin yang dikandungnya
 emas hitam
mengapa sejak dulu tak ada yang menghiraukan?
mengapa sejak dulu semua mengabaikan?
ibuku sedang mengandung
janin yang dikandungnya
 emas hitam
tiba-tiba semua merasa gelisah
bayangkan dalam sekejap nasib bisa diubah
seperti membalik telapak tangan


47

BOM

aku mendengar lagi cerita airmata
ketika orang-orang tak berdosa
bersimbah darah
rebah tak berdaya
lalu sepi
malam tak punya nyanyian
angin tak punya desisan
satu dentuman saja
habisi sekian nyawa

amarah kami sudah di ubun-ubun
ingin berteriak
wahai kaum pengecut
tidakkah berhadap-hadapan beradu argumen
atau malah adu jotos tak lebih jantan
ketimbang mendentumkan auman kematian
tanpa kompromi?
wahai kaum pengecut
berhentilah menyebar virus
teror!
kami ingin hidup damai
di bumi pertiwi
yang kami cintai ini.


(jakarta, ketika JW Marriott meledak lagi!)



48
TANOH PAKPAK

jika nanti tiba waktunya
senja merah jambu di bibir batas
matahari di puncak lelahnya
aku ingin
jiwaku teregang di pelukanmu
jika nanti matahariku padam
tak kulihat lagi rembulan
tak kulihat lagi gemintang
tak kulihat lagi siang
tak kulihat lagi malam
kuingin rebah
tidur nyenyak di pangkuanmu
izinkan aku bersidekap
lelap di peraduan abadi
 kubayangkan sepotong kain kafan
membungkus tubuhku yang kering
tersingkap sedikit di bagian wajah
menghadap dinding tanah yang lembab
dalam pejam yang panjang
terus berusaha mengingat peristiwa
yang pernah kujalani
 bukan dalam acara debat
tapi tanya jawab
yang  akan memutuskan
kelak ke sorga atau neraka
jika tiba waktunya
senja merona di batas cakrawala
taburi rumah kecilku
bunga-bunga tujuh rupa
agar kucium wangi
jadi mimpi indah
dalam penantian
tiada batas

  



49
GELISAH IBU

membentang luas sunyi
suara lirih menghiasi
ibu yang lelah kerontang kini
kulitnya keriput sepanjang waktu dibakar matahari
kapan pulang kau yang pergi
merindu ibu ditinggal sunyi
kapan pulang kau yang pergi
sebelum waktu henti berlari
sudah lelah gelisah digumuli
sudah lelah resah ditemani
sudah lelah tangis dihampiri
kapan pulang kau yang pergi
sebelum berhenti detak nadi


50
ZIARAH

tiba-tiba mataku basah
menetes airmata di atas pusara
menghitung langkah perjalanan panjang
adalah sesal tak pernah berujung
ketika mimpi tak akan sampai

kubawakan seribu bintang gemerlapan
tak ada lagi lehermu yang jenjang
tempatnya kuhiaskan
bumi bisu di tanah yang kering
langit diam direnggut sepi
rumput liar di sepanjang jalan kecil
merakit sunyi makin sunyi
dalam diam
kuuntai kata mutiara
khusuk dalam doa
semoga kau bahagia
di surga
duduk di singgasana
sisi yang mahakuasa
semoga