Rabu, 20 April 2011

Selamat Jalan Franky Sahilatua

Mengejutkan! Itu selalu terjadi setiap ada berita kematian. Dan siang ini, kembali rasa itu muncul. Ketika muncul berita si pencipta dan penyanyi balada, Franky Sahilatua telah dipanggil oleh untuk selamanya, menghadap sang Khalik, tepatnya hari ini, Rabu (20/4) pukul 15.15 WIB di RS Medika Permata Hijau, Jakarta Barat.

Franky selama ini memang sedang berjuang melawan kanker yang menyerangnya. Sempat dirawat 7 bulan di Singapura dan menjalani operasi, kemudian dia dibawa pulang. Seminggu lalu dia dilarikan lagi ke rumah sakit dan tak sadarkan diri. Lalu, akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.

Insan musik dan penikmat musik, dosa besar kalau sampai bilang tak pernah tahu nama Franky Sahilatua. Di era 70-80an, lelaki kelahiran Surabaya tahun 1953 terkenal dengan duetnya bersama Jane, adik kandungnya. Sempat juga bertiga menyanyi dengan adik satunya lagi Johny Sahilatua. Gaya khasnya, menggendong gitar dan memetiknya sambil menyanyikan lagu-lagu balada ciptaannya, menjadi ingatan tersendiri untuk kita.

Sebagai seniman musik, Franky tergolong cukup sederhana. Pernah mengajak keluarganya menempati sebuah rumah (dalam kurun waktu yang cukup panjang) di bilangan Bintaro, sebelum menempati rumah sendiri sekarang ini, banyak pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Masalahnya rumah itu selalu kebanjiran. Tapi dengan tenang dan melemparkan senyum Franky mengatakan selalu menikmati suasa itu. Dia malah mengaku bisa membuat lagu ketika berada di atap rumah, sementara bagian bawah rumahnya terendam.

Humoris, tapi kerap juga sangat serius. Itulah sosok pencipta lagu fenomenal Kemesraan ini. Dia selalu menempatkan diri sebagai ''yang melayani''. Penulis pernah datang ke rumahnya beberapa tahun lalu. Mengajaknya membuat sebuah lagu bareng-bareng. Dengan santai dia mengambil gitar dan langsung memulai tawaran itu.

Di era 90-an, Franky juga cukup dekat dengan petinggi, termasuk Gus Dur. Anak Ambon yang kental berlogat Surabaya ini memang cepat dekat dengan orang. Tetapi dengan para petinggi itu justru dia lakukan ketika dia mulai menggeser karya-karyanya ke posisi yang lebih fokus, melihat dan memotret penyakit-penyakit sosial yang berkembang pesat di sekelilingnya.

Ketika reformasi berlangsung dia juga membuat sebuah grup yang manggung dari kampus ke kampus.
Ini berarti, Franky memang hidup di segala era. Dia aktual di segala masa. Hanya saja, penyakit yang dideritanya sepertinya terlalu kuat untuk ditahan, dan akhirnya membawanya pergi untuk selamanya. Selamat jalan, Bung Franky. Semoga damai di sisi Tuhan. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar