Kali ini Yoyo Padi. Drummer yang mantan suami penyanyi kondang Rossa itu dicokot polisi dari kamar apartmentnya di bilangan Sudirman, Jakarta, Minggu dini hari (27/2). Urusannya narkoba. Polisi mengaku ketika Yoyo disambangi tidak lagi ''memakai'', tapi dari tempat itu polisi menyita barang bukti berupa bong (alat hisap narkoba) dan narkoba jenis shabu-shabu.
Sialnya, kemudian banyak orang bilang, ''Ah, artis mah biasa!'' Nah lo.
Memang, sepanjang masa, sederet nama sudah tercatat tereret-eret menggunakan barang haram jadah itu. Tak perlulah disebut-sebut lagi nama mereka, apalagi mereka yang sudah berbalik, berpaling meninggalkan penyesalan yang dalam untuk ulah tak terpuji dan merusak diri dan hidup sendiri itu. Tapi, lagi-lagi artis. Meski kalau dihitung persentasi jumlah artis yang terlibat narkoba dengan masyarakat biasa bisa jadi cuma secuil persen, tapi tetap saja, kalau wartawan bilang, ''Name make news.'' Orang-orang terkenal selalu mejadi objek berita, dan -- apalagi artis -- orang-orang awam selalu menunggu berita tentang mereka.
Tapi berita narkoba? Inilah dukanya. Aibnya. Seorang Yoyo pula. Drummer yang dipasangkan namanya di papan atas. Drummer yang cukup disegani di bidangnya. Halah! Kenapa harus seperti ini?
Kadang kita tidak habis pikir. Tapi, yang paling tahu sebab-sebab, tentulah orang kayak Yoyo sendiri. Kenapa dia harus terkait dengan barang itu?
Selebriti konon adalah sosok terpilih, yang kemudian ikutannya mendapat ''gelar'' itu adalah, mereka disadari atau tidak, menjadi tokoh panutan. Panutan setidaknya bagi penggemar masing-masing. Setidaknya! Nah, kalau panutan, berarti memang banyak hal yang menjadi ''pantangan''. Ini salah satu risiko. Maka saya setuju dengan teori seorang teman pengamat entertainment, Remy Soetansyah: Terkenal adalah risiko. Banyak yang tak terduga muncul di sana. Maka inti dan kuncinya adalah: Berhati-hatilah.
Narkoba dan artis, seringkali saling terkait. Entah karena para pemain bisnis narkoba itu tahu bahwa artis ternyata seringkali ''merasa sepi'' ketika tidak beraktivitas, atau bisa pula dengan memperdaya artis (selebriti), ini menjadi bagian dari promo dagangannya. Ini cuma asumsi.
Di sisi lain, kesadaran sebagai manusia, kesadaran sebagai mahluk yang hidup di negeri ini, yang tegas-tegas menentang ''yang begituan'', yang jelas-jelas hukumnya menjerat yang mencoba tersangkut-sangkut dengan kasus narkoba, kesadaran sebagai panutan (selebriti -- tokoh masyarakat), manusia pilihan, seharusnya menjadi rem yang paling pakem untuk menjauh dari godaan setan khususnya narkoba itu.
Selalu dan selalu kita berharap, kasus teraktual harusnya menjadi kasus terakhir kaum selebriti tersangkut narkoba. Mungkinkah?
Mari berbagi berita, kabar terkini, ulasan peristiwa apa saja. Pasti menyenangkan.
Minggu, 27 Februari 2011
Kamis, 24 Februari 2011
Nyanyian Sunyi dari Tanoh Pakpak
Oleh : Hans Miller Banurea
(tulisan dimuat di majalah TATAP, edisi 04)
Jika naik kendaraan dari Medan, sepanjang 153 kilometer menuju tanah Dairi dan Pakpak Bharat, Anda akan menikmati jalan turun-naik, melintasi indahnya pemandangan Tanah Karo, menikmati birunya tao Toba dan genitnya bibir tao di tepian Silalahi, serta awan tipis yang menyelimuti hijaunya anak-anak gunung yang bertumpukan di kiri jalan.
Umpamakan perjalanan Anda menuju tanah Dairi dan Pakpak Bharat itu untuk menghadiri jamuan makan, maka apa yang tersaji di perjalanan tadi adalah santapan selamat datang. Seterusnya, di tanah Dairi dan Pakpak Bharat, Anda akan disajikan berbagai ragam santapan utama. Salah satu pilihannya adalah musik. Seperti juga di tanah Batak lainnya, musik-musik tradisional yang akan ditemui bisa dipastikan tidak banyak berbeda. Namun, kalau masuk lebih jauh lagi, Anda akan tercengang dan dijamin menggeleng-gelengkan kepala, karena kagum pada apa yang Anda dengar dan saksikan.
Ada dua jenis nyanyian orang Pakpak yang tidak lazim terdengar. Disebut tidak lazim, karena kedua nyanyian itu hanya dikumandangkan di tempat yang sangat khusus. Dua-duanya dinyanyikan di tempat yang sunyi. Yang pertama disebut tangis milangi (tangis menghitung), dinyanyikan di tempat mana hati semua orang dalam keadaan sunyi hati. Persisnya di tempat orang meninggal dunia. Dan satu lagi, Odong-Odong, yang dinyanyikan di tempat yang benar-benar sunyi. Di tengah hutan rimba raya, di mana penyanyinya berada di atas pohon kemenyan, menumpahkan semua kerinduan dan seluruh harapan yang mengalir di nadinya.
Jangan tanya bagaimana Tangis Milangi atau Odong-Odong itu ada. Dengan segala kekhasannya, dia sudah ada dan menjadi milik orang Pakpak secara turun temurun. Jangan pula tanyakan siapa penciptanya, sebab sejak dia muncul dengan patron yang konvensional, tidak ada yang mencatat nama penciptanya. Tapi, sebut saja dia ciptaan NN (No Name) sebagaimana lazimnya perlakukan kepada karya musik yang tidak diketahui nama penciptanya. Apalagi, yang pakem hanyalah lagunya, sementara liriknya selalu berubah-ubah, tergantung siapa yang menyanyikan dan perasaan apa yang berkecamuk di dalam hatinya saat itu.
TANGIS MILANGI
Tangis Milangi (Tangis Menghitung), hanya kita dengar di saat ada kemalangan. Ketika seseorang meninggal dunia, ada pihak-pihak yang mempersembahkan Tangis Milangi itu sebagai komunikasi terakhir, sebelum jenazah dimakamkan. Biasanya, yang mempersembahkan tangis milangi itu adalah kaum perempuan, ibu-ibu. Durasi Tangis Milangi tidak ditentukan. Tergantung panjang pendeknya kehidupan dijalani orang yang meninggal dunia. Atau tergantung panjang pendeknya pengetahuan yang ber-Tangis Milangi tentang orang yang meninggal dunia.
Tangis Milangi dimasukkan ke dalam golongan nyanyian, karena Tangis Milangi itu memang dinyanyikan (tangisan yang memenuhi semua unsur yang dibutuhkan oleh nyanyian), dan sebagai cirri khasnya yang lain adalah, selalu dinyanyikan dengan nada minor.
Kepeken berngini rebbak deng kita kirana
Naing mangan pelleng nimu katemu
Ndor aku meddem asa ndungo siceggen
Asa giam ndor kubahan pengidoenmi…
Nggo kessa cihur ceggen ari
Ndungo ko Pa, ninggu
Enggo ko keppe laus, Bapa
Uuuuuuuuu
Padahal tadi malam kita masih bersama ngobrol
Katamu ingin makan pelleng
Saya cepat tidur agar bangun pagi
Biar cepat saya kerjakan apa yang kau minta
Begitu pagi hari terang
Bangun, Pak, kataku
Ternyata engkau sudah pergi, Bapak
Uuuuuu (bagian ini disebut derru-derru/menangis jerit-jeritan)
Lirik di atas adalah salah satu yang dibuat secara bebas. Begitu bebasnya lirik Tangis Milangi itu, tanpa ada batasan apa-apa seperti juga durasinya. Bahkan, kadang-kadang sesuai yang rahasiapun disisipkan di sana, misalnya bicara tentang sesuatu yang belum terselesaikan dengan orang yang meninggal dunia (hutang piutang misalnya).
Tangis Milangi, sudah ada sejak dulu. Sehingga, bagi orang Pakpak, kematian tanpa ada Tangis Milangi, dianggap seperti sesuatu yang belum sempurna. Pilu mendengarnya, tapi kadang-kadang mendengar lirik yang dikarang pada saat itu juga, dalam hati bisa geli. Atau kita juga bisa geli, karena bisa mendadak yang tengah menangis milangi berhenti dan mengatakan kepada orang di sebelahnya, ‘’Giliranmu sekarang!’’ Atau sebaliknya, ketika bagian Uuuuuuuu (meraung-raung), tiba-tiba saja dia pingsan.
ODONG-ODONG
Walaupun masyarakat Pakpak terkenal dengan kebun kopi, berkebun nilam, dan mencari getah kemenyan, dan tiga-tiganya berasa di tempat sepi, Odong-Odong lebih dikenal milik perkemenjen (pencari getah kemenyan) di hutan belantara.
Sampai sekarang, perkemenjen masih terus melakukan pekerjaannya dengan pola dan cara yang sama. Seperti orang mau mergeraha (berperang), perkemenjen akan diberangkatkan oleh keluarga, dilengkapi dengan segala kebutuhan berhari-hari tinggal di hutan, termasuk perlengkapan ‘’perang’’nya, berupa golok, congkil (alat untuk mencongkel getah kemenyan).
Perkemenjen selalu laki-laki. Persoalannya, medan yang dihadapi selalu cukup ekstrem, masuk hutan sendirian atau berdua, yang tentu saja bisa tiba-tiba berhadapan bukan hanya cuaca, tapi segala sesuatu yang hidup di hutan, termasuk binatang buas.
Setelah memasuki hutan belantara, biasanya mereka akan membuat semacam saung (dalam bahasa Pakpak disebut sapo-sapo/rumah-rumahan) tempat mereka menginap dan berteduh kalau hujan tiba-tiba turun.
Tinggal di hutan bisa berhari-hari, bahkan bisa dalam hitungan minggu. Tergantung jumlah getah kemenyan yang dikumpulkan.
Bisa dibayangkan, sendirian, jauh dari keluarga, masak sendiri, tidur sendiri. Yang pasti temannya hanya ada satu: sunyi. Terutama saat perkemenjen memanjat pohon kemenyan di siang hari. Di bawah terik matahari perkemenjen berusaha agar getah kemenyan keluar dan mengental. Angin sepoi-sepoi, ada nyanyian burung dan desir angin meniup daun-daunan penambah rasa sunyi. Bayangan wajah anak dan istri tentu langsung menggelayut di benak. Saat itulah biasanya perkemenjem menumpahkan rasa sunyi dan semua harapannya ke dalam lagu yang disebut Odong-Odong.
Seperti juga Tangis Milangi, Odong-Odong tidak dibatasi durasi, tidak dibatasi lirik. Tergantung yang ber-Odong-Odong mau berhenti kapan, dan mau membuat liriknya seperti apa.
….. Otang kabang-kabang mi urang Julu ko lebbe manuk-manuk
Pesoh mo giam teddoh ni ate mendahi si buyung
I tengah rambah en ngo bapana merkemenjen
Giam burju-burju ia sikkola
Barang mi juma mendengani inangna
Odong-odong-odonggggggg (ditingkahi dengan legato yang meliuk-liuk)
Terbang ke urang Julu (ke daerah hulu) lah kau burung
Sampaikan rindu hati kepada si buyung (anak)
Bapaknya di tengah hutan mencari kemenyan
Mudah-mudahan dia baik-baik sekolah
Atau ke ladang menemani ibunya
Odong…odong…odong…..
(contoh lirik bebas Odong-Odong)
Tangis Milangi maupun Odong-Odong adalah sebuah peninggalan nenek moyang orang Pakpak yang sesungguhnya tiada bertara. Yang berhubungan dengan jiwa, dan dibebaskan kepada jiwa siapa saja yang membawakannya. Bisa jadi, itu pula yang membuatnya terus lestari, sebab setiap saat bisa diaktualisasi, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan batin yang membawakannya.
(tulisan dimuat di majalah TATAP, edisi 04)
Jika naik kendaraan dari Medan, sepanjang 153 kilometer menuju tanah Dairi dan Pakpak Bharat, Anda akan menikmati jalan turun-naik, melintasi indahnya pemandangan Tanah Karo, menikmati birunya tao Toba dan genitnya bibir tao di tepian Silalahi, serta awan tipis yang menyelimuti hijaunya anak-anak gunung yang bertumpukan di kiri jalan.
Umpamakan perjalanan Anda menuju tanah Dairi dan Pakpak Bharat itu untuk menghadiri jamuan makan, maka apa yang tersaji di perjalanan tadi adalah santapan selamat datang. Seterusnya, di tanah Dairi dan Pakpak Bharat, Anda akan disajikan berbagai ragam santapan utama. Salah satu pilihannya adalah musik. Seperti juga di tanah Batak lainnya, musik-musik tradisional yang akan ditemui bisa dipastikan tidak banyak berbeda. Namun, kalau masuk lebih jauh lagi, Anda akan tercengang dan dijamin menggeleng-gelengkan kepala, karena kagum pada apa yang Anda dengar dan saksikan.
Ada dua jenis nyanyian orang Pakpak yang tidak lazim terdengar. Disebut tidak lazim, karena kedua nyanyian itu hanya dikumandangkan di tempat yang sangat khusus. Dua-duanya dinyanyikan di tempat yang sunyi. Yang pertama disebut tangis milangi (tangis menghitung), dinyanyikan di tempat mana hati semua orang dalam keadaan sunyi hati. Persisnya di tempat orang meninggal dunia. Dan satu lagi, Odong-Odong, yang dinyanyikan di tempat yang benar-benar sunyi. Di tengah hutan rimba raya, di mana penyanyinya berada di atas pohon kemenyan, menumpahkan semua kerinduan dan seluruh harapan yang mengalir di nadinya.
Jangan tanya bagaimana Tangis Milangi atau Odong-Odong itu ada. Dengan segala kekhasannya, dia sudah ada dan menjadi milik orang Pakpak secara turun temurun. Jangan pula tanyakan siapa penciptanya, sebab sejak dia muncul dengan patron yang konvensional, tidak ada yang mencatat nama penciptanya. Tapi, sebut saja dia ciptaan NN (No Name) sebagaimana lazimnya perlakukan kepada karya musik yang tidak diketahui nama penciptanya. Apalagi, yang pakem hanyalah lagunya, sementara liriknya selalu berubah-ubah, tergantung siapa yang menyanyikan dan perasaan apa yang berkecamuk di dalam hatinya saat itu.
TANGIS MILANGI
Tangis Milangi (Tangis Menghitung), hanya kita dengar di saat ada kemalangan. Ketika seseorang meninggal dunia, ada pihak-pihak yang mempersembahkan Tangis Milangi itu sebagai komunikasi terakhir, sebelum jenazah dimakamkan. Biasanya, yang mempersembahkan tangis milangi itu adalah kaum perempuan, ibu-ibu. Durasi Tangis Milangi tidak ditentukan. Tergantung panjang pendeknya kehidupan dijalani orang yang meninggal dunia. Atau tergantung panjang pendeknya pengetahuan yang ber-Tangis Milangi tentang orang yang meninggal dunia.
Tangis Milangi dimasukkan ke dalam golongan nyanyian, karena Tangis Milangi itu memang dinyanyikan (tangisan yang memenuhi semua unsur yang dibutuhkan oleh nyanyian), dan sebagai cirri khasnya yang lain adalah, selalu dinyanyikan dengan nada minor.
Kepeken berngini rebbak deng kita kirana
Naing mangan pelleng nimu katemu
Ndor aku meddem asa ndungo siceggen
Asa giam ndor kubahan pengidoenmi…
Nggo kessa cihur ceggen ari
Ndungo ko Pa, ninggu
Enggo ko keppe laus, Bapa
Uuuuuuuuu
Padahal tadi malam kita masih bersama ngobrol
Katamu ingin makan pelleng
Saya cepat tidur agar bangun pagi
Biar cepat saya kerjakan apa yang kau minta
Begitu pagi hari terang
Bangun, Pak, kataku
Ternyata engkau sudah pergi, Bapak
Uuuuuu (bagian ini disebut derru-derru/menangis jerit-jeritan)
Lirik di atas adalah salah satu yang dibuat secara bebas. Begitu bebasnya lirik Tangis Milangi itu, tanpa ada batasan apa-apa seperti juga durasinya. Bahkan, kadang-kadang sesuai yang rahasiapun disisipkan di sana, misalnya bicara tentang sesuatu yang belum terselesaikan dengan orang yang meninggal dunia (hutang piutang misalnya).
Tangis Milangi, sudah ada sejak dulu. Sehingga, bagi orang Pakpak, kematian tanpa ada Tangis Milangi, dianggap seperti sesuatu yang belum sempurna. Pilu mendengarnya, tapi kadang-kadang mendengar lirik yang dikarang pada saat itu juga, dalam hati bisa geli. Atau kita juga bisa geli, karena bisa mendadak yang tengah menangis milangi berhenti dan mengatakan kepada orang di sebelahnya, ‘’Giliranmu sekarang!’’ Atau sebaliknya, ketika bagian Uuuuuuuu (meraung-raung), tiba-tiba saja dia pingsan.
ODONG-ODONG
Walaupun masyarakat Pakpak terkenal dengan kebun kopi, berkebun nilam, dan mencari getah kemenyan, dan tiga-tiganya berasa di tempat sepi, Odong-Odong lebih dikenal milik perkemenjen (pencari getah kemenyan) di hutan belantara.
Sampai sekarang, perkemenjen masih terus melakukan pekerjaannya dengan pola dan cara yang sama. Seperti orang mau mergeraha (berperang), perkemenjen akan diberangkatkan oleh keluarga, dilengkapi dengan segala kebutuhan berhari-hari tinggal di hutan, termasuk perlengkapan ‘’perang’’nya, berupa golok, congkil (alat untuk mencongkel getah kemenyan).
Perkemenjen selalu laki-laki. Persoalannya, medan yang dihadapi selalu cukup ekstrem, masuk hutan sendirian atau berdua, yang tentu saja bisa tiba-tiba berhadapan bukan hanya cuaca, tapi segala sesuatu yang hidup di hutan, termasuk binatang buas.
Setelah memasuki hutan belantara, biasanya mereka akan membuat semacam saung (dalam bahasa Pakpak disebut sapo-sapo/rumah-rumahan) tempat mereka menginap dan berteduh kalau hujan tiba-tiba turun.
Tinggal di hutan bisa berhari-hari, bahkan bisa dalam hitungan minggu. Tergantung jumlah getah kemenyan yang dikumpulkan.
Bisa dibayangkan, sendirian, jauh dari keluarga, masak sendiri, tidur sendiri. Yang pasti temannya hanya ada satu: sunyi. Terutama saat perkemenjen memanjat pohon kemenyan di siang hari. Di bawah terik matahari perkemenjen berusaha agar getah kemenyan keluar dan mengental. Angin sepoi-sepoi, ada nyanyian burung dan desir angin meniup daun-daunan penambah rasa sunyi. Bayangan wajah anak dan istri tentu langsung menggelayut di benak. Saat itulah biasanya perkemenjem menumpahkan rasa sunyi dan semua harapannya ke dalam lagu yang disebut Odong-Odong.
Seperti juga Tangis Milangi, Odong-Odong tidak dibatasi durasi, tidak dibatasi lirik. Tergantung yang ber-Odong-Odong mau berhenti kapan, dan mau membuat liriknya seperti apa.
….. Otang kabang-kabang mi urang Julu ko lebbe manuk-manuk
Pesoh mo giam teddoh ni ate mendahi si buyung
I tengah rambah en ngo bapana merkemenjen
Giam burju-burju ia sikkola
Barang mi juma mendengani inangna
Odong-odong-odonggggggg (ditingkahi dengan legato yang meliuk-liuk)
Terbang ke urang Julu (ke daerah hulu) lah kau burung
Sampaikan rindu hati kepada si buyung (anak)
Bapaknya di tengah hutan mencari kemenyan
Mudah-mudahan dia baik-baik sekolah
Atau ke ladang menemani ibunya
Odong…odong…odong…..
(contoh lirik bebas Odong-Odong)
Tangis Milangi maupun Odong-Odong adalah sebuah peninggalan nenek moyang orang Pakpak yang sesungguhnya tiada bertara. Yang berhubungan dengan jiwa, dan dibebaskan kepada jiwa siapa saja yang membawakannya. Bisa jadi, itu pula yang membuatnya terus lestari, sebab setiap saat bisa diaktualisasi, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan batin yang membawakannya.
Daun Berzikir (Pesan dari kaki gunung Salak)
……..
Tergetar rindu kampung halamanku
Yang telah punah ditelan bencana
Insan serakah dengan keganasan
Penuh nafsu menguasai bumi
Selamat pagi tragedi
(Penggalan lirik yang ditulis Remy Soetansyah untuk lagu Selamat Pagi Tragedi, album Anak Asuhan Rembulan (Peterson), band Grassrock, 1991)
Pujilah Tuhan Dengan Menanam Pohon. Kalimat itu tertulis di sebuah poster, bergambarkan Bella Saphira memegang bibit tanaman. Dan, yang membuat slogan itu adalah seorang musisi muda bernama Viky Sianipar.
Belakangan, Viky yang terkenal sebagai musisi yang begitu concern membuat lagu-lagu tradisional Indonesia menjadi santapan dunia, lewat aransemen-aransemen yang memukau, membagi konsentrasinya ke hal lain di luar musik. Dia begitu prihatin melihat tepian Danau Toba yang mulai gersang. Yang mulai sepi pohon. Padahal, pohon adalah juga sumber kehidupan. Pohon memberikan banyak hal untuk kehidupan.
Apa yang dikonsepkan Viky tidaklah berlebihan. Keresahannya sebagai anak bangsa harusnya kita hargai, dan kita dukung sepenuhnya. Dia mencoba menggiring orang untuk serius memberi cinta kepada kehidupan itu, dengan menanam pohon. Satu keluarga menanam satu pohon saja, menurut Viky sudah bisa dibayangkan berapa pohon yang kemudian akan tumbuh sebagai harapan baru.
Di akhir pekan, dua minggu lalu, penulis beruntung menikmati sejuknya angin yang bertiup dari sela-sela daun pepohonan rimbun yang tumbuh, dan terawat dengan baik. Adanya di Cipuray, di kaki gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Di padepokan Pak Tony, seorang lelaki paruh baya yang sudah puluhan tahun menentukan pilihan, hidup di atas tanahnya sekitar 10 hektar di kaki gunung Salak itu, dan berjanji memelihara semua tanaman yang tumbuh di atas tanahnya. Pak Tony yang arsitek, lulusan ITB itu konsisten menjaga janjinya. Dia hanya mendirikan 6 bangunan di atas tanahnya yang luas (bagian dari kaki gunung Salak itu), ditambah sebuah bale-bale di atas sungai tak begitu besar yang mengalir deras, plus satu mushola antik, didirikan dengan menggali/melubangi sebuah batu besar, di kaki bukit. Lalu di tengah gunung, Pak Tony juga membuka lapangan untuk digunakan sebagai tempat latihan fisik, dan nonfisik. Semua fasilitas itu boleh dipergunakan orang luar, tapi jumlahnya maksimal 40 orang. Alasannya adalah, jumlah itu ukuran yang pas untuk mendapatkan udara yang sangat segar, dan segala kebutuhan lain yang dihasilkan tumbuh-tumbuhan yang ada di situ.
Ketika berbincang dengan Pak Tony yang selalu tampil dengan busana hitam-hitam, dan mengenakan ikat kepala batik coklat hitam, lelaki itu begitu bersemangat menceritakan betapa bahagianya dia bergaul dengan hutan. Dengan pepohonan yang dirawatnya dengan baik di atas tanahnya. Dia membayangkan dengan keseimbangan yang dibangun, akhirnya daun-daun pohonan di atas tanahnya bisa berdzikir, memuja Sang Pencipta, karena daun-daun itu merasa disayangi sebagaimana harusnya, dan memberi apa yang dibutuhkan manusia secukupnya, sebagaimana juga seharusnya.
Pak Tony, bisa jadi dikatagorikan orang sebagai orang aneh. Melakukan pekerjaan yang sudah begitu asing di negeri ini. Dia menjadi salah seorang dari segelintir orang yang masih berpikir bahwa alam memberikan banyak hal yang sangat dibutuhkan manusia. Oleh karena itu, manusia harus memelihara alam dengan sungguh-sungguh.
Di negeri kita ini, pencanangan ‘’hijau alamku’’ sering juga terdengar. Tapi hasilnya, kita mendengar kabar terburuk, tahun ini misalnya, yang menduduki posisi teratas perusak hutan di dunia adalah negeri kita. Masya Allah!
Bagaimanapun, dalam hati kecil, kita semua mengakui itu. Fakta yang terjadi sehari-hari, begitu ganasnya orang-orang tak bertanggung jawab merusak, menjarak hutan kita menjadi semakin gundul. Semakin tandus. Yang akhirnya, bencana alam terjadi di mana-mana.
Hampir setiap saat kita menyaksikan petugas yang berwenang menangkap bonggolan kayu bertumpuk-tumpuk, yang dibabat dari hutan, untuk kemudian tujuannya memperkaya orang perorang. Seperti kata pak Tony, kalau kita tidak mencintai alam, tidak memelihara keseimbangan, lama kelamaan alam itu sendiri yang akan menelan kita hidup-hidup.
Apa yang dibayangkan Pak Tony sesungguhnya sudah terjadi. Kita tak perlu mengingatkan berapa banyak bencana alam yang terjadi di negeri ini, dan berapa banyak nyawa yang lenyap sia-sia karena bencana alam itu.
Pak Tony selalu setia menunggu kesadaran kita. Dia terus mengurusi pohon-pohonan di atas tanahnya. Bahkan dia sudah berhasil menambah jenis tanaman 30-an jenis pohon bambu menghiasi pohon-pohon keras yang sudah ada. Dia hidup sehat bersama komunitasnya di tempat itu. Menikmati apa yang seharusnya bisa dinikmati dari tumbuh-tumbuhan itu.
Pohon dibutuhkan untuk penyeimbang, penyaring udara yang jumlahnya sebenarnya sangat terukur dibutuhkan manusia. Maka tak heran kalau Pak Tony mengaku takut datang ke kota, karena takut sesak tak mendapatkan jumlah, serta kejernihan udara yang dia butuhkan, dan dia dapatkan selama hidup di hutan. Dia sendiri tidak ingin ektrem menanggapi itu. Tapi dia benar-benar prihatin, dan berharap orang-orang kota menyadari itu. Orang-orang yang merusak pohon di hutan-hutan menyadari itu.
Maka tak heran, kalau kemudian Pak Tony membayangkan, harus ada orang yang menjadi pelopor, mencanangkan, mengkampanyekan soal kebutuhan tanaman, pohon-pohon itu tadi. Dia membayangkan, kalau semua artis menjadi seperti Viky, yang membagi konsentrasinya berkampanye untuk menanam pohon, itu sangat menarik. Selebriti menurutnya selalu punya fans yang loyal. Yang mengikuti apa kata pujaannya. Nah, kalau selebriti di Indonesia ini 1000 orang (katakanlah begitu), lalu masing-masing punya 1000 fans yang diajak menanam pohon, maka 1 juta pohon dalam satu periode sudah tertanam. Mungkin bukan untuk kita sekarang, tapi setidaknya anak cucu kita kelak terselamatkan dari ancaman alam. Terselamatkan dari malapetaka.
Kegalauan Remy Soetansyah dalam lirik yang ditulisnya untuk lagu Selamat Pagi Tragedi, bisa jadi terobati. Manusia tak serakah lagi menganiaya bumi. Hutan kembali hijau. Ah….
Ketika malam semakin larut, Pak Tony menyilakan penulis menikmati suasana, dan kebersihan udara yang diberikan alam sekitar. Bukan hanya damai, tapi bersihnya udara yang tersembur dari sela-sela dedaunan itu, membuat kerongkongan dan paru-paru sejuk sejenak, sebelum kembali ke sesaknya udara Jakarta. (hmb)
Balada Sepakbola Negeri Kita
Di sini, bukan sepakbolanya yang seru, tapi soal organisasi yang membawahi cabang olahraga sepakbola yang bernama PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia). Adalah Nurdin Khalid, sang ketua umumnya didera cerca, didemo, dimaki dan sebagainya, bukan hanya karena dia sebagai ketua umum PSSI, tapi yang paling aktual, karena namanya tercantum untuk ketiga kalinya sebagai calon ketum PSSI. Tim verifikasi menyingkirkan dua calon lain, George Toisutta dan Arifin Panigoro.
Mengikuti rame-ramenya, sumpah mampus, kita dibikin bingung. Awalnya Nurdin diam. Disuruh mundur diam. Kantornya di Senayan di rante pendemo, dia diam. Dimaki-maki, dia tetap diam. Tapi belakangan, dia angkat bicara. Yang paling inti adalah, dia menegaskan bukan dirinya seharusnya yang didemo, tapi tokoh-tokoh yang memintanya tetap menjadi ketum PSSI.
Suasana kadung mengeruh. Adukannya makin cepat dan kekeruhannya makin kental. Nurdin disudutkan menjadi tokoh yang benar-benar tak disuka. Bisa jadi menjadi sedikit berubah, kalau kemudian Nurdin tak cuma mengatakan ada tokoh-tokoh yang memintanya tetap menjadi ketum PSSI. Sebut nama mungkin bisa sedikit menolong, jadi arah pandangan bisa bercabang.
Sepakbola di negeri ini selalu kisruh. Entah bagaimana dan siapa yang harusnya dengan jujur unjuk dada mengatakan, ''Ini salah saya!'' Adakah? Ooo tidak mungkin.
Sebelumnya, PSSI juga dibuat gerah, ketika muncul gerakan Liga Premiere Indonesia. PSSI mengatakan LPI itu seperti liga antarkampung saja, karena menurut mereka itu tidak diakui FIFA.
Maka bukan jalan perdamaian yang selalu muncul, tapi saling bertahan dan saling menuding. Mana yang benar? Mana yang salah.?
Kita sebagai rakyat jelata sebetulnya nggak peduli dengan itu. Yang kita peduli adalah, bagaimana kita bangga melihat prestasi sepakbola negeri persada.
Tapi bagaimana sepakbola mau berperestasi kalau pengurusnya sibuk memikirkan ''mempertahankan'' posisi, membuat organisasi tandingan dan lain sebagainya?
Mengikuti rame-ramenya, sumpah mampus, kita dibikin bingung. Awalnya Nurdin diam. Disuruh mundur diam. Kantornya di Senayan di rante pendemo, dia diam. Dimaki-maki, dia tetap diam. Tapi belakangan, dia angkat bicara. Yang paling inti adalah, dia menegaskan bukan dirinya seharusnya yang didemo, tapi tokoh-tokoh yang memintanya tetap menjadi ketum PSSI.
Suasana kadung mengeruh. Adukannya makin cepat dan kekeruhannya makin kental. Nurdin disudutkan menjadi tokoh yang benar-benar tak disuka. Bisa jadi menjadi sedikit berubah, kalau kemudian Nurdin tak cuma mengatakan ada tokoh-tokoh yang memintanya tetap menjadi ketum PSSI. Sebut nama mungkin bisa sedikit menolong, jadi arah pandangan bisa bercabang.
Sepakbola di negeri ini selalu kisruh. Entah bagaimana dan siapa yang harusnya dengan jujur unjuk dada mengatakan, ''Ini salah saya!'' Adakah? Ooo tidak mungkin.
Sebelumnya, PSSI juga dibuat gerah, ketika muncul gerakan Liga Premiere Indonesia. PSSI mengatakan LPI itu seperti liga antarkampung saja, karena menurut mereka itu tidak diakui FIFA.
Maka bukan jalan perdamaian yang selalu muncul, tapi saling bertahan dan saling menuding. Mana yang benar? Mana yang salah.?
Kita sebagai rakyat jelata sebetulnya nggak peduli dengan itu. Yang kita peduli adalah, bagaimana kita bangga melihat prestasi sepakbola negeri persada.
Tapi bagaimana sepakbola mau berperestasi kalau pengurusnya sibuk memikirkan ''mempertahankan'' posisi, membuat organisasi tandingan dan lain sebagainya?
Infotainment ala Sakti
Kalau biasanya Sakti konsentrasi pada hal-hal yang sifatnya berita perorangan, khususnya para artis/selebriti, kali ini agak melebar. Dia merasa terusik saat mendadak sontak, infotainment kembali jadi bahan perbincangan umum. Bahkan, muncul wacana dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), agar infotainment yang selama ini faktual (karya jurnalistik) dipindah ke nonfaktual (bukan karya jurnalistik).
Banyak yang mencak-mencak bahkan meledak-ledak karena wacana ini, apalagi tiba-tiba komisi 1 DPR mengamini wacana ini, walau, hasil akhirnya tetap pada pembahasan dengan pihak-pihak terkait, termasuk Dewan Pers, Persatuan Wartawan Indonesia (yang menaungi infotainment dalam satu departemen).
Siapa bilang infotainment bukan karya jurnalistik? Itulah pertanyaan yang muncul dalam benak Sakti. Sejak awal infotainment itu muncul, berangkatnya adalah memberitakan segala peristiwa yang terjadi di dunia selebritis. Mungkin karena menyangkat selebriti, maka dia cepat sekali terkenal bahkan menarik rating tontonan televisi yang cukup besar.
Berkali-kali infotainment berbenturan dengan macam-macam persoalan, tapi menurut Sakti inti dari semua benturan itu adalah bagaimana berita-berita infotainment itu ada yang tersaji tanpa mengindahkan kode etik jurnalistik (KEJ), kode etik profesi wartawan Indonesia.
Sakti tak ingin membiaskan pikirannya pada kemungkinan pemanfaatan infotainment yang rating dan sharenya cukup tinggi untuk kepentingan-kepentingan khusus. Dia ingin fokus melihat wacana yang dilontarkan KPI, kemudian fakta yang dia lihat di layar kaca.
Sebenarnya bukan hanya infotainment. Kalau kita bicara pelanggaran kode etik, banyak sekali sajian-sajian di layar kaca seperti itu. Tapi okelah. Anggap saja infotainment itu memang sangat disayang orang banyak, sehingga mata dan perhatian selalu terpusat kepadanya.
Infotainment melanggar kode etik? Bisa jadi. Apalagi kalau katanya ada laporan-laporan soal itu. Sakti berpikir, kenapa kesalahan itu tidak pernah dibuka secra spesifik. Menyebut jenis pelanggarannya, pada tayangan apa, dalam berita apa? Mungkin ini akan lebih mudah mengantisipasinya.
Kalaupun melanggar, pikir Sakti, tentu ada mekanisme yang jelas. Sebagai karya jurnalistik, infotainment itu di bawah pengawasan PWI (organisasi di mana ia bernaung), kemudian ada Dewan Kehormata PWI, lalu ada Dewan Pers.
Siapapun berhak mengeritik apalagi menunjukkan kesalahan yang konkret dilakukan infotainment itu. Sakti berpikir, mungkin ada cara yang lebih pas ketimbang langsung koar-koar. Menyerahkan laporan-laporan itu ke Dewan Pers, agar dipertimbangkan untuk melakukan action kepada yang dilaporkan. Atau, kalau bentuknya nasihat, cobalah ada yang berpikir mengajak pihak station tv berbicara soal infotainment. Suruh station itu menekan PH pembuat infotainment untuk tunduk setunduk-tunduknya kepada kode etik jurnalistik. Pasti beres seperti membalik tangan.
Sakti cengar-cengir. ''Jangan-jangan bukan itu tujuan utamanya,'' pikir Sakti. Maka, sejenak dia hentikan otaknya untuk berpikir. (hmb)
Derita Seniman Indonesia
Menyaksikan potret hidup seniman Indonesia, Sakti merasa ngilu. Yang paling aktual saat ini adalah kisah Franky Sahilatua. Seniman tulen asli Ambon asal Surabaya itu, sedang terbaring tak berdaya di sebuah rumah sakit di Singapura. Awalnya sakit batu ginjal, tapi ternyata kena kanker sumsum. Sudah dilakukan operasi sekali, mengangkat 20an benjolan dari 50an benjolan yang muncul di punggungnya. Jadi akan dilakukan beberapa kali operasi lagi.
Dan, yang membuat Sakti ngilu adalah, persoalan yang kemudian dihadapi Franky bukan hanya penyakitnya. Tapi bagaimana membiayai pengobatan dan perawatannya. Bah!
Merunut kembali ke era 80an, Sakti yakin seyakin-yakinnya, Franky yang kala itu muncul dengan nama Franky & Jane (Frankt berduet dengan adiknya, Jane) tercatat sebagai artis papan atas. Nyanyian folk yang mereka tawarkan selalu mendapat tempat. Secara nama mereka luar biasa, dan secara penghasilan seharusnya juga luar biasa. Apalagi, Franky juga terkenal sebagai pencipta lagu-lagu hits yang luar biasa.
Lalu apa yang membuatnya tak berdaya sekarang menanggulangi biaya pengobatan?
Sakti menarik nafas panjang. Bukan hanya Franky, tapi lagi-lagi kalau merunut waktu ke belakang, mayoritas seniman Indonesia ternyata hanya mengantongi wangi nama besar di kemudian hari. Bolehlah menyebut siapa saja seniman Indonesia yang ketika diserang penyakit di hari tuanya, selalu babak belur.
Apa sebenarnya yang terjadi?
Sakti mengingat lagi, seorang petinggi di negeri ini pernah berbincang dengan Sakti. Petinggi yang menceritakan begitu banyak dia berteman dengan seniman. Dan si petinggi ini merasa bangga, bisa membantu beberapa seniman. Tapi di balik cerita bantuan itu, si petinggi yang jawara soal ekonomi itu mengatakan, hal yang paling gagal di dunia seniman Indonesia adalah management. Baik management yang diolah sendiri oleh si seniman itu (untuk dirinya), maupun management yang dikelola kelompok seprofesi.
Maka ketika nama masih besar, uang masih banyak, sering lupa bahwa hari masih panjang. Menurut si ekonom itu, management pengelolaan uang adalah persoalan utama. Ditambah lagi, sulit rasanya membangun kejujuran, misalnya memastikan bahwa sebuah karya yang terus-menerus digunakan, dihargai tak seberapa. Atau malah seringkali ada karya yang menjadi bola liar. Si pemilik karya tak lagi tahu mengejar bayaran karyanya yang beredar ke mana?
Namun yang paling parah lagi, secara profesi kurang ada kesepahaman atau pemikiran untuk membuat sesuatu bagi kepentingan kesejahteraan atau untuk menanggulangi hal-hal darutat.
Maka meringislah Sakti. Dia yang sedikit banyak mengetahui kehidupan Franky karena cukup lama juga berteman, hanya bisa menarik nafas dan mengeluas dada. Sakti merasa bangga teman-teman seniman biasanya melakukan aksi ketika ada seorang seniman bermasalah. Seperti melaksanakan pengumpulan dana untuk Franky semalam dan terkumpul 117 juta rupiah.
Sakti merasa, sudah seharusnya para seniman itu memikirkan diri dan kelompok mereka. Bagaimana hidup mereka sejahtera apalagi di masa tuanya. Bagaimana mereka tidak terpuruk, padahal sebelumnya duduk di singgasana terpuncak.
Sakti ingin, dramatisasi yang muncul ketika seorang seniman sakit bukan pada kisah bagaimana mereka menjadi sangat papa, tak mampu apa-apa. Tapi semua terkelola dengan cantik.
Semoga Franky kembali pulih dan kembali berkarya. Amin. (hmb)
Fenomena Fenomena
Dua hari lalu Sakti menunggu-nunggu waktu tengah malam. Bersama teman-teman dia keluar rumah, menatap langit dan menunggui bulan kembar. ''Ini adalah tanda-tanda,'' komentar seorang temannya.
''Tanda-tanda apa?'' desak Sakti.
''Mau kiamat.''
Duh!
Sakti mengernyitkan dahi. Tak berkomentar lagi. Dan, ketika berpisah dari teman-temannya. Sakti tersenyum. Dia ingat lagi omongan teman-temannya. Dari sekian banyak mereka yang berkumpul melihat ''bulan kembar'' itu, hanya beberapa yang memahami fenomena itu. Bahwa planet Mars mendekati bumi, kemudian dia muncul dalam ukuran besar, seolah-olah bulan menjadi dua di malam hari.
Nggak apa-apa, pikir Sakti. Toh bukan hanya teman-temannya saja yang seperti itu. Di mana-mana orang membicarakan fenomena. Sungai darah di India, bongkah es yang ukurannya seperti gunung, mengambang di atas laut. Hujan kodok, kubah terbang dan macam-macam lagi. Begitu banyak yang menerjemahkannya sebagai tanda-tanda akan berakhirnya dunia.
Ini menarik, kata hati Sakti. Fenomena menjadi bahan omongan di mana-mana. Bahkan dengan rapi ditulis orang dan dibradcast di blackberry, beredar sebagai sms, jadi bahan tayangan televisi dan lain-lain.
Dua sisi yang berbeda analisis yang muncul. Satu sisi ini fenomena alam yang terjadi karena memang harus terjadi, atau terjadi karena ulah manusia yang tidak menyangi, mencintai dan merawat alam pemberian Tuhan sang pencipta alam semesta, dan sisi lainnya, ini benar sebagai ''tanda-tanda'' dari yang kuasa, bahwa kiamat telah dekat.
Secara pribadi, Sakti punya pilihan dari salah dua pilihan itu. Tapi dia melupakan itu. Dia hanya bingung, seperti yang dilakukannya bersama teman-temannya tadi, menikmati pemandangan peristiwa unik dan langka itu, lalu masing-masing berpendapat. Hanya berpendapat. Kalau itu memang kerusakan alam karena ulah manusia, tidak banyak yang membahas bagaimana mengatasinya? Apa yang harus diperbuat?
Seharusnya, kata Sakti, teman-temannya yang berpendapat ini fenomena alam yang membutuhkan sikap manusia, maka harus mulai dari lingkungan terkecil itu, langsung berbuat.
Atau ini tanda-tanda mau kiamat?
Kalau benar, maka yang dibutuhkan adalah tindakan lebih konkret lagi : Tobatkan diri masing-masing! (hmb)
Selebriti dan Penjara
Sakti sedang mengikuti berita-berita selebriti. Yang paling menarik perhatiannya adalah, makin maraknya selebriti yang berurusan dengan hukum. Ujung-ujungnya sudah bisa ditebak, mereka akan dihukum dan dijebloskan ke dalam penjara.
Orang berurusan dengan hukum selalu ada. Bukan sesuatu yang luar biasa. Tapi ketika selebriti yang tersangkut kasus, entah kriminal atau kasus lain seperti narkoba, selalu menjadi sorotan. Menjadi berita.
Seringkali para selebriti kemudian memrotes kondisi ini. Kalau selebriti punya kasus, kemudian ada saja yang berteriak, bukankah itu juga berlaku buat kelompok orang lain? Kenapa kalau selebriti langsung menjadi sorotan habis?
Sakti mencatat, setidaknya ada Ariel, Cut Tri dan Luna Maya (kasus video porno) Adjie Notonegoro, kena kasus (penipuan, jual beli berlian), Revaldo (kasus narkoba), Ibra Azhari (narkoba) dan sekarang ini lagi hangat, Andi Soraya (penganiayaan -- melempar seseorang dengan gelas).
Selebriti juga manusia. Itu benar, pikir Sakti. Tapi seharusnya juga sangat perlu disadari, ketika seseorang menjadi selebriti (figur publik), maka besar kemungkinan mereka menjadi panutan. Atas nama popularitas, keterkenalan, mereka menjadi tokoh yang bisa menentukan arah pikiran, setidaknya orang-orang yang ngefans kepada mereka.
Maka celakalah kalau para selebriti mengabaikan itu, dan tetap berlaku biasa saja, tak peduli dengan predikat yang disandang. Celakalah kalau kemudian pengikut-pengikut mereka dengan membabi-buta membela kelakukan mereka habis-habisan.
Memang tidak mudah bagi orang yang disandangkan predikat panutan tadi. Boleh-boleh saja kita bilang, ini urusan pribadi mereka. Tanpa berpikir bahwa sikap, prilaku mereka adalah virus yang bisa dengan cepat menular kepada (setidaknya lagi) penggemar-penggemar mereka.
Maka acungan jempol harus kita berikan kepada selebriti yang menularkan virus positif. Seperti apa yang pernah dilakukan anak-anak Slank. Mengakui pernah berurusan dengan narkoba, menyerukan berhenti menggunakannya, menunjukkan hal-hal positif dalam keseharian, kepedulian kepada sesama dan macam-macam lainnya.
Apa yang didapat Slank dengan menularkan virus seperti itu adalah sesuatu yang mungkin tidak terpikir sebelumnya. Ada kelanggengan, totalitas para fans mereka (apalagi Slank misalnya selalu rutin membuat sesuatu kegiatan positif lewat Slankersnya.
Ketika Roy Marten menyatakan betapa hancur hidupnya karena dua kali masuk bui karena narkoba, juga menjadi contoh bukan hanya menularkan sesuatu yang positif, tapi juga melanggengkan status keselebiritiannya.
Bukankah status itu juga membutuhkan pengakuan, kekaguman dan penghormatan?
Sakti berpikir lagi. Jadi selebriti memang tidak mudah. Tapi kalau disadari bahwa status itu ternyata bisa mengubah banyak hal, maka yang dibutuhkan adalah hidup lurus dan kehati-hatian. (hmb)
Narsis Membawa Bencana
Sakti masih terhenyak di kursi goyangnya. Acara TV yang baru ditontonnya, sudah habis berganti dengan segala macam iklan. Tapi nampak sekali Sakti tidak puas dengan acara yang baru ditontonnya. "Aneh.... gimana acara TV seperti ini bisa disajikan, tanpa ada pengetahuannya sama sekali.." gumam Sakti penasaran.
"Berdebat tidak beraturan...semuanya hanya mengeluarkan pendapat untuk diri sendiri, bukan suatu pencerahan untuk para penontonnya... tidak ada yang bisa dipetik dari talkshow ini...." bisik hati Sakti gelisah sambil menghirup sisa kopi pahitnya. "Tau hanya gini acaranya... mending tadi ikut nemani dua ponakan ke Jakarta Fair...bisa lebih segar dan gembira..." gerutu Sakti sambil bangkit dari kursi goyang, langsung berjalan menuju kamarnya.
Di dalam kamar Sakti malah bingung, ia menggaruk-garuk kepalanya, mengikat rambut sebahunya, perlahan-lahan ia merebahkan tubuhnya di ranjang besinya. Tapi tidak lama ia bangun kembali, duduk di sisi ranjang, keningnya berkerut "Privasi... bagaimana kalau saya membuat foto telanjang saya di kamar mandi... lalu HP saya itu dicuri...."
Sakti mengingat-ingat kata-kata dari seorang tokoh peranan wanita, dalam acara talkshow yang baru ditontonnya..."Ngapain foto dirinya sendiri, telanjang di kamar mandi? Iseng sekali....Apa tidak ada kerjaan lain?" cetus bathin Sakti semakin penasaran. Dahinya berkerut-kerut untuk mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri. Tiba-tiba wajah Sakti bercahaya, ia seperti menemukan jawaban arti pertanyaannya... "Narsisisme!!!" teriak hati Sakti gembira sambil menjentikan jarinya.
Sakti cepat bangkit dari duduknya di ranjang, sehingga ranjang besinya berderit, seperti jerit hatinya yang begitu gembira. Ia cepat membuka laptopnya. "Narsisisme.... hmm... aku harus cari arti dari kata itu...lebih baik aku langsung masuk ke wikipidia..." Sakti nampak bersemangat sekali. Tapi rupanya, koneksi internetnya tidak mau kompromi. Sangat lambat untuk membuka jaringan internet... "Ah....lambat kali....." gerutunya tidak sabar.
Begitu jaringan internet terbuka, Sakti langsung masuk ke link wikipidia, mengetik dengan cepat arti kata yang membuat ia sangat penasaran. Tapi kembali jaringan untuk masuk ke arti kata yang dicarinya, belum juga terbuka. "Woalahhhh....." teriaknya jengkel sambil bangkit dari duduknya, langsung ke luar kamarnya.
Tidak lama, Sakti sudah kembali sambil membawa kopi pahitnya yang masih mengepulkan asap panas. Ia menyeruput kopi panasnya sedikit, bersama itu link kata yang dicarinya terbuka.
"Narsisisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani, Narcissus, yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Tanpa sengaja ia menjulurkan tangannya, sehingga ia tenggelam dan tumbuh bunga yang sampai sekarang disebut bunga narsis.."
Sakti diam sejenak, keningnya kembali berkerut-kerut berpikir, ia benar-benar ingin menyimak dengan jelas kata demi kata di wikipidia. "Narsisisme bisa membawa bencana untuk diri sendiri....." pikirnya sambil menyeruput kopi pahitnya sedikit.
"Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir, bahkan Andrew Morrison berpendapat bahwa dimilikinya sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain. Narsisisme memiliki sebuah peranan yang sehat dalam artian membiasakan seseorang untuk berhenti bergantung pada standar dan prestasi orang lain demi membuat dirinya bahagia." Sakti mengangguk-angguk kecil, lalu melanjutkan membaca..
"Namun apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis...." Sakti kembali berhenti membaca sambil mengusap wajahnya, menghela nafas sejenak. "patologis...? Apa artinya ya...?" Dengan sigap Sakti langsung mencari arti kata patologis....
"Patologi merupakan cabang bidang kedokteran yang berkaitan dengan ciri-ciri dan perkembangan penyakit melalui analisis perubahan fungsi atau keadaan bagian tubuh. Bidang patologi terdiri atas patologi anatomi dan patologi klinik. Ahli patologi membuat kajian dengan mengkaji organ, sedangkan ahli patologi klinik mengkaji perubahan pada fungsi yang nyata pada fisiologi tubuh...." Sakti menghela nafas panjang, diseruput lagi kopi pahitnya. Tangannya kembali mengetik mencari kata fisiologi.
"Fisiologi, dari kata Yunani physis = 'alam' dan logos = 'cerita', adalah ilmu yang mempelajari fungsi mekanik, fisik, dan biokimia dari makluk hidup. Fisiologi dibagi menjadi fisiologi tumbuhan dan fisiologi hewan tetapi prinsip dari fisiologi bersifat universal, tidak bergantung pada jenis organisme yang dipelajari.
Misalnya, apa yang dipelajari pada fisiologi sel khamir dapat pula diterapkan pada sel manusia. Fisiologi hewan bermula dari metode dan peralatan yang digunakan dalam pembelajaran fisiologi manusia yang kemudian meluas pada specias hewan selain manusia....."
Sakti merenung sejenak, dilihatnya cicak di pojok langit-langit kamarnya, merayap perlahan menangkap nyamuk, tapi ternyata meleset. Bibir Sakti tersenyum melihat cicak yang kecewa tidak dapat makanan..."Cicak kecewa tidak berhasil menangkap nyamuk, manusia kecewa apabila kebutuhan informasi yang ingin diperoleh, justru hanya jadi benang kusut dan serba tidak jelas...." pikirnya, sambil jari-jari tangan mengetuk-ngetuk laptopnya. Sakti kembali melanjutkan membaca tentang Narsisisme...
"......bersifat patologis. Kelainan kepribadian atau bisa disebut juga penyimpangan kepribadian merupakan istilah umum untuk jenis penyakit mental seseorang, dimana pada kondisi tersebut cara berpikir, cara memahami situasi dan kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi normal.
Kondisi itu membuat seseorang memiliki sifat yang menyebabkannya merasa dan berperilaku dengan cara-cara yang menyedihkan, membatasi kemampuannya untuk dapat berperan dalam suatu hubungan. Seseorang yang narsis biasanya memiliki rasa percaya diri yang sangat kuat, namun apabila narsisme yang dimilikinya sudah mengarah pada kelainan yang bersifat patologis, maka rasa percaya diri yang kuat tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk rasa percaya diri yang tidak sehat, karena hanya memandang dirinya lah yang paling hebat dari orang lain tanpa bisa menghargai orang lain...."
Sakti kembali menyeruput kopi pahitnya, bacaan terakhirnya di wikipidia tentang narsisisme telah membuat pikirannya terbuka lebar. Ia merentangkan kedua tangannya, bangkit perlahan dengan bibir tersenyum. Ia langsung melempar tubuhnya di pembaringan, yang membuat ranjang besinya berderit nyaring.
"Memang banyak orang terlalu bangga terhadap diri sendiri.... tidak menghargai orang lain.... sikap narsisisme berlebihan..... seperti juga terjadi pada diri nara sumber wanita di TV tadi... buat foto dirinya, telanjang di kamar mandi.... dalihnya privasi.... foto, video, laptop... bukan tempat aman untuk menyimpan privasi.... uang tabungan di bank saja, bukan lagi privasi..... rumah tangga saja bukan lagi privasi... bila apa yang terjadi di dalam rumah sampai terdengar ke tetangga..... terlebih lagi bila apa yang dianggap privasi, sudah sampai ke tangan orang lain..... sikap narsisisme yang berlebihan.... ini sebuah penyakit manusia...." bibir Sakti tersenyum puas, seakan seluruh masalah yang dihadapi hari ini, mulai dari nonton TV acara talkshow, sampai kepada kasus video mesum, yang membuat ia kelabakan untuk menjaga dua ponakannya supaya jangan sampai nonton tayangan tersebut.
"hmm.... kini jelas sudah... yang perlu dijaga... sikap mementingkan diri sendiri, bangga terhadap diri sendiri, harus bisa menghargai orang lain... dan tentu juga menjaga kehormatan diri sendiri, jangan sampai berbuat bodoh....." cetus bathin Sakti sambil mengelus dagunya. Ia tiba-tiba tersentak kaget, ketika terdengar suara mobil masuk halaman rumah "hmm...itu tentu dua ponakanku baru pulang..." cetusnya sambil bangkit ke luar kamar.
Begitu Sakti membuka pintu depan rumah, kedua ponakan yang masih kecil-kecil itu langsung merangkul, "Oom... oom.... lihat... fotonya bagus-bagus...." teriak kedua ponakan Sakti hampir berbarengan, sambil menyorongkan kamera fotonya, yang tadi dipinjam kakak iparnya.
Sakti langsung melihat hasil foto di kamera digitalnya, sambil melirik kakak perempuan dan kakak iparnya yang nampak lelah berjalan ke kamar mereka di lantai dua.
"Bagus-bagus kan oom....." teriak kedua ponakannya lagi kegirangan.....
"Waduuuhhhh....apa ini bentuk narsisisme kecil ya....." Bisik bathin Sakti kuatir, sambil melihat segala tingkah polah kedua ponakannya di kamera digitalnya.
"Bagaimana, Oom? Bagus-bagus kan??" tanya kedua ponakannya lagi penuh rasa penasaran.
"Iya...bagus-bagus.... gaya kalian juga bagus-bagus....."
"Horeeeee......." teriak kedua ponakan Sakti kegirangan. Sakti menaruh telunjuknya di depan mulutnya. Kedua ponakan Sakti juga langsung menutup mulutnya, sambil melirik ke arah ruang atas.
"Tapi ingat pesan, Oom ya.... Kalian kalau foto, harus ditempat ramai seperti ini... tidak boleh di tempat sepi, tidak boleh di kamar tidur hanya berduaan...."
"Foto di kamar tidur mana bagus, Oom??" cetus dua ponakan sambil memonyongkan mulutnya. Tanpa mengetahui maksud dari pertanyaan Sakti.
"Hebat kalian...Juga jangan foto di kamar mandi ya....."
"Idiiiiihhhhhhhhhh...... malu lagi, Oom... masa foto di kamar mandi... iiihhh... malu... Tidak akan pernah, oom...." ujar dua ponakan Sakti sambil menggoyang-goyangkan kedua tangan mereka. Sakti langsung memeluk kedua ponakannya, mencium kening mereka, lalu menyuruh mereka cepat tidur. Kedua ponakan balas mencium pipi Sakti, setelah itu langsung berlari ke kamar. Sakti tersenyum melihat tingkah dua ponakannya.
Sakti mengunci pintu depan rumah, bersandar di pintu, menghela nafas panjang. "Semoga kelak saat mereka sudah besar, bisa terus menjaganya.....jangan sampai sikap narsisisme membawa bencana...."
Sakti memejamkan matanya. (sak)
Bertandang ke Negeri Upin Ipin
Hampir sepekan Sakti berkelana di negeri jiran, Malaysia, ternyata berita video mesum bukan menjadi santapan umum. Media di negeri tetangga itu memang menurunkan berita-berita Ariel, tapi sebatas update formal. Kelihatannya mereka tak ingin masuk lebih dalam. Justru dalam pertemuan beberapa rekan wartawan, Sakti terperangah ketika topik pembicaraan mereka ‘’menghangat’’ tentang film animasi, Ipin dan Upin.
Awalnya Sakti menanggapinya dingin. Dia mengakui, Ipin dan Upin sedang merasuki dunia anak-anak di Indonesia. Tayangan TPI setiap pukul 19.00 dalam bahasa Melayu, dan tayangan Disney Channel Asia dalam bahasa Inggris itu memang menjadi trend. Bukan hanya anak-anak, tapi orang dewasa juga. Bahkan istilah ‘’Betul….Betul…Betul…’’ menjadi candaan tiap hari.
‘’Sepekan lalu saya baru jalan-jalan ke Yogyakarta. Saya melihat fenomena Ipin dan Upin begitu merasuk di sana. Bukan hanya tayangan televisinya, tapi juga berbagai merchandise Ipin Upin laku dijual di tepi jalan,’’ ujar salah seorang wartawan hiburan kelompok Karangkraf, kelompok media besar di Kuala Lumpur.
Upin Ipin. Ini menjadi satu kejutan dari Malaysia. Betapa Sakti mendadak terbuka matanya, bahwa animator di sana cukup jeli menangkap situasi. Pembuatnya berangkat dari hal yang amat sederhana tapi mulia. Pada tahun 2007, tepatnya 14 September 2007, untuk pertama kali TV9 Malaysia menyiarkan film animasi anak-anak yang diproduksi Les’ Copaque itu. Ide dasarnya, membuat tema-tema mendidik anak-anak untuk menghayati makna bulan ramadhan.
Adalah tiga anak muda kreatif Malaysia, Mohammad Nizam Abdul Razak, Mohammad Safwan Abdul Karim dan Usamah zaid jebolan Multimedia University, Malaysia berkumpul mendirikan Les’ Copaque, setelah bertemu dengan sepasang suami istri yang menjadi pemodal. Mereka yang berlatar belakang animator itu membuat uji coba Upin dan Ipin itu. Ternyata mendapat respon yang luar biasa. Maka tema ramadhan pun harus dilebarkan.
Ipin Upin hadir menjadi potret sosial budaya di Malaysia. Termasuk tokoh-tkohnya yang mewakili mayoritas masyarakat: Melayu, India dan Cina. Bahkan, di kemudian hari ada tokoh Susanti, anak Indonesia.
Sejak awal, mereka tak ingin muluk-muluk. Penonjolan karakter dan aspek budaya Melayu dikedepankan, termasuk latar belakang (setting) kampung yang sejak semula mereka yakini akan menarik perhatian orang.
Sejak awal, mereka tak ingin muluk-muluk. Penonjolan karakter dan aspek budaya Melayu dikedepankan, termasuk latar belakang (setting) kampung yang sejak semula mereka yakini akan menarik perhatian orang.
Alhasil, mimpi mereka menduniakan keperibadian bangsa lewat animasi itu terwujud. Setidakya sekarang, beberapa negara sudah bisa menikmatinya. Selain di Indonesia (lewat saluran TPI), Upin Ipin juga disiarkan lewat Disney Channel Asia di Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam, Hong Kong dan Korea Selatan.
Sakti menjadi pendengar yang baik, ketika teman-temannya berapi-api menceritakan dan membanggakan animator negeri mereka. ‘’Saya pernah tanya, mereka membuat Upin dan Ipin ini selain ingin menonjolkan tema social budaya dan eksistensi kebangsaan tadi, juga karena mudah dibuatnya,’’ kata seorang teman lainnya.
Bah! Sakti menceritakan Unyil, sekarang (Laptop si Unyil), dengan landasan tema sama, menonjolkan budaya dan keseharian masyarakat Indonesia yang beragam. Tapi dia menganggap kalah langkah, karena dengan gampang saja bisa dibilang, Upin Ipin masuk Indonesia, dan menglahkan popularitas yang ada di sana.
Sakti berpikir. Tunggu saja. Biasanya kreator Indonesia panas kalau sudah berhadapan dengan kenyataan seperti ini. Mudah-mudahan pula rasa panas itu membuahkan kreasi yang luar biasa, dan tentu saja ada pula yang panas memodali, seperti tiga sekawan animator Malaysia yang ternyata dimodali Bandar minyak dan gas. (hmb)
Negeri Cowboy
Rasa gelisah yang menggerogoti Sakti sudah sampai di posisi paling puncak. Ketika menyaksikan ada seorang lelaki terhuyung-huyung meminta tolong, berdarah-darah di tengah keramaian, dan tidak ada yang berani menolong karena huru-hara sedang berlangsung, Sakti menelan ludah. Ada dua hal yang membuatnya tambah gelisah. Yang pertama, betapa rasa kebersamaan di negeri ini semakin terusik, dan rasa nyaman seakan dibuat tidak punya tempat. Yang kedua, betapa televisi (atas nama tayangan ekslusif, paling cepat) tak lagi menghitung apa yang ditayangkan sungguh membuat orang ketakutan. Gambar-gambar itu menjadi teror tersendiri.
Seperti berada di negeri cowboy, dar der dor pistol diterjemahkan seperti bunyi petasan saja. Baru ngeh, ketika orang pada roboh dan hilang nyawa seketika.
Apa yang tengah berlangsung di bumi pertiwi? Apa yang sedang berkecamuk di benak orang perorang anak negeri ini? Pertanyaan yang tidak pernah mendapat jawaban. Sakti hanya menyimpan pertanyaan itu, dan setiap ada peristiwa, seperti di Tarakan, Kalimantan dan tiba-tiba terjadi pula di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hari Rabu (29'9) siang, pertanyaan itu muncul lagi. Tak pernah ada jawaban.
Banyak orang menyebutnya perang suku. Bulshit! kata hati Sakti keras. Coba saja susuri persoalan awal, selalu berangkat dari pertikaian orang perorang, lalu yang laing mudah disulut memang dirembetkan ke kelompok.
Negeriku, negeri cowboy. Nyawa melayang di mana-mana, sia-sia. Bahkan petugas keamanan pun semena-sema terserempet dan diserang frontal. Lha, kalau yang kita yakini sebagai penjaga keamanan dan kenyamanan kita sebagai warga negara pun sudah diacak-acak, mau dibawa ke mana kita ini? Apakah harus sampai pada titik, keluar rumah pun kita sudah ketakutan?
Kalau sudah begini, kita tetap kembali pada aturan main sesungguhnya. Petugas keamanan harus tegas menindak siapa yang bersalah. Tegas, tangkas, tanggap, tepat dan cepat.
Tidak ada itu perang suku! kata hati Sakti. Yang ada adalah perang kepentingan orang perorang membawa-bawa kelompok.
Sakti kemudian menyeruput kopi dan menyulut sebatang rokok. Berharap semua segera selesai dan hidup di negeri yang demokratis dan berazaskan Pancasila ini rukun tenteram, aman sejahtera dan sentosa. (hmb)
Hari Musik Indonesia
Tanggal 9 Maret 2010 tercanang sebagai Hari Musik Indonesia. Dirayakan tentunya. Dengan cara apa? Ini soal. Perayaan hari jadi seperti ini biasanya mensyukuri anugerah, rezeki, keselamatan, kesuksesan dan sebagainya. Kalau mau dibagi dua, layaknya perjalanan hidup, harus dihitung suka dan duka. Dan tentu saja yang kita harap, sukanya lebih banyak.
Dunia musik Indonesia, apakah demikian adanya? Apakah sukanya benar lebih banyak dari dukanya? Nah... Kalau sudah masuk ke pilihan seperti ini, saya yakin musik Indonesia harus diakui masih diselimuti awan duka yang suram. Beberapa tahun belakangan, sosok (fisik) seperti kaset dan CD tak lagi populer di negeri ini. Para pengelola industri musik seperti tak punya jalan keluar dari benturan dengan para pembajak. Fisik benar-benar disikat sama pembajak yang ada di depan mata, jualan terang-terangan, tapi seperti tak tersentuh oleh apapun.
Maka tak heran kalau kemudian apa yang disebut RBT (Ring Back Tone) menjadi primadona. Apalagi secara materi dia menjanjikan. Hitung saja seperti band Wali misalnya, bisa menjual RBT sampai di atas 25 juta. Bego-begoan saja menghitungnya, Wali dapat 1000 perak dari tiap download, maka 25 milyar di tangan.
Yang jadi soal, apakah bermusik hanya mengarah pada tujuan uang? Para pemusik yang beruntung RBT-nya laku keras mungkin puas secara materi, tapi, dengan dipotongnya lagu mereka menjadi 30 detik dari rata-rata satu lagu lebih dari 3 menit, ini menyakitkan. Repot-repot membuat karya panjang, tapi akhirnya penggalan saja yang diminati orang. Sebagai seniman, pastilah ada rasa sakit. Ada ketidakpuasan.
Tapi sekali lagi, pembajak yang merajalela membuat semua berantakan dan para pebisnis industri musik harus berpikir sepuluh kali membuat sesuatu yang sudah pasti dibajak. Bayangkan, para pebisnis musik itu mengeluarkan konsep, tenaga, pikiran, rancangan, dan dana yang tidak sedikit, ketika barangnya sudah jadi, para pembajak membeli satu CD, lalu ''kerjai'', dengan modal penggandaan saja. Menyesakkan.
Padahal, jika dihitung pajak pendapatan pemerintah (apabila bisnis musik ini berjalan normal, bukanlah sesuatu yang bisa dikecilkan).
Selalu ada untung. Para produser musik Indonesia itu ternyata masih terus bergeliat tak putus asa. Bisa jadi kelesuan mereka sekarang ini juga bagian dari strategi. Seperti yang dilakukan salah seorang produser bernama Rahayu Kertawiguna, bos Nagaswara Records, yang bisa dibilang ''raja'' bisnis industri musik saat ini. Meski dari sisi pendapatan RBT luar biasa, Rahayu tak pernah mau kalah ''menghajar'' para pembajak. Terkenal keras dan tegas, berkeliling Indonesia untuk menumpas, memenjarakan para pembajak yang terang-terangan merusak bisnis industri musik di negeri ini.
''Saya tidak pernah takut, karena apa yang saya lakukan adalah membela eksistensi musik Indonesia yang seharusnya berkembang dengan baik. Semua rusak karena ulah para pembajak,'' tutur Rahayu dalam satu perbincangan dengan saya. ''Kita terus bekerjasama dengan pihak penegak hukum terkait untuk memberantas ini,'' tambahnya.
Dalam rangka memperingati Hari Musik Indonesia inilah, Rahayu dengan ratusan artisnya merancang sesuatu. Tepat pada tanggal 9 Maret, Rahayu punya ide gila, mengimbau hari itu menjadi hari tanpa musik. Ini bentuk protes. Semoga saja pihak terkait berkenan seiring sejalan.
Tapi di luar itu, Rahayu juga punya rancangan gebrakan yang bisa membelalakkan mata para pembajak itu. Yang ini belum diberitahu, karena dia ingin pada tanggal 9 Maret, ketika gebrakan itu dilakukan, semua terbelalak.
Kita tunggu, gebrakan Rahayu, dari Nagaswara dan berharap gebrakan dari produser-produser lain. No Music No Life.
Dunia musik Indonesia, apakah demikian adanya? Apakah sukanya benar lebih banyak dari dukanya? Nah... Kalau sudah masuk ke pilihan seperti ini, saya yakin musik Indonesia harus diakui masih diselimuti awan duka yang suram. Beberapa tahun belakangan, sosok (fisik) seperti kaset dan CD tak lagi populer di negeri ini. Para pengelola industri musik seperti tak punya jalan keluar dari benturan dengan para pembajak. Fisik benar-benar disikat sama pembajak yang ada di depan mata, jualan terang-terangan, tapi seperti tak tersentuh oleh apapun.
Maka tak heran kalau kemudian apa yang disebut RBT (Ring Back Tone) menjadi primadona. Apalagi secara materi dia menjanjikan. Hitung saja seperti band Wali misalnya, bisa menjual RBT sampai di atas 25 juta. Bego-begoan saja menghitungnya, Wali dapat 1000 perak dari tiap download, maka 25 milyar di tangan.
Yang jadi soal, apakah bermusik hanya mengarah pada tujuan uang? Para pemusik yang beruntung RBT-nya laku keras mungkin puas secara materi, tapi, dengan dipotongnya lagu mereka menjadi 30 detik dari rata-rata satu lagu lebih dari 3 menit, ini menyakitkan. Repot-repot membuat karya panjang, tapi akhirnya penggalan saja yang diminati orang. Sebagai seniman, pastilah ada rasa sakit. Ada ketidakpuasan.
Tapi sekali lagi, pembajak yang merajalela membuat semua berantakan dan para pebisnis industri musik harus berpikir sepuluh kali membuat sesuatu yang sudah pasti dibajak. Bayangkan, para pebisnis musik itu mengeluarkan konsep, tenaga, pikiran, rancangan, dan dana yang tidak sedikit, ketika barangnya sudah jadi, para pembajak membeli satu CD, lalu ''kerjai'', dengan modal penggandaan saja. Menyesakkan.
Padahal, jika dihitung pajak pendapatan pemerintah (apabila bisnis musik ini berjalan normal, bukanlah sesuatu yang bisa dikecilkan).
Selalu ada untung. Para produser musik Indonesia itu ternyata masih terus bergeliat tak putus asa. Bisa jadi kelesuan mereka sekarang ini juga bagian dari strategi. Seperti yang dilakukan salah seorang produser bernama Rahayu Kertawiguna, bos Nagaswara Records, yang bisa dibilang ''raja'' bisnis industri musik saat ini. Meski dari sisi pendapatan RBT luar biasa, Rahayu tak pernah mau kalah ''menghajar'' para pembajak. Terkenal keras dan tegas, berkeliling Indonesia untuk menumpas, memenjarakan para pembajak yang terang-terangan merusak bisnis industri musik di negeri ini.
''Saya tidak pernah takut, karena apa yang saya lakukan adalah membela eksistensi musik Indonesia yang seharusnya berkembang dengan baik. Semua rusak karena ulah para pembajak,'' tutur Rahayu dalam satu perbincangan dengan saya. ''Kita terus bekerjasama dengan pihak penegak hukum terkait untuk memberantas ini,'' tambahnya.
Dalam rangka memperingati Hari Musik Indonesia inilah, Rahayu dengan ratusan artisnya merancang sesuatu. Tepat pada tanggal 9 Maret, Rahayu punya ide gila, mengimbau hari itu menjadi hari tanpa musik. Ini bentuk protes. Semoga saja pihak terkait berkenan seiring sejalan.
Tapi di luar itu, Rahayu juga punya rancangan gebrakan yang bisa membelalakkan mata para pembajak itu. Yang ini belum diberitahu, karena dia ingin pada tanggal 9 Maret, ketika gebrakan itu dilakukan, semua terbelalak.
Kita tunggu, gebrakan Rahayu, dari Nagaswara dan berharap gebrakan dari produser-produser lain. No Music No Life.
Langganan:
Komentar (Atom)







