Setelah perjaanan panjang, melewati lika-liku baik keberhasilan maupun kegagalan, kesenangan maupun kekecewaan, seorang teman berbincang dengan saya sore ini. Dia bercerita tentang ''mudik''. Setelah begitu lama ada sesuatu yang dulu pernah membuatnya besar, bahkan dijadikannya sumber nafkah ditinggalkan, dia mudik. Kembali menikmati masa lalunya itu. Teman saya itu fotografer. Dia kembali menggauli kameranya. Dia kembali bertualang meski tidak dalam petuangan yang cukup jauh. Tapi imajinasinya lepas sekarang. Dia kembali merasakan nikmat.
Perjalanan hidup ternyata tidak ada batasnya. Batasannya yang harus diperjelas. Maka ''mudik'' adalah bagian dari batasan. Kalau dulu hasil foto teman itu untuk menopang hidup. Sekarang untuk menopang nikmat. Dia berbuat, dan menikmati hasilnya, sekaligus merasa senang ketika hasil potretannya dinikmati banyak orang. Dia bikin blog khusus di dunia maya, yang setiap saat diupload foto-foto baru.
Yang membuat saya lebih tertarik lagi, teman ini bicara kuburan. Blog yang dia buat menurutnya sama dengan membuat kuburan sendiri, yang di nisannya penuh dengan sesuatu yang bisa dilihat dan dikenang orang kelak. Ada hal yang insya Allah berguna bagi orang lain maupun sanak keluarga kelak. Ada yang dibanggakan anak-anaknya.
Mudik dalam persfektif teman ini tidaklah harafiah. Banyak ternyata perjalanan sekadar cuma perjalanan, dalam hidup. Perlu ada semacam introspeksi, evaluasi untuk memahami semua yang dijalani, dan merenungkan apa yang harus diteruskan. Atau apa yang harus diulang.
Hidup harus hidup. teman saya bilang, ''Kita tidak mengingkari untuk meneruskan hidup dibutuhkan biaya. Dan, kadang kita menafkahi diri kita dari apa yang sesungguhnya bukan dengan talenta yang dianugerahkan Tuhan kepada kita.'' Ini pun anugerah. Tapi talenta yang sesungguhnya harus terus ada dan hidup.
Teman saya ini seperti sampai di satu titik soal talenta yang di''mudik''inya sekarang adalah bagaimana dia melakukan itu sesuai nuraninya. Sepenuhnya. Tidak ada yang menuntut saya memorret.''
Dia merasa memotret itu dengan kebebasan mutlak itu adalah kesunyian. Dia merasa kesunyian itu tempat dia bercermin. Tempat dia melakukan apa saja yang dia malukan. Sendirian. Dia harus menyelesaikan apapun sendirian. Lewat pikirannya, akalnya, dan diteruskan ke kameranya.
Dia kini menjadi seniman fotografi.
Intinya: Jangan lupakan atau sia-siakan talenta, anugerah yang diberikan oleh Tuhan.

http://marcelbirdy.wordpress.com
BalasHapus