Senin, 07 Maret 2011

DIARY DAIRI


PENGANTAR

Dairi, tanah Pakpak seringkali hanya jadi ilusi, bagi yang tidak mengerti. Tapi bagi kami, yang dilahirkan dan dibesarkan di sana, Dairi adalah tempat yang begitu sejuk dan tak terlupakan. Di sana kami mengurai dan merangkai kenangan. Manis dan pahit, tercatat dalam ruang hati kejujuran. Ada kalanya, kenangan itu muncul. Lalu menyenangkan, dan adapula yang menyakitkan. Semua harus tak  terhapus. Dan, ketika muncul desakan untuk berbuat, saya merasa nikmat menuangkan catatan peristiwa yang pernah ada, berharap jadi perenungan.
Bukankah berbagi adalah pekerjaan mulia, walau hanya sekadar cerita?
Saya juga tak begitu peduli, apa jenis rangkaian cerita ini. Yang pasti, kenangan Dairi yang saya tinggalkan sejak tahun 1979 saya tuang lewat kata-kata yang muncul begitu saja. Bagi teman seusia, dia menjadi cerita kenangan. Bagi yang muda, dia menjadi cerita pembuka mata. Begitu harapannya.
Terimakasih kepada semua yang mendorong dan mendukung sehingga Diary Dairi ini akhirnya selesai. Bapak Jansen Sinamo, yang menyumbangkan beberapa judul. Bapak Yade Ujung, Esra Banurea, Jannes Banurea, dan tentu saja anak-anak dan istri saya yang terus memberi pengertian dan support yang tak terbatas. God bless you all.

Hans Miller Banurea



1
SEMBAT

dalam sempurnanya sunyi
aku memasuki ruang yang sangat dalam
 masa silam
mencium wangi dupa puja-puja
berhembus dari bawah pohon beringin
sisi kanan jalan setapak belakang pabrik limun
wangi yang tak pernah membuat merinding
karena dia sudah menjadi aroma setiap waktu
lalu selalu bergegas agar segera tiba
menyapa bibir sembat
tembok semen berlumut hijau kehitaman

tubuh diceburkan
berbaur dengan siapa saja
dengan rasa apa saja


langit biru
langit abu-abu
langit hitam
panas terik
hujan gerimis
hujan deras
sembat seperti magnet
menarik-narik keras
minat merenangi dinginnya air yang muncrat dari perut bumi
tak henti limpahi dua kolam tua
dari semua sudut kota sidikalang
bebas datang
berenang atau sekadar bercengkerama
sembat
menjadi kolam hiburan
ah… sembat
masihkah airmu dingin menyemburat?


2
PENJARA

bocah kecil mengetuk pintu besi yang angkuh
tangannya menenteng rantang peot
berisi masakan ibu
‘’aku mengantar makanan untuk ayah,’’ katanya
lalu pintu kecil di sudut kiri pintu utama terbuka
bocah kecil masuk, seperti biasa
ayahnya menyambut tetap tersenyum
begitu setiap hari
tak dihitungnya sudah berapa lama
atau malah dia tak pernah berpikir untuk menghitungnya
bocah kecil tak pernah terguncang jiwanya
dia hanya menyimpan pertanyaan:
kenapa ayah dipenjara?
dan ayah yang semakin kerontang
tak pernah menjelaskan apa-apa
hidup berjalan biasa
ibupun hanya berkata, ‘’ayahmu sedang di penjara.’’
jika lelah, bocah kecil tidur di pangkuan ayah
di kamarnya yang kecil dihuni puluhan orang
pernah dilihatnya ayah menitikkan airmata
itupun tak terpikir ditanya, kenapa?
bocah kecil, terlalu dini untuk memahami makna
pergulatan hidup yang tak pernah bisa diduga
membawa ayah terjerat hukum atas perbuatannya
kini bocah kecil tumbuh dewasa
ayah telah tiada
ibu telah tiada
pertanyaan yang dulu disimpannya
tak juga ada jawabannya.
bocah kecil tetap menyimpannya
mungkin jadi rahasia yang tak pernah terbuka
selamanya
….


(aku tahu persis apa yang ada dalam batin si bocah kecil
karena dia adalah aku. dan penjara itu adalah penjara kota sidikalang, di masa lalu terletak di depan rumah sakit umum)



3
WISATA IMAN

di sana
di gerbang pintu masuk kotaku, sidikalang
di atas bukit bongkah-bongkah batu cadas
aku menatap hasrat yang putih

adalah mimpi kebersamaan
hidup dalam ketenteraman
terwujud dalam wisata iman

bukan!
itu bukan ala kadar
miniatur  tempat-tempat ibadah
dan catatan sejarah

bukan!
itu bukan sekedar gagah-gagahan
tapi berdiri di atas kesadaran
di mana semua insan dapat mengukur
jarak batin dengan sang Khalik

dihiasi pepohonan nan rindang
diusap nyanyian angin sepoi
khusuk diri menyelami lautan jiwa sendiri
mengukur tebalnya keimanan
menghitung ketulusan saling menghormati
menegaskan keyakinan
jalan dan cara berbeda
tujuannya sama
garisnya vertikal menuju langit
menghubungkan tali hati
dengan Tuhan


4
LAE PANDARO

berbuih-buih limpah berbusa-busa
tumpah dari sela bebatuan
bagai salju dingin menyiprati
siapa dan apa saja yang ada di bibir jembatan
lae pandaro
keras hempasanmu seolah sapaan
selamat datang kepada siapa saja
yang menghampiri Sidikalang
sendu  nyanyianmu seolah ucapan
selamat jalan kepada siapa saja
yang pergi tinggalkan sidikalang
lae pandaro…
irama benturanmu di atas bebatuan
adalah irama semangat yang teratur
diam-diam kau tikamkan ke ulu hati
hidup itu keras
hadapi atau tantang dia
seolah itu yang kau katakan
lantas
perpisahan menjadi wajib
tinggalkan kau tetap di situ
kelak temui kau tetap di situ
di bawah rindangnya pohon-pohon liar

dan
pada pertemuan berikutnya
aku meneriakkan, telah kutaklukkan kehidupan
telah kutaklukkan tantangannya
nyanyianmu tetap seperti itu
kau sambut aku ketika pulang
dengan bunyi-bunyian yang sama
kau antar aku pergi
dengan nyanyian yang berbeda:
jangan pernah menyerah dan kalah!
selalulah jadi pemenang!


5
SUKARAME URUK

kunang-kunang cantik
cahayanya menjelma jadi setitik warna
terang membelah hitamnya malam
menatap dari sukarame uruk
ke sukarame jehe
seperti menatap masa lalu
ketika tangisan pertamaku
menjadi senyuman ibu
yang berkeringat dan berdarah-darah
melahirkanku di sukarame uruk
aku hanya mencatat tempat lahirku di
sukarame uruk
meninggalkan ari-ariku di kota sepi
lalu rinduku selalu menjadi anyaman
yang indah
kepada malam-malammu yang sunyi
kepada angin dinginmu yang menikam
kepada hijau hutanmu
kepada ramah penghunimu

oooo sukarame uruk
kubayangkan kau telah berubah
menjadi perawan cantik
bersolek genit bibirmu bergincu merah
begitukah?
atau kau masih seperti dulu
hanya menjadi kota lintasan
yang ditinggal lambayan tangan
lalu diam
dan selalu berakhir sunyi

ooo sukarame uruk
masihkah kau duduk di bibir tebing
yang terjal
diam seperti tak berpengharapan?
kubayangkan kau telah berubah
menjadi kota yang dipermak
berhias kemajuan
atas nama pembangunan yang pesat
sehingga kelak
jika aku pulang
kita bercengkerama
dalam senda tawa karena bangga
atas perkembangan yang kau peroleh



                                                6
 GAVA – BARISAN NAULI

malam
bulan seperempat
menggelayut malu-malu di balik awan
hidupkan jalan gava dari senyap
berjalan beriring ke ujung barisan nauli
derak-derik pohon bambu si jaminus
menandakan tiup angin kencang
lalu nyanyian bersahutan dari tepi jalan
beradu seru dengan nyanyian parmitu
dari lapo si nase solin

ketika saatnya tiba
berangkatlah pencari makna
penakluk hidup
berharap doa-doa dari penghuni gava barisan nauli
agar kelak
putra yang dibesarkan di sana
mampu mendapatkan
apa yang seharusnya didapatkan
gava
barisan nauli
terus menggeliat
tak pernah henti lahirkan generasi
ada yang menjadi penjaga
terus bernafas dalam pangkuan ibunda
ada pula yang oleh garis tangan menggiringnya pergi
jauh

tapi gava - barisan nauli
tetap terjaga
seperti ibu yang melahirkan banyak anak
membesarkan anak-anaknya
dan pada waktunya
membiarkan anak-anaknya pergi
lalu menunggunya kembali
tanpa berharap apa-apa
    gava - barisan nauli
tetap menunggu
di tempat yang sama
duduk termenung
merajut rindunya
















7
SIMERPARA

di jalan setapak basah
tertutup dedaun lepas dari ranting
hutan tebal kukuhkan misteri
nyanyian aneka ragam satwa liar
menjadi sahabat pencipta riang
hati yang gelisah
oo… akan ke manakah kaki melangkah
ketika simerpara selamanya sahabat sunyi
malam-malamnya berhias auman si raja hutan
sepi-sepinya diusik dengus babi hutan
menggosok tubuh ke tiang penyangga kediaman
simervara
kucatatkan seribu atau sejuta cerita
di langitnya
cerita kepasrahan kepada alam
cerita pemahaman kepada cuaca
semuanya diterjemahkan ayah dan ibu
sebagai pertanda
penentu waktu
kapan harus bercocok tanam
dan bagaimana merawatnya
simervara
tanah suburnya hanya terjamah
oleh segelintir orang yang memahami
dan ayah ibuku
berpasrah di sana
bahagia di sana
sebab keterasingan
ternyata lambat laun membuahkan
kepastian
setidaknya
alamnya telah membiarkan kami hidup
darinya
tapi aku
harus mengikuti apa kata ayah dan ibu
meninggalkan simervara
melirik kehidupan yang lain
yang kata mereka lebih layak
dan
aku menuruti
maka kini
simervara
menjadi rindu yang tak terhingga

ketika hati terasa letih
simervara
yang damai tenteram
adalah mimpi surgawi
di mana kelak tempat aku ingin menutup mata
selamanya







8                                                   
LAE SINEMBATU


masih kau simpankah catatan ceritaku
di pusaran airmu yang bening?
lae sinembatu
kau tak pernah menegur mataku yang nakal
melirik perempuan-perempuan desa
mandi di pancuran tubuh dibalut helai kain tipis
masih kau simpankah ceritaku
saat kupetik bunga-bunga pancur
merah bergaris putih
tumbuh ranum di pinggir mata airmu?
aku menangkap putaran air
lalu membaca mantra-mantra
kupoleskan bunga pancur di bibirku
berharap si gadis yang kutaksir
serta-merta melompat dari jendela
mengikuti langkahku dari belakang

sia-sia
ya
sia-sia
hanya suara burung hantu yang mengusikku
sementara si gadis tetap lelap
                                                dalam mimpi indahnya
lae sinembatu
jika aku hendak bertemu dengannya
cukup duduk di tepimu yang ditumbuhi rerumput subur
lalu dia akan berlalu
dengan senyuman
itu saja sudah cukup
memuaskan hatiku



hanya sampai di situ
sebab
hidup terus mengalir
seperti aliran lae sinembatu
ketika aku menemukan tambatan hatiku
yang sesungguhnya
sering juga datang bayangan itu
lalu ingin rasanya berjumpa
seperti dulu
aku duduk di tepi lae sinembatu
dia berlalu
dan
aku tersenyum
walau dia tak memandangku


9
NYANYIAN HUTAN

aku dengar nyanyian hutan
rimba raya di tanah leluhur
iramanya pilu suaranya pedih
seperti rajawali
patah kedua sayapnya
bulu lebatnya ludes digunduli

kini dia tak kuat menahan terpaan angin malam
terbatuk-batuk berdarah-darah

jika dulu hijaunya tak terusik
kini semua situasi berbalik
raungan mesin senso dan tebangan kampak
suara mesin truk pengangkut
dan gaduhnya orang-orang serakah
membuat hutan kami tak nyaman lagi
perlahan tapi pasti digunduli
cukong-cukong penghisap darah
siapkan karungan emas penutup mata hati
semua berlomba membabat hutan lebat
lalu hutanku terbatuk-batuk
tumpahkan air liurnya bercampur darah
ah…
tidakkah ini bisa berbalik menjadi durjana
hadirkan kiamat sebelum waktunya
lalu masih pantaskah kita bertanya
kenapa?
masih layakkah kita bertanya
bagaimana bisa?


10
LAE UNE

cahaya garis-gemaris
menembus tajam dari sela-sela dedaunan rindang
adalah cahaya matahari pagi yang genit
nyanyian burung-burung dan suara imbo
hiasan yang menawan
di sela-sela deburan air terjun
lae une
di sudut kuta kecupak
kau tersimpan rapi
memberi sejuta makna
bagi siapa saja
di antara pohon raksasa tengah gunung perkasa
terus kau tumpahkan airmu yang bening dan dingin
sejuk duduk di atas batu cadas
besar dan licin tergolek di tepianmu
lae une
kau berikan romantisme yang luar biasa
ketika aku memegang jemarinya
lalu saat kami malu-malu bergandeng tangan
berjalan menuju palung tempat tumpah airmu
kau sirami kami dengan buih-buih penyejuk rasa
lae une
kudengar cerita tentang dirimu
yang memberi makna
bagi kehidupan sekitarmu
aku berdoa
semoga keserakahan tak menghampiri
manusia di sekitarmu
agar mereka tidak tega
merusak sekelilingmu
agar mereka sadar
membiarkanmu apa adanya
akan memberi arti yang luar biasa
selamanya
semoga


11
DELLENG RAJA

lahan yang kau siapkan untuk siapa saja
tak pernah kurang untuk berapa saja
berkah yang kau berikan untuk siapa saja
tak pernah kurang untuk berapa saja
delleng raja
gagah diam setengah mengelilingi kota salak
saat memandangimu dari kejauhan
seakan ada panggilanmu
seakan ada teriakanmu:
di sini kehidupan bisa berlanjut
di sini kusiapkan tanah subur
untuk kau tanami dengan apa saja
di sini padimu bisa tumbuh subur
di sini apa saja kau tanam akan berakar
tumbuh bertunas dan berbuah ranum
di sini
kehidupan bisa nyaman
lalu
ibu bertutup kepala saong
menyiangi rumput liar
dari tengah ladang padinya
di tengahnya buah labu mumbul dari bunga
buah ketimun masih berbentuk pentil

keringat membasahi sekijur wajah
tak pernah jadi soal
rasa lapar menunggu datangnya togoh
taka pa-apa dibiarkan
sampai waktunya matahari condong ke barat
ibu nyanyikan harapan
dalam iringan desir angin di sela dedaunan


12
SI TAGANDERA

nenek renta masih semangat
tuturkan kisah si tagandera
cerita legenda di tanoh pakpak

namanya juga legenda
banyak hal tak masuk akal
seekor monyet bisa menyamar
bahkan adakan pesta pernikahan
dengan gadis yang jatuh cinta kepadanya

si tagandera
carilah makna bukan fakta dalam ceritanya
sebab kalau mencari fakta
kita bisa tertawa
darimana monyet bisa bicara?
nenek renta tetap bercerita
dikerubung anak-anak desa
tradisi lestarikan budaya
masihkah apa adanya?
atau kita sudah terpana
pada badman atau supermen
otak anak-anak kita sudah kita jejali virus
pahlawan mereka naruto atau doraemon?
si tagandera adalah legenda
carilah makna bukan fakta dari ceritanya
galilah norma-norma
yang sarat dibungkusnya
(idim taganderaaaaaaa…….)…. 
suara nenek renta tetap bergema
di tengah kerumunan anak-anak desa
mulut mereka terbuka menganga
terkagum-kagum kepada tokohnya
di sini
di tempat yang jauh dari desa
masihkah kita mengingatnya?
masihkah kita terpikir akan budaya
peninggalan nenek moyang kita sejak lama?

   13
LAE PONDOM

wangi tanahmu yang basah
gemulai ranting-ranting pepohonan liar yang lentur
kabut senja yang putih
adalah rindu yang membawa hati
pada sejuta kenangan
kugenggam pundakku erat
terbungkus baju panas tebal
agar dingin yang menyengat sedikit
berkurang
bangkit lagi kenangan masa lalu
ketika melambaikan tangan
perpisahan
melewatimu
lae pondom
adalah batas kutinggalkan kampung halaman
seribu wanti-wanti dari ibu
seribu doa-doa dari ayah
menjadi jimat yang begitu ampuh
gagahkan langkah
menuju kota harapan
seribu mimpi tersimpan dalam hati
mengental menjadi cita-cita
yang harus diwujudkan
ibu menitikkan airmata
ayah menahannya
dekap hangat perpisahan
sesakkan dada
kehidupan adalah misteri
ketika mimpi belum juga terpenuhi
ibu pergi menutup mata
ayah menyusulnya
ketika hasrat bahagiakan mereka
semua seperti sia-sia
ooo lae pondom
aku melintasimu dengan desah panjang
hingga sampai di ujung tanjung beringin
hasratku tinggal satu
ingin cepat-cepat menyapa pagi
bergegas membasuh muka
di atas pusara ayahanda
di atas pusara ibunda


14
PERKEMENJEN

selamat pagi hutan belantara
matahari menggeliat  dari peraduan
sorot matanya tajam  menghujam
sejangkau pandang
lelaki separuh baya sendirian bergegas
siapkan semua peralatan
menyapa alam semesta guratkan harapan
dipeluknya erat pohon kemenjen
lebih erat ketimbang memeluk istrinya
bongkah-bongkah getah kemenjen
berbentuk seperti kumpulan kutil
dicungkilnya sedikit demi sedikit
lalu ditumpuk dalam keranjang yang menggelayut
di punggungnya
dalam hitungan hari
kadang minggu
dia gauli kesenyapan
dia akrabi kesunyian
dia nikmati kerinduan
kepada anak istri
dipisah lapisan lembah-lembah yang curam
hanya satu pelepas lara
untaian kata dinyanyikannya
odong-odong namanya:
ongko tebbu-tebbu mbereng....
ko tebbu-tebbu mbaraaaaa....
e yam male....
otang kabang-kadang mi urang julu ko manuk-manuk....
 embah mo lebbe tennah teddohku mendahi si buyung....
ooooooooo....

malam hitam diam
nyanyian misteri binatang malam
getarkan hati yang gelisah
sampai kemenjen cukup dirasa
pulanglah lelaki yang kian renta
menjual kemenjen yang dikumpulnya
kepada tengkulak
dengan harga mencekik
apa daya
laporan istri tentang beras dan lauk-pauk sudah ludes
uang sekolah si buyung menunggak tiga bulan
membuatnya pasrah
selalu begitu
hidup hanya sampai
pada kata pas-pasan!


15
NYANYIAN IMBO

dari balik bukit-bukit
menembus lekukan lembah-lembah
nyanyian imbo menyentuh sepi
hari sudah siang
bergegaslah si anak harapan
menapak pematang sawah
di bentang sungai menggeliat
                                                     matahari menyengat
semburat cahaya perak
di dagu dedaunan
padi-padi hijau berjejer rapi
seperti perempuan mengelus-elus
kandungannya menunggu hari
nyanyian imbo
menembus lembah-lembah
entah dari lapis ke berapa
iramanya teratur
suaranya pilu
si anak harapan terus berjalan
biarkan peluh basahi sekujur badan
antarkan bekal untuk inang
sedang merunduk-runduk di tengah ladang
siangi rumput yang jadi penghalang
di atas pantar silang
anak dan inang saling bersulang
menyuap togoh penahan lapar
hamparan padi jadi harapan
penyambung hidup sampai ke depan
dari atas pantar silang
kelak mimpi si anak harapan
jadi kenyataan
meraih mimpi masa depan
nasihat inang jadi kekuatan
sebab bapa telah pergi duluan
tak ada yang tak bisa diwujudkan
itu kata inang
selama kita punya mimpi
dan semangat meraih mimpi
tak ada yang tak bisa!
tak ada yang tak bisa!
ingat tennah
ingat peddah
ingat tuhan
ingat penderitaan
ingat kemelaratan
ingat ketidakberdayaan
semua
akan menjadi kekuatan
itu kata inang
dan
si anak harapan
terus mencamkan
nyanyian imbo tetap mengalun
seperti energi dia menyusup
ke pori-pori
lalu ke dalam nadi
mengalir bersama darah
di sekujur tubuh
si anak harapan
dan dia kembali mengucap tekad:
aku pasti bisa!



16
PUNCAK

kugenggam tanganmu
bergetar
kabut tipis di pucuk lembah
sebarkan rasa dingin
di sekujur tubuh
kita duduk di atas bongkah kayu yang patah
menatap jauh
gulungan lembah-lembah perawan

begitu jauh kita ke sini
membelok di simpang salak
lewati simpang penjaraten
lintasi kampung sidiangkat
hanya untuk diam
tanpa kata-kata
ku tahu
rasa tengah bergelora
di dada
tapi tak ada kuasa
mengucapkannya
hanya sorot mata
pertanda
nyanyian hati kita seirama
sungguhkah perjalanan akan mengikat kita?
kelak
kita serahkan pada perjalanan itu sendiri
sungguhkah rasa senada menjadi kepastian?
kelak
waktu akan mengujinya

sesuatu yang pasti
hanya
hari ini kita di sini
berdua
dengan rasa
tanpa kata

17
MERANI

seperti menapaki tangga nafsu
tibalah saatnya di puncak birahi
wajah ibu berseri-seri
memandang lautan padi
menguning merunduk menghadap bumi
dibantu tetangga dan banyak famili
ramai-ramai merani memotong padi
dengan sabit dan memetik pakai anai-anai
padi ditumpuk menggunung
sambil menunggu waktu dilepas dari tangkai
seperti menapaki tangga nafsu
tibalah saatnya di puncak birahi
wajah ibu berseri-seri
terbayang sudah panjang rezeki


malam bulan purnama
waktunya kumpul anak-anak muda
tugasnya mengerik namanya
menari-nari injakkan kaki di tangkai padi
     berputar-putar injakkan kaki
                   dalam irama terkendali
                saat lelah tubuh berpeluh
senda gurau jadi obatnya
sambil makan pelleng cina mbara
sesekali mata melirik yang disuka
ooo kampung halaman
jauh di sana
kini yang ada bayangan saja
indahnya masa-masa di sana
tak ditemukan
di mana pun berada
 





18
KERAJAAN

debur sungai bawah jembatan
ketika tangan lambaikan selamat tinggal
sukarame tetap diam
sejauh mata memandang ke depan
hamparan taman hijau membentang
tanah kerajaan
bulir-bulir sisa hujan
seperti permata di atas daun rerumputan
kerbau peliharaan bergerombol
mengunyah rerumput nan tumbuh subur
tiupan sordam gembala di atas pundak kerbau
seperti sihir
alirkan rasa rindu menusuk kalbu
terbawa tiupan angin sejauh jangkau telinga
misteri ini tak pernah terpecahkan
dari hulu sampai hilir kehidupan
hanya sampai di batas kecukupan
hidup di atas tanah berlumpur permata
tak seharusnya demikian
tapi inilah kenyataan
debur sungai mengalir deras seperti isyarat
kenapa hidup selalu terhempas?
tanah leluhur terdiam bisu
diperutnya tersimpan bongkahan emas permata
tak ada yang berpikir mengolahnya
hidup seakan-akan selesai pada nafas mendesah
jantung berdetak
bibir tersenyum walau retak-retak
hidup seakan cukup sampai batas
hari ini kita bisa makan
wahai siapa saja
yang hidup dan berkehidupan di kerajaan
kenapa tanah yang subur harus ditinggalkan?
atau malah disia-siakan?
nyanyian sordam gembala
masih terus memilukan
menambah susah pecahkan misteri
entah sampai kapan
ibu pertiwi muntahkan isi perut
yang membuat mata terbelalak
membuat kesadaran memuncak
kesadaran akan tanah leluhur
adalah lumbung kehidupan
yang tak terbatas jumlahnya


19
SIDIKALANG – TIGALINGGA

lepas tikungan menanjak lewati simpang tigalingga
kita masih terdiam
entah untuk apa perjalanan ini
selain keinginan tidak berpisah sedetikpun
berdesak-desak di antara penumpang
bis tua yang terbatuk-batuk
dimakan usia
tidak menjadi soal
duduk di sebelahmu
telah mengubah semuanya menjadi indah
ketika ujung rambutmu yang panjang
tergerai menyentuh pipiku
itupun menjadi rasa tak bertara
seharusnya aku mengajakmu bicara
atau kau mengajakku bicara
tapi kita seperti kehilangan kata-kata
jalan berlubang-lubang
tanaman liar di dindingnya
menjadi hiasan yang menarik
merias hati kita
berbunga-bunga
angin yang menyelusup
dari jendela kaca yang pecah
seperti bisikan kejujuran hati
yang sesungguhnya
aku mengantarkanmu pulang
setelah itu aku tinggalkan
dan
perjalanan pulang
lewat jalur yang sama
rasanya jauh berbeda
mual
digunjang-ganjing jalanan terjal
membuat isi perut seperti mau keluar
sedetik saja ketika kau berbalik
aku sudah merindu
tapi kutahu
rinduku tak pernah terjawab
sebab kau takkan pernah pulang
untukku


20
SUMBUL BERAMPU

usai senja menyapa
kutinggalkan kau sepi
sumbul berampu mulai bergairah
ketika orang-orang sudah pulang
dari sawah dan ladang
setelah begitu panjang kita bercengkerama
semua harus usai
kenyataan yang ada
antara kita
seperti bulan mengejar matahari
takkan pernah ada titik henti
semua akan terus jadi mimpi
meski kau harapan yang berikutnya
tetap saja
aku harus segera menyatakannya:
sampai di sini saja
biarkan semua menjadi catatan
perjalanan yang pernah ada
derai airmata tak ada guna
mencari salahpun tak ada artinya
biarkan saja
semua mengalir
apa adanya
jalan berbeda
sudah bagus kita tahu sebelumnya
sehingga
rasa tak terlalu jauh melayang-layang
mengharap-harap
selamat tinggal sumbul berampu
selamat tinggal guratan harapan
aku harus menemukan harapan yang lain
harapan yang nyata

(lalu bulan sabit menggelayut di bahu awan, menemani perjalanku yang sepi menuju sidikalang)


21
1965

siang
pertengahan tahun 1965
langit cerah
atas jalan sisingamangaraja
membelah panjang sidikalang
hanya ada gores awan tipis
anak-anak sekolah tanpa seragam
duduk berdesak di atas truk serdadu
deru angin tiup pohon cemara
depan kantor bupati
tak berarti apa-apa
langit menderu
capung besi raksasa melintas tinggi
truk berhenti
anak-anak sekolah tanpa seragam
terburu-buru diturunkan
lalu digiring memasuki parit pinggir jalan
rebah tiarap di sana
hingga capung besi raksasa berlalu
serdadu menaikkan anak-anak sekolah
ke atas truk kembali
diantar pulang ke rumah

puluhan tahun kemudian
baru kusadari
masa itu sangat mencekam
negeri ini sedang gawat terancam
padahal waktu itu
anak-anak sekolah tanpa seragam
malah cekikikan
ketika disuruh sembunyi
tanpa memahami
apa yang sesungguhnya terjadi


22
POLA TINADA

perjalanan ini tak pernah berarti
tanpa meneguk pola tinada
ketika lelah di puncak ubun-ubun
debur lae kombih
ramah  menyapa
derap dan ringkih kuda boban
transportasi darat angkut barang
sidikalang menuju salak
hiasi suasana
lambayan daun nyiur di atas bukit
seakan mengucap:
selamat jalan anak muda
tinggalkan ketidakpastian
menuju ketidakpastian
ketidakpastian di sini sudah sangat pasti
sementara ketidakpastian di sana
bisa menjadi kepastian
selama semangat dan daya juang berapi-api
mimpi bisa menjadi nyata
selamat jalan anak muda
buatlah getir kehidupan
menjadi manis
seperti pola tinada
berlarilah seiring doa-doa orang tercinta
cepatlah pergi
agar wajah kita yang pucat pasti
bisa berubah menjadi ceria
selamat jalan anak muda!
tegukan terakhir pola tinada
akan menjadi rindu yang panjang
dan mengkristal menjadi untai janji
kelak kehidupan yang getir akan kuubah
menjadi manis
semanis pola tinada


 23
MERSUAN

setelah benih ditabur
semai ditumpuk di bibir pematang
perempuan mengunyah sirih
berbaris rapi tundukkan tubuh
tancapkan
padi di lumpur sawah
yang sudah rapi dicangkuli dan diairi

orang-orang yang mersuan
bergerak ke belakang
semai hijau menancap berjajar
melambai-lambai daunnya tertiup angin
musim mersuan
musim menanam padi di sawah
musim mersuan
tanamkan harapan
sebab semua kebutuhan
akan berawal di sini
akan tergantung di sini
pada padi hijau yang ditanam
berharap kelak jadi kuning keemasan
pada cuaca yang teratur
agar kelak tumbuhnya subur
musim mersuan
tiba waktunya mersiurupen
saling membantu seisi kampung
itulah budaya turun temurun
yang dicatatkan nenek moyang


24
TAHUN BARU

untaian rasa haru
mengisi ruang hati
bedug di surau ditabuh
lonceng gereja bergema
tahun baru saja berganti
doa-doa dipanjatkan
dosa-dosa diurut seperti hitungan
masing-masing bersalam-salaman
saling berpelukan
begitu murah kata maaf
di saat seperti itu
tapi sudah menjadi tradisi
perjalanan 12 bulan
diayak-ayak mencari kesalahan
dengan sadar semua diakui
dan memohon dilupakan
malam menjadi gegap gempita
bunyi petasan dan kembang api
lampu-lampu kecil
di ranting-ranting pohon natal yang tersisa
masih kedap-kedip cantik warnanya
semua pintu terbuka
silih berganti saling mengunjungi
bukan hanya limun dan strup susu
temani keriaan
tapi juga kambang loyang dan alame
seperti syarat sempurnanya
malam tahun baru
anak-anak pamerkan baju, celana
dan sepatu baru
saling berebut harap salam tempel
bisa limper
bisa pula seribu
tergantung niat yang memberi
tahun baru di kampungku
sidikalang na balau
selalu jadi momentum yang seru
riang gembira bercampur dengan haru



25
PERSEBANEN

berjalan jauh ke tengah hutan penjaraten
bukan sekadar mencari kayu bakar
di persebanen
berjalan beriring denganmu
adalah harapan
menyiapkan dahan dan ranting untukmu
adalah keinginan
di bawah hujan rintik-rintik
kau tebarkan senyum menawan
aku semakin dalam terperangkap
berjalan jauh ke tengah hutan penjaraten
bukan sekadar mencari kayu bakar
di persebanen
melihat sedikit saja kain panjangmu tersingkap
lalu aku melihat sedikit atas dengkulmu yang coklat
kunikmati pikiran liarku

duhai
aku kini tersenyum
di bibir yang mulai keriput
merajut kembali kenangan lama
ketika kita masih bersama
hidup bertetangga
dan saling memendam rasa
di manapun kini kau berada
kuharap kau hidup bahagia



26
SIBURA-BURA
desing mesin mobil melaju
di jalan tengah belahan bukit
menjadi irama tak membisingkan
karena terbiasa
kaki lelah menggoes sepeda ontel
milik ayah
menghitung tanjakan demi tanjakan
sejak lewati simpang salak
berwujud menjadi peluh
di sekujur tubuh
ibu menunggu di ladang yang luas
sibura-bura
tanah yang selalu siap digauli
oleh siapa saja yang mau menggauli
selalu siap dijadikan juma
tempat menanam padi yang begitu subur
karena tanahnya begitu gembur
asap mengepul di sana-sini
pemilik ladang yang sudah dibatasi secara demokratis
berdiri menjaga
agar api tak rarat ke mana-mana
dan tetap menyala di sekitarnya
jika api sudah padam
basah oleh air hujan
semua yang disisakan adalah vitamin
kelak membuat apa saja yang tertanam
tumbuh subur dan gemuk
ibu merajut mimpi di kepulan asap yang tebal
sambil menunggu anak kesayangan
diliarkannya hayalan
juma ini selalu menjadi sumber inspirasi
sumber keyakinan
hidup masih terus
berkelanjutan
bahkan ketika matahari sudah buram
tak mampu sembunyikan rasa lelah
ibu enggan beranjak
ingin memastikan
semua impiannya kelak menjadi kenyataan
dari sini
jalan menuju ke mana saja bisa dipastikan
dari butir-butir beras yang digiling dari padi
dari padi yang ditanam di tanah ini
dari tanah yang kini sedang dibersihkan
dan
ketika malam mulai menyapa
ibu bergandeng tangan dengan anak kesayangan
yang menenteng sepeda ontelnya
menuju pulang
besok mereka
ke sini lagi
lebih pasti lagi
waktu semakin dekat
untuk bercocok tanam
27
LAE KOMBIH
dari hulu ke hilir tumpah ruah airmu
mengalir deras
susuri lembah-lembah
ikuti lekuk-lekuk
di berbagai persimpangan
tak ragu kau berbelok
lalu mengalir di anak sungaimu kecil
basahi sawah-sawah kering
lae kombih
airmu pelega kehidupan
airmu tak pernah surut
oleh perubahan cuaca
dari perutmu yang mistis
sesekali anak-anak desa
memancing ikan khasmu
bersisik hitam putih
bentuknya molek dan cantik
lae kombih
mengalirlah terus
tumpahlah terus
deraslah terus
jangan pernah berhenti
atau surut sedikitpun
sebab
kehidupan di sekitarmu
banyak mengantung nasib di aliranmu
lae kombih
kudengar dari jauh
deras arusmu kini
sudah berubah
menyalakan rumah-rumah
yang dulu pada malam hari
redup cahaya
lae kombih
teruslah mengalir
teruslah deras
teruslah tumpah
28
DATU BALANGA
si datu balanga bukan cerita legenda
si datu balanga adalah fakta
 panjang masa dia jadi wanita perkasa
keliling kota sidikalang kerjanya
dandanannya ala mbah surip di masa sekarang
rambut tergerai tak terurus
baju compang-camping tak karuan
kalung dan gelang berarakan di sekujur tubuhnya
dia menjadi aneh di masa lalu
duduk di tepi jalan
mulutnya komat-kamit
ada yang menyebutnya dukun
tak banyak yang mencapnya otak miring
datu balanga menjadi cerita panjang
yang pasti banyak mengenang
barang siapa berani mengusiknya
murkanya melebihi amarah banteng jantan
yang tengah menahan birahi
selalu mencoba anggun
memoles bibirnya
dengan gincu merah menyala
membuat semua orang tertawa
karena belepotan ke mana-mana
datu balanga
rambutnya diikat pita
tapi bisa tiba-tiba dijambak-jambaknya
datu balanga
adalah cerita fakta
sidikalang di satu masa
bagi yang ada di masa itu
pasti tak bisa melupakannya


 29
LETER ‘’S’’

meliuk-liuk di atas kereta tikungan leter s
angin menyapa dari balik bebatuan
sumbul membentang di senja bisu
tampak semua sudutnya
tampak lekuk tubuhnya
orang-orangan sawah bergerak-gerak
di pematang kejauhan
takuti gerombolan burung
pemakan padi

meliuk-liuk di atas kereta tikungan leter s
angkuhkan diri di dekapannya
tertoreh setumpuk kenangan
di sana
batu-batu cadas berukir nama
penuh tanda-tanda
lalu kita tinggalkan begitu saja
waktu yang panjang
mengubah suasana
ketika pulang penuh harapan
sederet nama di batu cadas masih ada
tersisa
dibungkus lumut-lumut hijau
telah kudengar cerita tentangmu
yang tak sabar menunggu
di waktu tak berbatas

di persimpangan
tempat kita dulu pertama bertemu
tak kutemukan lagi tubuhmu yang sintal
tak kulihat lagi sorot matamu yang sayu
tak kulihat lagi senyum ramahmu
 aku kini sendirian
mengukir sesal di langit hitam

30
PELLENG

rangkai-rangkai kata
terajut menjadi setangkup doa
pelleng
nasi kuning yang tak keras
tak pula lembek
berlauk daging ayam jago merah
dirubung keluarga berkeliling
duduk manis di atas tikar anyaman ibu
pergilah menuju tanah harapan
berbekal mimpi dan dendam pada kenyataan
airmata dan dekap ibu
peluk ayah dan isak keluarga
menjadi tenaga tak bertara
pergilah dengan semangat memanas
sepanas pelleng bercampur cabe merah
segagah ayam jago
menantang sang penantang
31
LAE PONDOM
 
seribu kunang-kunang
menyelusup dari sela-sela pepohonan liar
silih berganti penghuni hutan rindang
menyapa malam
bulan segaris di balik rindang dedaunan
menggelayut-gelayut
tebarkan sunyi
angin basah menyusupi rongga sumsum
ngilukan kesendirian
bangkitkan rindu
malam terus merangsek
membisikkan ucap selamat tidur
namun mata harus tetap jaga
menunggu keeping-keping harapan
yang jatuh dari langit
duduk sendiri di sudut rumah kecil
menghitung detik demi detik
bergerak terasa begitu lamban
menunggu larut malam adalah harapan
sebab pada larut malam
rezeki tak terduga bisa didapatkan
ketika truk-truk pengangkut kayu 
satu persatu mampir
menyalamkan lembar demi lembar  penutup mata
yang membuat esok jadi berwujud
tapi
menanti fajar adalah impian
berharap esok matahari menyaparamah
dan pulanglah si ayah
yang merengkuh sunyi
ke pelukan anak istri
membawa senyum
yang tidak mengada-ada
 
(mengenang mereka yang pernah jaga malam di pos lae pondom)

32
SILALAHI

sinar perak di bibir bukit-bukit
memantul bayang di bibir danau toba
hamparan rumput hijau bergelombang
luas membentang batas pandang
lepas kota merek
senja menyebar indah cakrawala
langit biru
bebaskan semua penghalang
saat menikmatimu silalahi
dari kejauhan
aku ingin lekas tiba
basahi rinduku dengan airmu yang dingin
menulis riakmu menjadi lirik
mengolahnya menjadi nyanyian
rinduku kepadamu
wahai yang tercinta
masihkah penantian tak berujung
dan kau duduk di tepian
sambil melihat anak-anak mujair
berenang bebas di tepian danau toba
meneriakkan dalam hati
airmata rindumu sudah kering?
aku pulang
dengan segala kekalahan dan kemenangan
masihkah hangat tanganmu
menyambut hadirku
atau
di tepian tempat kita berjanji
sekarang tinggal seonggok batu
bisu
aku pulang
silalahi
aku pulang


33
BANDAR SELAMAT

setelah lepas dari jalan setapak
bandar selamat menyapa senyum manis
sawah membentang seluas pandang
air sebatas pematang menggelinjang
terdorong angin sepoi
samai di tanah kering
bergerombol hijau sibur
selalu begitu
pintu-pintu rumah kayu
terkunci rapat kosong
anak-anak pergi sekolah
orang tua membenam diri di sawah
mengolah tanah berlumpur kental
pastikan subur sebelum musim tanam
begitu terus ikuti putaran cuaca
orang-orang yang menikmati hidup
apa adanya
telah terbiasa hadapi apa saja
tak ada keluh berlebih
sebab pikiran terpusat
kepada subur tumbuh padi di sawah
lalu ketika panen tiba
bernyanyilah harapan di depan mata
begitu seterusnya


34
BINARIA BATU DUA

ketika kugenggam jemarimu
kau hanya tersipu
diam malu
lalu mata kita berpapasan
begitu saja
sepertinya aku telah melumat habis
hasratmu
matahari di atas ubun-ubun
kita tak peduli
sebab
binaria batu dua
terus memberi arti
sepertinya
aku tak punya pilihan lain
(saat itu)


35
SIRPANG SALAK

lalu kita mengangkat gelas berisi tuak
mata kita sudah mulai sayu
lagu mitu terus mengalir
lapo persis di sudut sirpang salak
harusnya sudah tutup
jalan raya sudah lengang
tapi kita tetap sibuk
bernyanyi dan bercerita
entahlah
mungkin kita akan tidur di selokan mala mini
sebab kaki gemetar
tak sanggup berjalan
saling menuding
siapa yang tenggen?


36
ONGOL-ONGOL

sehari saja tak menikmati
ada yang hilang dari hari-hari
warung pojok sudut danau
depan mesjid raya
belokan ke gava

di sudut kenangan
masih ada potret jelas
duduk di bangku kayu
menghadap danau
nikmati secangkir teh manis
dan sepiring ongol-ongol
ludes tak perlu lama
lalu terbenam di pelukan
dinginnya malam
sidikalang


36
GULAMO

asap mengepul ke semua penjuru
sebar wangi ikan gulamo
ikan asin kering kepala batu
dibakar ibu di ambang sore

sekepal nasi di atas piring
hangat menguap jatuhkan liur
duduk bersila bentuk lingkaran
ibu – bapa dan semua anak mereka
panjatkan doa kepada yang maha kuasa
syukuri sepotong gulamo
dicubit bagi rata
makanlah nak apa yang ada
sebab yang ada adalah rezeki halal
dari tuhan
dia akan menjadi daging
menjadi nafas
menjadi darah
dan menjadi pertumbuhan
yang sah dan sehat

malam nyenyak dalam tidur
biarkan mimpi berbalik dari kenyataan
sepotong steak
sepiring kentang goreng
menyapa ramah 
itu hanya ada dalam mimpi

kata ibu
mimpi adalah rancangan harapan
yang harus dibuat menjadi nyata
bersyukurlah punya mimpi
sebab mimpi adalah semangat yang terbakar

sepotong gulamo bakar
mernjadi sangat nikmat
sebab ibu mengatakan
saat ini
itulah yang ternikmat
dan harus disyukuri

rasa syukur adalah nikmat
yang tak tertandingi
sebab
dari rasa syukur itulah
lahir kepasrahan
dan
dari kepasrahan
lahir kesabaran
dari kesabaran
lahir kenikmatan
kata ibu
kehidupan yang nyata
bukanlah saat ini
tapi ketika kita lulus dari semua ujian
pada kepasrahan
kesabaran
kenikmatan

mengalirlah seperti air
mendesislah seperti angin
berjalanlah di jalur kenyataan
dan
selalu menyadari
apapun yang didapat
datangnya dari
tuhan


37
BATU KAPUR

di jalan bebatuan
 ditulisnya sebuah kenangan
ketika malam gerimis
batu kapur bergaris-garis putih
tak tampak jelas
tapi selalu ada
menatap lelaki yang membentur-benturkan kecewa
di punggung sunyi
tak lagi dinyanyikannya tentang harapan
sebab bulan telah dililit awan
diikat erat tak lepas
malam kian terjembab basah
langkah lelaki yang hilang bayangan
tak lagi beraturan
dikiranya cuaca dapat ditaklukkannya
ternyata datang sesuka hati
berubah semaunya
lelaki yang kecewa
tetap gelisah dalam tanya
benarkah cinta apa adanya?
ketika rindu menggelayut di dada
sempurna bagai purnama
berdegup ia ingin menyampaikannya
dikiranya cuaca dapat ditaklukkannya
semua jadi sia-sia
bulan dililit awan
setitik pun tak lagi dilihatnya
nyanyian malam
nyanyian duka
seuntai asa
hilang begitu saja
tanpa alasan
sebab cuaca memang tak bisa
diterka



38
MELEK-MELEKAN

malam-malam hilang sunyi
berkumpul bercerita temani seorang ibu
yang baru saja lahirkan anaknya
ke dunia
perapian tepi peraduan
sedikit hangatkan tubuh
dari sengatan angin malam yang basah
ibu-ibu bercerita
temani si ibu yang lelah
bapak-bapak memirit kartu
berharap datang lembar keberuntungan
di sudut lain
pecatur kernyitkan kening
pikirkan langkah raja semakin terjepit
setelah seminggu melek-melekan
ada ritual perpisahan
seakan waktunya sudah tiba
bebas ibu dan bayinya dari semua goda
tak perlu lagi dijaga bersama
melek-melekan menjadi satu budaya
turun temurun begitu adanya
ibu-ibu bergantian temani yang partus
bapak-bapak ramaikan suasana
joker karo
main catur
atau kartu dam
itu sahabatnya
selesai di satu rumah
pindah ke rumah lain
di mana ibu melahirkan bayinya
melek-melekan
penghidup suasana
selama bisa saling menjaga
sebab kalau judi jadi tujuannya
bisa ludes harta benda



39
OPERA ONAN

malam merambat di los-los onan sidikalang
bulan tergantung di sudut tiang penyangganya
hiruk pikuk suara penggemar nyanyian tradisional
menanti disapa dipersilakan masuk
saksikan opera keliling yang baru tiba

lalu ada isak tangis bersama
ketika tokoh utama mendapat siksa
ada tarian bersama

ketika penyanyi setengah genit lantunkan suara
nyanyikan lagu-lagu lama

gemintang mengintip suasana
dari balik gumpal-gumpal embun yang tipis
malam merambat jauh
layar panggung masih terbuka
lelaki binal tak tahan nafsunya
mulutnya sebarkan aroma anggur
matanya merah menyala
naik ke panggung jarinya menjepit lembar rupiah
ditarikannya irama tanpa irama
dibatasinya gerak penyanyi dengan kedua tangannya
lalu dengan bangga
diselipkannya lembaran rupiah
di sela-sela kutang penyanyinya
lelaki binal turuni anak tangga
lambaikan tangan seperti orang menang perang
dalam sepi
semua orang ingin membeli suasana
dalam sepi
opera keliling adalah jawabannya
cerita tradisi masih terus terjaga
nyanyian asli masih terus menggema
lelaki binal pun terus mencari korban
lampiaskan keisengannya


40
SEKOLAH BELAKANG GEDUNG NASIONAL

ada kerinduan mengulangi kembali
masa dulu bersekolah
di bangunan berendeng panjang
belakang gedung nasional sidikalang

di sana dimulai perubahan
dari tak mengenal huruf
hingga mulai pandai bahkan cerdik
guru-guru yang kebanyakan perempuan
dengan sabar mengajar puluhan
ratusan
bahkan ribuan
atau puluh ribuan anak-anak
yang sudah melompat ke kehidupan nyata
dari sana
dari sekolah belakang gedung nasional
kubayangkan wajah-wajah guruku yang lelah
tapi selalu tunjukkan tak lelah
wajah-wajah yang resah
tapi selalu tunjukkan tak resah

jika jujur
hidup mereka juga senin-kemis
senin dapat kemis habis
tapi selalu
para guru itu
tak menunjukkan gelisah
senyum sabar menyapa ragam sifat muridnya
dan ketika waktu telah berjalan panjang
ibu guru itu masih tetap dipanggil guru
hanya itu





41
TOBING TAYLOR

memegang tangan ibu erat-erat
berjalan susuri teras panjang rumah berdempet
sepanjang depan gedung nasional
ketika lewati simpang empat
hati berbunga-bunga

sekali setahun
ya
hanya sekali setahun
ibu mengajak anak-anaknya ke tobing taylor
tempat menjahit pakaian paling terkenal
di tanah tempatku dibesarkan
musim menjahit tiba
 artinya
akhir tahun akan tiba
anak-anak bergembira ria
karena saatnya kenakan pakaian baru
tahun baru datang lagi di kampungku
salah satu ciri-cirinya
semua berbaju baru
badan diukur
kain diperiksa
bahan yang dibeli ibu di pasar
tahun baru datang lagi kampungku
semua menjadi baru
baju baru
dipakai saat berderet menglantunkan ayat-ayat suci
pajojorhon di atas altar
tahun baru datang lagi di kampungku
semua kenakan baju baru
saling menyapa  dan saling bermaafan
di bawah dentuman meriam bambu
dan
rentetan letusan petasan

anak-anak
terus pamerkan baju baru
 42
BULAN PURNAMA TIBA

malam gairah
saat bulan purnama tiba
tak lelah pamerkan senyum genitnya
di  langit malam yang cerah
anak-anak remaja yang mulai mengumbar cinta
mainkan gitar tua
menyanyi membelah sepi
duduk bergerombol di atas jalan tak rata

gadis-gadis belia berjalan malu-malu
lalu bergabung tanpa bersuara
hanya sesekali mata beradu
dengan si dia yang ramah menyapa

anak-anak ada yang margaltuk
ada pula marsitekka
sebagian main alip cendong

malam gairah
malam bulan purnama
bintang-bintang kedipkan mata dari kejauhan
menjadi hiasan indah tak tertandingi
malam gairah
malam indah
bunga-bunga bermekaran
melambai-lambai tertiup angin
anak-anak di kampungku
selalu akrab saling hormat
ini ajaran bapa dan ibu
sebagai bekal di hari esok


43
RINDUKU PADAMU DAIRI

kujemput serpihan-serpihan rindu
yang menumpuk di langit anganku
kukunyah-kunyah ia sampai lumat
kutelan dengan rasa manis pahitnya
rinduku padamu dairi
lebih panjang dari jalan yang kujalani
rinduku padamu dairi
lebih banyak dari waktu yang kulewati
melintas gunung-gunung
membelah samudera
tinggalkan kau jauh di sana
dipeluk dinginnya cuaca
kau kandung semua anak-anakmu
genap sembilan bulan
kau lahirkan dari rahimmu dengan beragam cara
kau besarkan ia di tanahmu yang subur
ketika tiba saatnya
berangkatlah secara berurutan
mencari kehidupan yang berbeda
lebih sewindu
tinggal kau berpeluk bisu
senyum mataharimu tetap begitu
derai tawa alir sungaimu tetap begitu
hijau gunungmu tetap begitu
kubayangkan anak-anakmu
pulang memelukmu
merawatmu
membawamu vitamin yang harganya mahal
agar wajahmu tetap awet muda
kurasa itu harapmu juga
tapi kadang kami anak-anakmu
bukan karena lupa
tapi ternyata
sepanjang perjalanan
pergumulan hidup sama saja
mampu selamatkan diri
itu sudah ;luar biasa
dairi
rinduku padamu
bisa juga berarti
tidak berdaya


  44
IBU

ibu merintih pedih hatinya
tangisi sunyi ketika sendiri
duduk bersandar pada derita
saat sendiri dinikmatinya
kendati mata hati basah diurai airmata
selalu saja ditampakkannya
nuraninya keras seolah-olah bagai baja
ibu mengukur langkah dalam hatinya
sampai manakah kelak pelayaran buah hatinya
menjelajah angan-angan membelah angkasa
ibu merintih pedih hatinya
dihitung segala kemampuannya
ragu langkah sampai di tujuannya
maka doa-doa kepada yang kuasa
menjadi ajimat penguat jiwa
yakinkan batin dan hatinya
jika tuhan berkenan tak ada yang tak bisa
ibu merintih pedih hatinya
dilepas buah hati dari pelukannya
melangkah ikuti bayangannya
menggantung nasib di lingkar cita-cita
bergegaslah nak sebelum matahari di atas kepala
jika tidak, panas terik membakar persada
lemah lunglai langkah dibuatnya
ibu merintih pedih hatinya
dilepasnya buah hati dari pelukannya
melangkah ikuti bayangannya
mengejar hari jelang senja


45
Aku Mulai Lagi dari Alif

aku mulai lagi dari alif
mengurai sesal
akan waktu yang terbuang
sia-sia
aku telah berjalan
di untaian keyakinan
atas ketidakyakinan
dan ketika cahaya-Mu
melintas sedetik
saat mataku terbuka jujur
rasa takutku hadir
oo….. Yang tercinta
aku begitu lama berpaling
tak menghiraukan-Mu
oo…. Yang terkasih
aku begitu jauh terpisah
meninggalkan-Mu
aku mulai lagi dari alif
berdegup jantungku
penuh harap
aku mulai lagi dari alif
memahami makna
tanda demi tanda
menuju
kebesaran-Mu




46
EMAS HITAM DI PERUT IBUKU

kudengar dari balik gunung-gunung
jauh dari seberang samudera
ibuku sedang mengandung
janin yang dikandungnya
 emas hitam
bertumpuk di seluruh ruang rahimnya
semua mata tiba-tiba terbelalak dan mengawasinya
bahkan semua orang tiba-tiba mengaku
sebagai ayah kandungnya
saudara kandungnya
sepupunya
iparnya
tantenya
omnya
neneknya
kakeknya

ibuku sedang mengandung
janin yang dikandungnya
 emas hitam
semua menjadi rajin menghitung waktu
menunggu bulan genap usia
ibuku menjadi tercantik di jagad raya
semua orang mengelus-elus perutnya
ibuku sedang mengandung
janin yang dikandungnya
 emas hitam
mengapa sejak dulu tak ada yang menghiraukan?
mengapa sejak dulu semua mengabaikan?
ibuku sedang mengandung
janin yang dikandungnya
 emas hitam
tiba-tiba semua merasa gelisah
bayangkan dalam sekejap nasib bisa diubah
seperti membalik telapak tangan


47

BOM

aku mendengar lagi cerita airmata
ketika orang-orang tak berdosa
bersimbah darah
rebah tak berdaya
lalu sepi
malam tak punya nyanyian
angin tak punya desisan
satu dentuman saja
habisi sekian nyawa

amarah kami sudah di ubun-ubun
ingin berteriak
wahai kaum pengecut
tidakkah berhadap-hadapan beradu argumen
atau malah adu jotos tak lebih jantan
ketimbang mendentumkan auman kematian
tanpa kompromi?
wahai kaum pengecut
berhentilah menyebar virus
teror!
kami ingin hidup damai
di bumi pertiwi
yang kami cintai ini.


(jakarta, ketika JW Marriott meledak lagi!)



48
TANOH PAKPAK

jika nanti tiba waktunya
senja merah jambu di bibir batas
matahari di puncak lelahnya
aku ingin
jiwaku teregang di pelukanmu
jika nanti matahariku padam
tak kulihat lagi rembulan
tak kulihat lagi gemintang
tak kulihat lagi siang
tak kulihat lagi malam
kuingin rebah
tidur nyenyak di pangkuanmu
izinkan aku bersidekap
lelap di peraduan abadi
 kubayangkan sepotong kain kafan
membungkus tubuhku yang kering
tersingkap sedikit di bagian wajah
menghadap dinding tanah yang lembab
dalam pejam yang panjang
terus berusaha mengingat peristiwa
yang pernah kujalani
 bukan dalam acara debat
tapi tanya jawab
yang  akan memutuskan
kelak ke sorga atau neraka
jika tiba waktunya
senja merona di batas cakrawala
taburi rumah kecilku
bunga-bunga tujuh rupa
agar kucium wangi
jadi mimpi indah
dalam penantian
tiada batas

  



49
GELISAH IBU

membentang luas sunyi
suara lirih menghiasi
ibu yang lelah kerontang kini
kulitnya keriput sepanjang waktu dibakar matahari
kapan pulang kau yang pergi
merindu ibu ditinggal sunyi
kapan pulang kau yang pergi
sebelum waktu henti berlari
sudah lelah gelisah digumuli
sudah lelah resah ditemani
sudah lelah tangis dihampiri
kapan pulang kau yang pergi
sebelum berhenti detak nadi


50
ZIARAH

tiba-tiba mataku basah
menetes airmata di atas pusara
menghitung langkah perjalanan panjang
adalah sesal tak pernah berujung
ketika mimpi tak akan sampai

kubawakan seribu bintang gemerlapan
tak ada lagi lehermu yang jenjang
tempatnya kuhiaskan
bumi bisu di tanah yang kering
langit diam direnggut sepi
rumput liar di sepanjang jalan kecil
merakit sunyi makin sunyi
dalam diam
kuuntai kata mutiara
khusuk dalam doa
semoga kau bahagia
di surga
duduk di singgasana
sisi yang mahakuasa
semoga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar