Kalau saja hari ini, Rabu (9/3/2001) saya tidak membaca status facebook teman, sumpah, saya nggak ingat kalau hari ini Hari Musik. Lalu saya berpukir, begini-begini saja nih? Membayangkan megahnya musik, majunya industri musik, dan pentingnya musik di negeri ini, kok yang namanya hari musik nggak ada gaung sama sekali?
Di masa lain, perayaan kayak Valentine Day, bahkan halloween, biasanya orang-orang menyiapkannya jauh-jauh hari, sama dengan perayaan seperti hari lahir dan sebagainya. Dipestakan semeriah mungkin dan senyaman mungkin.
Musik sebagai karya seni, nggak usahlah dijelaskan. Musik sebagai sumber penghasilan, kita sering mendengar angka-angka spektakuler dan mencengangkan. Tapi kenapa dia seperti terperosok hanya dibahas di panggung pagelaran dan industrinya ''dibiarkan'' diacak-acak orang tak bertanggung jawab?
Sejak tahun 80-an ketika industri musik melejit pesat, ketika kita mulai mendengar kaset terjual di atas 2 juta bahkan lebih keping, para ''maling-maling'' mulai menggerogot. Produser menjerit-jerit, baru seminggu kaset (saat itu baru kaset yang menjadi bentuk fisik terbaru rekaman musik) beredar di pasar, para ''pembajak'' (begitu para penggerogot itu diistilahkan) beraksi. Kaset-kaset bajakan merajai pasar. Ada di depan mata.
Berbagai upaya dilakukan. Ada masa para pengurus industri rekaman seperti Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) membombardir, membawa para pembajak kaset itu ke meja hijau. Menghukum dan memenjarakan mereka. Tapi, selalu tidak tuntas.
Persoalan itu ternyata masih terus bahkan makin menjadi persoalan yang menggunung. Upaya untuk memerangi dilakukan para pelaku industri musik sah. Muncul organisasi seperti GAP (Gabungan Anti Pembajak) yang pencetusnya ada Jenderal (purn) Polisi Togar Sianipar, bergabung dengan produser-produser yang concern terhadap persoalan ini. Terus berperang, dan entah kenapa, nggak ada habis-habisnya.
Jika berita televisi sering kita lihat penggerebekan pabrik narkoba seperti ekstasi yang gede-gedean, ada masa di tahun 80-an, penggerebekan penggandaan kaset bajakanlah yang sering muncul di layar kaca.
Jenuh tak da habis-habisnya, bahkan barang bajakan itu malah dijual di depan mata, di pinggir-pinggir jalan (yang pastinya dipungut retribusi juga), dan masyarakat malah seperti dibutakan, apalagi mereka lebih mudah dan lebih murah mendapatkan karya-karya bajakan itu.
Maka jadilah seperti lagunya Ruth Sahanaya: Amburadul.
Seorang produser bernama Rahayu Kertawiguna (Nagaswara Records) yang sejak dulu concern terhadap peperangan melawan pembajak ini mencoba perang dengan cara sendiri. Dia mengaku beruntung sekarang ini Ring Back Tone (RBT) menjadi trend (walau dia sendiri kecewa karena karya seniman musik itu akhirnya harus dikebiri maksimal menjadi 30 detik), secara materi akhirnya banyak hal yang bisa diatasi. Dengan penghasilan RBT, si seniman musik bisa hidup nyaman kembali. Tapi, problem besarnya, karya musik itu harusnya utuh. Artinya, yang paling sempurna adalah mendapatkan fisik (sekaang ini seharusnya yang menjadi utama adalah penjualan CD). Kalau itu jalan, seniman puas lahir batin, konsumen penikmat musik juga puas karena mendapat karya utuh.
Sampai saat ini, itu tinggal mimpi. Bajakan menjadi ''raja''. Ada solusi yang pernah dicetuskan dan beberapa menjalani, dengan menjual CD ekonomi. Harga bersaing dengan bajakan. Tapi kita harus juga bicara mutu. Bahkan kalaupun itu dijalankan, tetap saja banyak pihak terugikan. Pembajak, banyak komponen yang tidak dia penuhi. Namanya juga pembajak, ya keruk untung sebanyak-banyaknya. Mereka hanya membeli satu CD (misalnya), perbanyak, cetak cover, jual. Tanpa bayar pajak pula. Sementara produser resmi, mulai dari membayar artis, lagu, produksi, promosi, bayar pajak resmi menjadi kewajiban.
Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk ini? Pertama pelaku industri musik harus bersikap, dengan menggandeng pihak pemerintah untuk membuat ketegasan. Belum lama kita lihat ada pembakaran barang-barang bajakan itu, mulai dari CD sampai DVD. Tapi lihat saja di bilangan Glodok atau pasar-pasar resmi bahkan mal-mal di kota besar, para penjual bajakan itu kastanya seperti lebih tinggi dari penjual barang resmi di sebelahnya.
Jalan keluarnya, ya sapu bersih, sikat tuntas.
Dengan kondisi yang masih membuat miris seperti sekarang, saya hanya bisa bertanya: Hari Musik kah Hari Ini?

saya semain ga ngerti mas hans,
BalasHapusbangsa ini selalu marah jika budayanya atau karyanya diambil/ditiru bangsa lain tapi warga negara bangsa ini malah tidak bisa menghargai karya anak bangsanya...
support our group for STOP PIRACY...
http://www.facebook.com/group.php?gid=339574230758&ref=ts