Senin, 18 April 2011

Balada si Norman

Pagi ini, Selasa (19/4), Briptu Norman, anggota Brimob Gorontalo yang menggemparkan itu pulang kampung. Saking lelahnya, di pesawat dia menghabiskan waktu perjalanan dengan tidur. Lelah. Ya, sepanjang lawatan ke Jakarta, hampir tidak ada waktu kosong untuk berleha-leha. Tur televisi, diundang sana-sini lengkap dengan mendapat hadiah bermacam-macam, mulai dari motor sampai beasiswa.

Bisa jadi, bagi institusi kepolisian, menghumbar Norman di media sudah saatnya dihentikan. Kemampuan Norman menyanyi dan menari, sudah harus dikonsentrasikan pada posisi yang pas, yakni, seperti falsafah institusi kepolisian soal kemitraan dengan masyarakat. Orang-orang seperti Norman harus dimaksimalkan di sana. Konkret. Ketika urusan kemitraan itu dikedepankan, Norman-Norman yang ada di institusi kepolisian bisa menjadi kembang-kembangnya.

Apapun, Norman tetap anggota polisi. Yang mempunyai tugas dan tanggungjawab yang sangat jelas dan pasti. Itu yang utama. Bahwa kemudian ada pergeseran pemanfaatan, itu menjadi tugas dan tanggungjawab alias beban berikutnya.

Kehadiran Norman dalam waktu yang singkat, cukuplah mencairkan suasana. Pilihan kebijakan kepolisian cukup tepat. Garis penegasan kemitraan untuk menghilangkan batasan-batasan, sangatlah terasa.

Maka kalau sekarang Norman ''dipulangkan'', pastilah pihak kepolisian menganggap ini bisa 'over expose''. Norman seperti dikembalikan ke dunia nyatanya. Pulang kampung, menghadapi keseharian seperti biasanya, dan pasti jauh lebih tenang. Meski, ketika tugas itu ''bisa saja'' terulang kerika dibutukan, pastilah Norman akan berdiri tegak lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar