Pak Ros, begitu ia akrab dipanggil, Nama panjangnya, Haji Rosihan Anwar. Siapa yang tak tahu nama putra Minang yang menggeluti dunia jurnalistik sejak usia berkepala dua itu? Tulisannya yang bersahaja, nakal, tidak membungkus-bungkus, adalah khas yang selalu menarik. Perjalan hingga usianya 89 (saat meninggal hari Kamis, 14/4/2011) cukup dipenuhi pengalaman dan catatan-catatan sejarah. Maka sang budayawan dan sejarawan ini, di dunia jurnalistik bukan hanya dipanggil senior, tapi juga yang dipanuti.
Dalam satu kesempatan berbincang, Pak Ros mengatakan kesehatannya terjaga karena dia terus dan terus menulis, membaca dan berolahraga. Menulis membuat otaknya terus bekerja dan membaca membuat ingatannya terus kuat. Itu menurut dia.
Maka Pak Ros adalah orang yang rajin menulis obituari, ketika pejabat atau tokoh meninggal. Selalu ada yang berbeda dalam tulisannya, karena dia mengingat banyak hal. Dia mencatat banyak peristiwa terkait dengan apa atau siapa yang ditulisnya.
Hingga akhir hayatnya, Pak Ros tetap menulis. Dengan mesin ketik tuanya. Walau ada yang menghadihinya komputer, dia tidak pernah mau menggunakan selain mesin tik tua. Alasannya, seni menulis dan semangatnya justru membludak ketika mendengar bunyi tak tik tak tik itu. Tapi di sisi lain dia pernah juga menyebutkan, mengtik seperti itu juga menjadi obat. Setidaknya kekerasan jari yang ditekankan ke huruf-huruf (tuts) mesin ketik akan selalu menjadi semacam olahraga yang mengusik saraf-saraf di ujung jarinya.
Cinta adalah landasan dan dasar Pak Ros menjalankan profesinya. Karena cinta itu pulalah dia selalu menerima apapun hasilnya. Falsafah menjalankan profesi menulisnya adalah seperti judul buku yang ditulisnya di tahun 1983, Menulis di Atas Air. Tak perah berbekas karena selalu ada aktualitas yang baru, bukan masalah. Tapi seperti dia pernah bilang kepada penulis, ketinggalan aktualitas atau ketidakmampuan mencari kelengkapan sebuah peristiwa adalah aib dan duka bagi seorang yang mengaku wartawan.
Banyak yang bisa dipelajari dari Pak Ros, khususnya bagi orang-orang yang berprofesi sebagai jurnalis atau penulis. Ketekunan dan keuletannya menggali banyak bahan selalu menjadi kekuatan dalam tulisan-tulisannya. Keliarannya menggiring sebuah tema ke satu titik yang luar biasa, pun didapatkannya karena itu.
Maka tak ada kalimat lain yang bisa terucap selain, Selamat Jalan Sang Mahaguru!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar