Jumat, 01 April 2011

Tuliskan Saja, Pasti Bisa!

Seorang anak muda datang menemui saya. Begitu antusias meminta saya mengajarinya menulis. Saya bilang, bukannya kamu sudah bisa menulis?

''Saya mau jadi pengarang, Om,'' jawabnya.

Jadi pengarang? Saya mengernyitkan kening. ''Bukankah sekarang jadi pengarang jauh lebih gampang? Kamu menulis status di twitter, bikin status di facebook, menulis di blog pribadi, beres,'' jawab saya.

''Ya, cuma memulai menulis itu seperti apa?'' tanyanya.

Menulis, mengarang, ya, pasti sangat nikmat. Bahkan seorang penulis andal, Rosihan Anwar pernah bilang, menulis (dan membaca) itu bagian dari ''obat'' yang membuat dirinya sehat sampai usia kepala 8 saat ini. Dengan mesin tik tua, Pak Ros, begitu kami biasa memanggil wartawan senior itu setiap hari pasti menulis. Apa saja.

Mengarang itu gampang, kata Arswendo Atmowiloto. Bukan hanya diomongkan, tapi dia malah pernah menulis buku dengan judul itu. Saya pernah membuat puisi Mas Wendo menjadi sebuah lagu yang dipakai di acara tayangan TVRI di akhir 80-an dengan judul yang sama, Mengarang Itu Gampang, yang dipandu Ms Wendo sendiri.

Tuliskan saja/ Jangan ditunda....
......
Mengarang itu gampang/ asal mau...
Menulis puisi gampang sekali/ Asal dicoba pasti bisa....

Begitulah. Saya bilang kepada anak yang menemui saya, bahwa dia sudah punya modal awal, kemauan. Langkah berikutnya adalah ''keinginan'' menulis apa?

Tapi yang pasti saya tidak ingin meribetkan pikirannya. Saya meringankannya dengan, ''Sudah, kamu mulai saja. Tulis apa saja apa yang kamu mau. Baca lagi. Kasih juga dibaca teman-teman. Apapun komentar mereka, dengar saja.

Coba kirim ke media. Nggak dimuat nggak apa-apa. Coba lagi. Bikin pula blog pribadi, atau tulis di mana sajalah. Yang paling penting, menulislah setiap saat.

Saya tetap menggiringnya pada logika. Bagaimana menentukan tema. Bagaimana membuat kerangka awal, bagaimana menyusun irama tulisan, bagaimana memilih judul, dan sebagainya. Dia mencamkan dengan baik (semoga).  

Dari semua pembicaraan, ada yang hampir lupa saya tekankan kepada kawan muda satu ini, ''Menulislah dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.'' Ini kayaknya yang paling penting ingin saya omongkan. Dengan alasan komunikatif, seringkali orang menulis seenak udel. Mengacak-acak tatakrama berbahasa Indonesia, merusak struktur kalimat dan lain sebagainya.

Ampun dah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar