Hampir sepekan Sakti berkelana di negeri jiran, Malaysia, ternyata berita video mesum bukan menjadi santapan umum. Media di negeri tetangga itu memang menurunkan berita-berita Ariel, tapi sebatas update formal. Kelihatannya mereka tak ingin masuk lebih dalam. Justru dalam pertemuan beberapa rekan wartawan, Sakti terperangah ketika topik pembicaraan mereka ‘’menghangat’’ tentang film animasi, Ipin dan Upin.
Awalnya Sakti menanggapinya dingin. Dia mengakui, Ipin dan Upin sedang merasuki dunia anak-anak di Indonesia. Tayangan TPI setiap pukul 19.00 dalam bahasa Melayu, dan tayangan Disney Channel Asia dalam bahasa Inggris itu memang menjadi trend. Bukan hanya anak-anak, tapi orang dewasa juga. Bahkan istilah ‘’Betul….Betul…Betul…’’ menjadi candaan tiap hari.
‘’Sepekan lalu saya baru jalan-jalan ke Yogyakarta. Saya melihat fenomena Ipin dan Upin begitu merasuk di sana. Bukan hanya tayangan televisinya, tapi juga berbagai merchandise Ipin Upin laku dijual di tepi jalan,’’ ujar salah seorang wartawan hiburan kelompok Karangkraf, kelompok media besar di Kuala Lumpur.
Upin Ipin. Ini menjadi satu kejutan dari Malaysia. Betapa Sakti mendadak terbuka matanya, bahwa animator di sana cukup jeli menangkap situasi. Pembuatnya berangkat dari hal yang amat sederhana tapi mulia. Pada tahun 2007, tepatnya 14 September 2007, untuk pertama kali TV9 Malaysia menyiarkan film animasi anak-anak yang diproduksi Les’ Copaque itu. Ide dasarnya, membuat tema-tema mendidik anak-anak untuk menghayati makna bulan ramadhan.
Adalah tiga anak muda kreatif Malaysia, Mohammad Nizam Abdul Razak, Mohammad Safwan Abdul Karim dan Usamah zaid jebolan Multimedia University, Malaysia berkumpul mendirikan Les’ Copaque, setelah bertemu dengan sepasang suami istri yang menjadi pemodal. Mereka yang berlatar belakang animator itu membuat uji coba Upin dan Ipin itu. Ternyata mendapat respon yang luar biasa. Maka tema ramadhan pun harus dilebarkan.
Ipin Upin hadir menjadi potret sosial budaya di Malaysia. Termasuk tokoh-tkohnya yang mewakili mayoritas masyarakat: Melayu, India dan Cina. Bahkan, di kemudian hari ada tokoh Susanti, anak Indonesia.
Sejak awal, mereka tak ingin muluk-muluk. Penonjolan karakter dan aspek budaya Melayu dikedepankan, termasuk latar belakang (setting) kampung yang sejak semula mereka yakini akan menarik perhatian orang.
Sejak awal, mereka tak ingin muluk-muluk. Penonjolan karakter dan aspek budaya Melayu dikedepankan, termasuk latar belakang (setting) kampung yang sejak semula mereka yakini akan menarik perhatian orang.
Alhasil, mimpi mereka menduniakan keperibadian bangsa lewat animasi itu terwujud. Setidakya sekarang, beberapa negara sudah bisa menikmatinya. Selain di Indonesia (lewat saluran TPI), Upin Ipin juga disiarkan lewat Disney Channel Asia di Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam, Hong Kong dan Korea Selatan.
Sakti menjadi pendengar yang baik, ketika teman-temannya berapi-api menceritakan dan membanggakan animator negeri mereka. ‘’Saya pernah tanya, mereka membuat Upin dan Ipin ini selain ingin menonjolkan tema social budaya dan eksistensi kebangsaan tadi, juga karena mudah dibuatnya,’’ kata seorang teman lainnya.
Bah! Sakti menceritakan Unyil, sekarang (Laptop si Unyil), dengan landasan tema sama, menonjolkan budaya dan keseharian masyarakat Indonesia yang beragam. Tapi dia menganggap kalah langkah, karena dengan gampang saja bisa dibilang, Upin Ipin masuk Indonesia, dan menglahkan popularitas yang ada di sana.
Sakti berpikir. Tunggu saja. Biasanya kreator Indonesia panas kalau sudah berhadapan dengan kenyataan seperti ini. Mudah-mudahan pula rasa panas itu membuahkan kreasi yang luar biasa, dan tentu saja ada pula yang panas memodali, seperti tiga sekawan animator Malaysia yang ternyata dimodali Bandar minyak dan gas. (hmb)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar