Rabu, 23 Maret 2011

Jangan Biarkan Ibu Murka!

Jangan pernah bikin ibumu kesulitan. Ibumu yang melahirkan dan menyusuimu, yang berjuang lebih dari 8 bulan mengandungmu, membesarkanmu.

Kasih ibu sepanjang masa. Ternyata kadang-kadang itu bisa tak berlaku. Ketika seorang ibu dipurukkan, merasa disudutkan, dipojokkan, dia bisa berubah menjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka.

Kaget bin terjekut sangat ketika menyaksikan layat televisi, seorng ibu (ibu artis bernama Arumi) muncul dengan segala amarahnya. ''Saya akan berhenti mencari anak saya. Masih ada anak-anak saya yang lain yang harus saya hidupi. Saya tidak akan mencarinya lagi. Biarkan dia yang merangkak mencari saya (ibunya),'' kata sang ibu berapi-api. Berkali-kali dia menegaskan, apa yang dia putuskan adalah sesuatu yang serius dan tidak akan berubah.

Sebagai ilustrasi, bebrapa bulan ini Arumi yang cantik itu menjadi pembicaraan di media, karena melarikan diri dari rumahnya. Berbagai macam alasan pelarian ini, tapi keluarga menganggap kelakukan Arumi seperti itu karena pengaruh lelaki bernama Miller (yang juga bintang sinetron asal negeri jiran). Mereka ini pun sahut-sahutan di televisi. Saling menyalahkan dan saling membenarkan diri.

Lelah. Itu barangkali satu kata yang paling pas sebagai gambaran pergerakan keluarga, khususnya ibu Arumi selama ini. Lelah mencari sang putri yang bersembunyi, lelah berhadapan dengan pertanyaan wartawan, dan lelah terbarunya adalah, sang anak malah melaporkan ibunya ke pihak kepolisian.

Bah! Sudah sejauh itukah pergeseran nilai dalam kehidupan manusia ''maju''? Seorang anak nekat meninggalkan keluarga, seorng anak begitu tega melaporkan ibu kandung, mempersalahkan, dan dibawa ke jalur hukum?

Fenomena macam apa yang tejadi di depan mata ini? Bahkan bersura keras kepada ibu saja bisa dianggap salah dan berdosa, apalagi sampai meremehkan mereka dan mempermalukan mereka habis-habisan?

Kita memang cuma bisa berasumsi. Semua punya kewajiban introspeksi. Tapi intinya, bagi saya, ibu yang sudah meninggal puluhan tahun lalupun tetap menjadi ''sosok'' yang saya tempatkan di tempat terhormat di batin saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar