Kamis, 24 Februari 2011

Selebriti dan Penjara

Sakti sedang mengikuti berita-berita selebriti. Yang paling menarik perhatiannya adalah, makin maraknya selebriti yang berurusan dengan hukum. Ujung-ujungnya sudah bisa ditebak, mereka akan dihukum dan dijebloskan ke dalam penjara.
Orang berurusan dengan hukum selalu ada. Bukan sesuatu yang luar biasa. Tapi ketika selebriti yang tersangkut kasus, entah kriminal atau kasus lain seperti narkoba, selalu menjadi sorotan. Menjadi berita.
Seringkali para selebriti kemudian memrotes kondisi ini. Kalau selebriti punya kasus, kemudian ada saja yang berteriak, bukankah itu juga berlaku buat kelompok orang lain? Kenapa kalau selebriti langsung menjadi sorotan habis?
Sakti mencatat, setidaknya ada Ariel, Cut Tri dan Luna Maya (kasus video porno) Adjie Notonegoro, kena kasus (penipuan, jual beli berlian), Revaldo (kasus narkoba), Ibra Azhari (narkoba) dan sekarang ini lagi hangat, Andi Soraya (penganiayaan -- melempar seseorang dengan gelas).
Selebriti juga manusia. Itu benar, pikir Sakti. Tapi seharusnya juga sangat perlu disadari, ketika seseorang menjadi selebriti (figur publik), maka besar kemungkinan mereka menjadi panutan. Atas nama popularitas, keterkenalan, mereka menjadi tokoh yang bisa menentukan arah pikiran, setidaknya orang-orang yang ngefans kepada mereka.
Maka celakalah kalau para selebriti mengabaikan itu, dan tetap berlaku biasa saja, tak peduli dengan predikat yang disandang. Celakalah kalau kemudian pengikut-pengikut mereka dengan membabi-buta membela kelakukan mereka habis-habisan.
Memang tidak mudah bagi orang yang disandangkan predikat panutan tadi. Boleh-boleh saja kita bilang, ini urusan pribadi mereka. Tanpa berpikir bahwa sikap, prilaku mereka adalah virus yang bisa dengan cepat menular kepada (setidaknya lagi) penggemar-penggemar mereka.
Maka acungan jempol harus kita berikan kepada selebriti yang menularkan virus positif. Seperti apa yang pernah dilakukan anak-anak Slank. Mengakui pernah berurusan dengan narkoba, menyerukan berhenti menggunakannya, menunjukkan hal-hal positif dalam keseharian, kepedulian kepada sesama dan macam-macam lainnya.
Apa yang didapat Slank dengan menularkan virus seperti itu adalah sesuatu yang mungkin tidak terpikir sebelumnya. Ada kelanggengan, totalitas para fans mereka (apalagi Slank misalnya selalu rutin membuat sesuatu kegiatan positif lewat Slankersnya.
Ketika Roy Marten menyatakan betapa hancur hidupnya karena dua kali masuk bui karena narkoba, juga menjadi contoh bukan hanya menularkan sesuatu yang positif, tapi juga melanggengkan status keselebiritiannya.
Bukankah status itu juga membutuhkan pengakuan, kekaguman dan penghormatan?
Sakti berpikir lagi. Jadi selebriti memang tidak mudah. Tapi kalau disadari bahwa status itu ternyata bisa mengubah banyak hal, maka yang dibutuhkan adalah hidup lurus dan kehati-hatian. (hmb)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar