Kejadian kemarin, Selasa (15/3) sungguh mengerikan. Tiga paket bom buku dikirim ke tiga tempat. Satu meledug pula dan mencelakai orang. Bah! Apa sebenarnya yang kau cari? Sensasi, mengacau, atau berbuat tanpa dipikir panjang?
Begitu banyak cerita fakta ledakan bom dengan sengaja, makan korban yang jumlahnya tidak sedikit, baik yang mati maupun cacat seumur hidup. Belum lagi trauma yang disisakan terus menjadi hantu dan mimpi buruk. Korban pun berantai. Mulai dari korban fisik yang ada di tempat, sampai keluarga dan handai tolannya.
Meski perlakukan seperti itu sering dianggap sebagai bagian dari permainan politik, atau apalah namanya, kok melihat dari sisi manusia yang hakiki seharusnya jauh lebih dipentingkan. Kalau seseorang berkelahi dengan orang lain, haruskah menyambar atau melibatkan orang lain lagi yang lebih banyak tak ada kaitannya dengan perkelahian mereka.
Bisa jadi pemikiran ini dicap lugu, bodoh dan sebagainya. Tapi jujur, melihat kenyataan yang ada kita kadang nggak habis pikir dan nggak mengerti, kenapa jalan keluarnya dilakukan dengan cara yang tidak ''pas''.
Melihat orang mati, meringis kesakitan, menjerit, meraung-raung karena badan terbakar atau tercabik-cabik ledakan bom dalam kasus-kasus seperti, sungguh bikin pilu.
Jadi kepikir, apakah kata ''damai'' sangat sulit dicapai?
Tolonglah, jangan kirimi lagi paket bom!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar