Senin, 07 Maret 2011

Coretan-Coretan Renunganku

Tepatnya 23 Desember 2009, nyawaku hampir melayang. Sekitar pukul 21.00 WIB, ojek yang aku naiki disambar mobil. Aku dan si tukang ojek terhempas. Ketika mau berdiri, aku baru sadar, kaki kananku bermasalah. Tepat di bawah tempurung kaki, tulangnya remuk. Rasa sakitnya bukan main. Sebenarnya aku nggak kepikir untuk operasi, jadi selama sekitar tiga bulan kakiku diurut-urut saja. Sampai akhirnya berhadapan dengan dokter, vonisnya harus operasi.

Sepanjang menahan sakit, yang kurasa sakit hanya kakiku. Nggak mau menjalar ke mana-mana (walau sempat dirawat karena persoalan lain, kebanyakan makan obat penahan sakit). Sepanjang masa penantian yang menjemukan itu, aku mencoba mencoret-coretkan apa yang ada di pikiran dan batinku. Setiap ada sunyi, aku menulis. Tulisan itu tersimpan rapi di laptopku. Dan hari ini, setelah setahun operasi kaki, dan aku sudah mulai berjalan normal kembali dengan 16 mur penahan besi permanen di kakiku. Aku kembali membaca coretan-coretan yang satupun tak kukusih judul. Barangkali menarik untuk dibaca, atau malah dibahas?


1
kembali masuki arena
tegakkan dada, tegapkan langkah
berjalan was-was, menatap awas
pompa semangat, libas tantangan, susun rancangan
selama nadi berdetak, jantung berdegup
tetaplah jadi penakluk
sebab hidup untuk ditaklukkan
selamat pagi matahari
selamat pagi semua
aku datang
dan selalu untuk menang

2

Sepilu-pilu sunyi

telah kuanyam menjadi tikar yang lebar

Aku masih rebah di atasnya

menghitung setiap detak perdetak jantung

denyut perdenyut nadi

masanya terlalu panjang dan membosankan

Wahai ketidakberdayaan

hargai usahaku mengenyahkanmu

dari waktu-waktuku

Aku ingin cepat kembali

seperti aku yang sesungguhnya....

Bukan ini duniaku

Bukan ini keseharianku

Bukan ini nasibku

Wahai...........

 

3

Janji matahari

adalah bersinar terang

sejak pagi menjelang

Tapi, saat langit diselimuti kabut hitam

sang matahari tetap tak berdaya

Kesabarannya menunggu kabut hilang

untuk kembali tepati janji

itu luar biasa.


4

Pagi yang cantik

Matahari tersenyum

langit biru sumringah

Nyanyian daun-daun

mendayu

Aku sedang menyapa kebesaran-Nya



5

Takkan pernah menyerah

dalam masa penangguhan keberdayaan

Sedetik pun harus tetap berarti.

Harus!


6

Romantisme dari ketidakberdayaan dalam kesunyian

adalah munculnya kesadaran introspeksi

Kelemahannya

Introspeksi kadang membuat kesal

karena melihat kembali potret panjang masa lalu

banyak juga yang membuat kesal

akibat munculnya penyesalan

Sialan kesendirian dan kesunyian ini!

 

7

nyanyian pulang

adalah untaian rindu dan penantian

yang sejenak terbengkalai

dan harus tabah dalam uji-NYA

mengalun pagi ini dengan nada kemenangan

aku pulang

aku pulang....


 

 

 

 

 

8

oo sunyi

kau sapa lagi aku

di simpang kebosanan

aku dengarkan nyanyian bulan sabit

di saat yang sama

kudendangkan rintihan perih

dan lirih

lalu

detak jam dinding kamar bertirai putih

masih menjebak batinku

oOo sunyi...

 


9

Sore ini dengerin musik

sambil menikmati segelas kopi panas dan pisang goreng

Besok kita nonton reality show

dari studio senayan lagi

di layar kaca

Lebih seru nggak ya?

 

10

Kesendirian

tidak membuat otak berhenti berpikir

Yang berhenti kadang-kadang

adalah keberdayaan

mewujudkan apa yang dihasilkan pikiran

Untung masih ada akal

dan teman-teman yang tulus

memberi semangat dan dorongan

Memastikan

kesendirian

adalah ujian kesabaran dan ketabahan

Terimakasih akal

terimakasih teman yang tulus

 

11

Nikmati segelas kupi

sepotong roti

nonton tv

sambil mikir-mikir

kaki yang mau dioperasi

Duh, geli!

 

12

Sudah lewat malam

Tidurlah

Aku

masih hendak memanjakan kesendirianku

dalam pelukan sunyi

Jika nanti lelah

aku akan rebah

di ujung mimpimu

Tidurlah

 

13

Mengunci pikiran di satu titik

konsentrasi berjuang

Selamat gini hari

semoga teman-teman yang lagi sakit

diberi-Nya kesembuhan

dan kita semua

selalu dalam bimbingan

dan

lindungan-Nya.

 

14

Sarapan pagi paling bergizi pagi ini

adalah

sapaan tulus

dan senyuman

 

15

langit mendung

tapi

langit hatiku tenteram

dalam buaian

angin harapan

yang kian berwujud

 

 

16

pagi menyapaku ramah

langit seperti biasa

mengernyitkan kening

muram

hendak meneteskan airmata

 

 

17

semakin sering kusebut nama-Mu

di detik-detik sunyiku

Dari sekian sering itu

aku berharap

ada yang melintas

di frekwensi sesungguhnya

 

18

Bangun pagi

mensyukuri rasa sembuh

yang datang pelan-pelan

Lalu hanyut lagi

dalam penantian

yang membosankan

Terimakasih ya Allah

Kau uji aku

untuk menghitung

dan menimbang

semua dalam sunyi

dan waktu yang lapang

Semoga kutemukan

hitam putihku

dengan tepat

 

19

Semalam aku bermimpi

jalan-jalan di padang tanpa tepi

Dalam sadar

rasa takutku menyeruak

Kuhitung sujudku

yang khusuk tak seberapa

Bayangan bocah-bocah kecilku

yang nyenyak dalam tidurnya

membuat sebuah keyakinan

dan kepastian dalam batinku

Aku ingin pulang

ketika aku sudah siap pulang

Lalu kumulai lagi

menyebut

namaMu

 

20

Terimakasih Tuhan

Pagi ini

matahari

melambaikan tangan padaku

dari balik kaca jendela kamarku

 

21

Sudah sore lagi

Aku masih di sini

Tergeletak

Sedang diuji kesabaran

dan ketabahanku

Kadang-kadang

aku merintih kesakitan

Untung tak banyak yang tahu

Untuk apa ya

aku

harus sampai begini?

 


22

Kalau saja ibuku masih hidup,

 aku akan sujud dan mencium kakinya

Selamat hari ibu

kepada semua perempuan


 23

Sangat terhormat membela kehormatan

Tapi dibutuhkan kedewasaan

Kearifan

kesabaran

dan ketenangan berpikir

untuk menyikapinya

Apapun itu


24

Semua momen

bisa menjadi awal

perubahan

Saya sedang menikmatinya


25

Dibutuhkan ketegasan

untuk mengurut benang kusut

daripada makin lama makin kusut

mau ke mana

dan akan bagaimana kita ini?


26

Waktu berjalan tak pernah henti

Tanpa sadar

kita sudah sampai di sini

dan

akan terus ke sana

Mari teruslah

kita jalani semua

dengan senyuman yang tulus

dan kedewasaan

yang semakin matang.


 27

sendiri itu sunyi

sunyi itu sepi

sendiri itu kesepian

pulanglah

wahai kau yang pergi


28

Gempa lagi

di hatiku

Untung

kau

kembali

tersenyum


29
nyanyian sore
adalah rindu.
ingin menatap
mataMu yang teduh
dan kutebar rinduku
di dalamnya
dalam teduhMu
aku ingin melepas
semua lelah dan gundahku
Lelap dalam dekapanMu
dalam teduhMu

30

Nyanyian pagi ini
adalah nyanyian hati
yang bergairah
ditemani matahari
yang cerah
dan tentu saja
berharap dan berdoa
kita semua
diberi-Nya berkah
yang berlimpah

Jakarta - Bogor 23 Desember 2009 - Juni 2010

Minggu, 06 Maret 2011

Taman Wisata Iman

Keberagaman itu adalah kekayaan, apalagi falsafahnya bhineka tunggal ika. Saling menghormati, itulah kunci. Hidup berdampingan, tepo seliro, tolong menolong, saling memahami, ah, sempurna sekali kalau itu tercapai, dan seharusnya tercapai.

Negeri kita yang penuh corak ragam budaya dan tata sosial sejak dulu kita agungkan sebagai harta yang membuat negeri lain ''iri''. Kebhinekaan yang terus dibangun menjadi satu kebesaran yang luar biasa.  Kebesaran dari segala sisi pandang.

Upaya mensosialisasikan yang begitu selalu tumbuh, meski ada riak-riak yang kadang menakutkan. Salah satu yang bisa kita lihat adalah, upaya pemerintah kabupaten Dairi, salah satu kabupaten yang ada di Sumatera Utara. Sekitar 153 kilometer dari Medan, melewati kota wisata Bandar Baru dan Brastagi, lalu Kabanjahe, Merek (yang terkenal dengan jagung bakarnya) kita akan melalui jalan provinsi yang sekarang ini tidak terlalu mulus, tapi dihidangi pemandangan alam yang luar biasa. Lepas dari kota Merek, tepat di sebelah kiri, terhampas perbukitan yang begitu luas, dan di ujung batas, hamparan biru air danau Toba membentang. Ujungnya seperti bersatu dengan langit.

Tak lama kita akan melewati hutan lebat menjelang Tanjung Beringin yang dinginnya luar biasa. Dan setelah melewati kota Sumbul, tepatnya di jalan berkelok-kelok menanjak, ada sebuah sajian yang luar biasa. Sejak beberapa tahun lalu, pemerintah daerah Dairi membangun satu tempat yang ada kaitannya dengan kebersamaan dalam keragaman. Kaitannya dengan keimanan.

Nama tempat itu disebut Taman Wisata Iman. Berbagai simbol-simbol aneka ragam agama yang diakui di negeri kita hadir di sana. Dalam satu areal perbukitan yang begitu luas.

Meski tak banyak publikasi, Dairi yang bertetangga dengan Tapanuli dan Aceh terkenal sebagai daerah yang sangat toleran bukan hanya pada perbedaan suku dan ras (di Dairi -- tanoh Pakpak -- sejak dulu hidup, tinggal, rukun, hampir semua subsuku Batak), tapi juga toleransi beragama.

Maka, berkunjung atau berwisata ke tempat ini sepertinya menjadi satu pilihan penting bagi yang ingin merenungi ''kebersamaan'' itu. Seperti juga yang sudah dilakukan bukan hanya wisatawan lokal, tapi juga sudah bermunculan wasatawan mancanegara ke sana.

Banyak hal yang menjadi bahan perenungan di sana. Mariiiii.........

Sabtu, 05 Maret 2011

Bahasa, Kecil Tapi Penting

Setuju nggak setuju, asyik nggak asyik, mau nggak mau, bahasa selalu menjadi bagian penting dalam sebuah interaksi. Dan, bahasa Inggris, (lagi-lagi, setuju nggak setuju) memang mempunyai posisi terdepan. Bahasa Inggris seakan diciptakan untuk menjadi bahasa dunia.

Sering kita melihat di layar kaca, dalam becandaan artis lokal mengaku tidak bisa bahasa Inggris.  Ya, apa boleh buat. Banyak contoh juga kalau kegagalan berbahasa Inggris menjadi hembatan utama untuk bisa go international, padahal itu menjadi salah satu tujuan, kalau bisa tujuan puncak dalam menjalani karier.

Nun jauh di San Francisco, USA, tanggal 4 Maret kemarin, seorang anak Indonesia berhadapan dengan massa lokal. Kalangan kampus dan musisi. Anak Indonesia itu bernama Balawan, gitaris terkenal asal Bali. Bisa jadi karena anak Bali, kesadaran belajar bahasa Inggris menjadi tinggi. Sehingga bolehlah dibilang, Balawan adalah salah seorang musisi kita yang begitu lancar berbahasa Inggris.

Lantas kenapa?

Dalam ilmu komunikasi, bahasa menjadi hal yang sangat penting. Mampu berbahasa yang dimengerti mayoritas orang, akan memudahkan kita menyampaikan isi pernyataan (inti dari apa yang ingin kita sampaikan). Maka seperti laporan rekan kami Agem Raharjo dari San Francisco, ketika Balawan dihadapkan dengan pengunjung dan membahas banyak hal, dia bisa sambil bercanda-canda dan membuat orang tertawa renyah.

Mereka, mengerti apa yang disampaikan Balawan. Balawan mengerti apa yang hendak disampaikan dan melalui pemilihan kata-kata macam apa yang dimengerti banyak orang.

Lewat kemampuan berbahasa, orang tidak hanya kagum pada musik Balawan, tapi juga kagum pada apa yang diceritakan Balawan dengan lancar, dengan bahasa yang sangat mereka mengerti.

Bahasa kecil? Tapi penting bung!

Selasa, 01 Maret 2011

Jangan Pukul Wartawan!

Belum lagi tuntas kasus Dipo Alam yang dituduh menghalang-halangi mendapatkan informasi bagi 2 stasion televisi dan satu media cetak, kemarin malam (Senin, 28/2) dua orang wartawan, reporter dan kameraman Global TV melaporkan sebuah peristiwa penganiayaan terhadap keduanya ke Polres Jakarta Selatan.

Penganiayaan itu berawal dari saat mereka ditugaskan meliput berita kepastian kabar Mulan Jameela melahirkan. Berita ini memang sudah santer di mana-mana. Konon Mulan melahirkan seorang putri di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Naluri membawa keduanya mendatangi rumah Mulan yang bersebrangan dengan rumah Ahmad Dhani, presiden management Republik Cinta. Nah, saat kameraman mengambil gambar rumah Mulan dari jalan raya, sekelompok orang menyambangi mereka, meminta kaset rekaman, dan entah bagaimana awalnya, keduanya mengaku dipukuli. Sampai polisi datang menyelamatkan mereka.

Jangan pukul wartawan! Ini negeri punya hukum bung! Wartawan punya aturan main dan dilindungi. Kalau memang ada sesuatu yang dianggap melanggar aturan mereka, ajukan keberatan ke organisasinya. Tidak ada yang berhak memaksa seorang wartawan menyerahkan hasil liputannya kepada siapapun. Sekali lagi, wartawan dilindungi dalam menjalankan profesinya.

Tidak tertutup kemungkinan seorang wartawan melewati batas. Sekali lagi, kalau itu terjadi, ajukan keberatan. Bahkan jika misalnya ada yang tidak menerima hasil berita yang ditayangkan, ada yang namanya hak jawab.

Bagaimanapun, main sita, main pukul, keroyok menjadi masalah tersendiri. Mari kita saling menghargai profesi dan saling mengingatkan. Negeri kita punya aturan yang pasti.

Lagi Perang Lawan Pembajak Musik

aBisa jadi karena sudah terlalu jengah, para pembajak musik Indonesia yang ''panen'' setiap saat, salah seorang pemburu pembajak yang tak pernah merasa lelah, Rahayu Kertawiguna, yang juga dikenal sebagai orang nomor satu di Nagaswara Record bikin kejutan. Tidak lagi sekadar uner-uberan dengan bajakan, tapi dia masuk sarang pembajak di bilangan Glodok, mau mendirikan toko cd original di sana, harganya bersaing dengan cd bajakan.

Yang namanya bajak membajak ini memang luar biasa. Terang-terangan, dan terus melaju seperti menantang. Beberapa bisa dijebloskan ke penjara sejak dulu, tapi banyak sekali yang melenggang, mengeduk keuntungan dari berdarah-darahnya para produser resmi yang mengeluarkan modal tidak sedikit untuk memproduksi sebuah karya musik. Pembajak? Cukup beli CD di pasaran, diperbanyak, jual dengan harga murah.

Bayangkan, pembajak itu tentu tidak pusing dengan bayaran artis, bayaran produksi, bahkan tidak perlu bayar pajak resmi ke pemerintah.

Kondisi inilah salah satu faktor utama yang bikin bisnis fisik musik (CD, kaset dlsb) terpuruk. Untung belakangan RBT menjanjikan. Tapi di sisi lain, fisiklah yang sebenarnya bisa mengobati keinginan pecinta musik menikmati musik seutuhnya. Sebab kita tahu RBT hanya potongan lagu sepanjang 30 detik.

Apa yang akan dilakukan Rahayu dalam meningkahi Hari Musik Indonesia yang jatuh pada 9 Maret ini perlu menjadi perhatian. Artinya, kalau saja semua produser melakukan hal sama, di tempat (di sarang) yang sama, ini menjadi perlawanan yang sengit. Setidaknya, kalau pembajak tidak bisa diberantas, lawan saja. Toh mereka hanya mengandalkan jualan murah. Kalau memang bisa fisik dijual murah, lakukan!

Bravo Rahayu Kertawiguna! Bravo musik Indonesia! Jangan pernah beli produk bajakan!

Minggu, 27 Februari 2011

Narkoba Lagi! Selebriti Lagi!

Kali ini Yoyo Padi. Drummer yang mantan suami penyanyi kondang Rossa itu dicokot polisi dari kamar apartmentnya di bilangan Sudirman, Jakarta, Minggu dini hari (27/2). Urusannya narkoba. Polisi mengaku ketika Yoyo disambangi tidak lagi ''memakai'', tapi dari tempat itu polisi menyita barang bukti berupa bong (alat hisap narkoba) dan narkoba jenis shabu-shabu.

Sialnya, kemudian banyak orang bilang, ''Ah, artis mah biasa!'' Nah lo.

Memang, sepanjang masa, sederet nama sudah tercatat tereret-eret menggunakan barang haram jadah itu. Tak perlulah disebut-sebut lagi nama mereka, apalagi mereka yang sudah berbalik, berpaling meninggalkan penyesalan yang dalam untuk ulah tak terpuji dan merusak diri dan hidup sendiri itu. Tapi, lagi-lagi artis. Meski kalau dihitung persentasi jumlah artis yang terlibat narkoba dengan masyarakat biasa bisa jadi cuma secuil persen, tapi tetap saja, kalau wartawan bilang, ''Name make news.'' Orang-orang terkenal selalu mejadi objek berita, dan -- apalagi artis -- orang-orang awam selalu menunggu berita tentang mereka.

Tapi berita narkoba? Inilah dukanya. Aibnya. Seorang Yoyo pula. Drummer yang dipasangkan namanya di papan atas. Drummer yang cukup disegani di bidangnya. Halah! Kenapa harus seperti ini?

Kadang kita tidak habis pikir. Tapi, yang paling tahu sebab-sebab, tentulah orang kayak Yoyo sendiri. Kenapa dia harus terkait dengan barang itu?

Selebriti konon adalah sosok terpilih, yang kemudian ikutannya mendapat ''gelar'' itu adalah, mereka disadari atau tidak, menjadi tokoh panutan. Panutan setidaknya bagi penggemar masing-masing. Setidaknya! Nah, kalau panutan, berarti memang banyak hal yang menjadi ''pantangan''. Ini salah satu risiko. Maka saya setuju dengan teori seorang teman pengamat entertainment, Remy Soetansyah: Terkenal adalah risiko. Banyak yang tak terduga muncul di sana. Maka inti dan kuncinya adalah: Berhati-hatilah.

Narkoba dan artis, seringkali saling terkait. Entah karena para pemain bisnis narkoba itu tahu bahwa artis ternyata seringkali ''merasa sepi'' ketika tidak beraktivitas, atau bisa pula dengan memperdaya artis (selebriti), ini menjadi bagian dari promo dagangannya. Ini cuma asumsi.

Di sisi lain, kesadaran sebagai manusia, kesadaran sebagai mahluk yang hidup di negeri ini, yang tegas-tegas menentang ''yang begituan'', yang jelas-jelas hukumnya menjerat yang mencoba tersangkut-sangkut dengan kasus narkoba, kesadaran sebagai panutan (selebriti -- tokoh masyarakat), manusia pilihan, seharusnya menjadi rem yang paling pakem untuk menjauh dari godaan setan khususnya narkoba itu.

Selalu dan selalu kita berharap, kasus teraktual harusnya menjadi kasus terakhir kaum selebriti tersangkut narkoba.  Mungkinkah?

Kamis, 24 Februari 2011

Nyanyian Sunyi dari Tanoh Pakpak

Oleh : Hans Miller Banurea
(tulisan dimuat di majalah TATAP, edisi 04)

Jika naik kendaraan dari Medan, sepanjang 153 kilometer menuju tanah Dairi dan Pakpak Bharat, Anda akan menikmati jalan turun-naik, melintasi indahnya pemandangan Tanah Karo, menikmati birunya tao Toba dan genitnya bibir tao di tepian Silalahi, serta awan tipis yang menyelimuti hijaunya anak-anak gunung yang bertumpukan di kiri jalan. 
Umpamakan perjalanan Anda menuju tanah Dairi dan Pakpak Bharat itu untuk menghadiri jamuan makan, maka apa yang tersaji di perjalanan tadi adalah santapan selamat datang. Seterusnya, di tanah Dairi dan Pakpak Bharat, Anda akan disajikan berbagai ragam santapan utama. Salah satu pilihannya adalah musik. Seperti juga di tanah Batak lainnya, musik-musik tradisional yang akan ditemui bisa dipastikan tidak banyak berbeda. Namun, kalau masuk lebih jauh lagi, Anda akan tercengang dan dijamin menggeleng-gelengkan kepala, karena kagum pada apa yang Anda dengar dan saksikan.
Ada dua jenis nyanyian orang Pakpak yang tidak lazim terdengar. Disebut tidak lazim, karena kedua nyanyian itu hanya dikumandangkan di tempat yang sangat khusus. Dua-duanya dinyanyikan di tempat yang sunyi. Yang pertama disebut tangis milangi (tangis menghitung), dinyanyikan di tempat mana hati semua orang dalam keadaan sunyi hati. Persisnya di tempat orang meninggal dunia. Dan satu lagi, Odong-Odong, yang dinyanyikan di tempat yang benar-benar sunyi. Di tengah hutan rimba raya, di mana penyanyinya berada di atas pohon kemenyan, menumpahkan semua kerinduan dan seluruh harapan yang mengalir di nadinya.
Jangan tanya bagaimana Tangis Milangi atau Odong-Odong itu ada. Dengan segala kekhasannya, dia sudah ada dan menjadi milik orang Pakpak secara turun temurun. Jangan pula tanyakan siapa penciptanya, sebab sejak dia muncul dengan patron yang konvensional, tidak ada yang mencatat nama penciptanya. Tapi, sebut saja dia ciptaan NN (No Name) sebagaimana lazimnya perlakukan kepada karya musik yang tidak diketahui nama penciptanya. Apalagi, yang pakem hanyalah lagunya, sementara liriknya selalu berubah-ubah, tergantung siapa yang menyanyikan dan perasaan apa yang berkecamuk di dalam hatinya saat itu.

TANGIS MILANGI
Tangis Milangi (Tangis Menghitung), hanya kita dengar di saat ada kemalangan. Ketika seseorang meninggal dunia, ada pihak-pihak yang mempersembahkan Tangis Milangi itu sebagai komunikasi terakhir, sebelum jenazah dimakamkan. Biasanya, yang mempersembahkan tangis milangi itu adalah kaum perempuan, ibu-ibu. Durasi Tangis Milangi tidak ditentukan. Tergantung panjang pendeknya kehidupan dijalani orang yang meninggal dunia. Atau tergantung panjang pendeknya pengetahuan yang ber-Tangis Milangi tentang orang yang meninggal dunia.
Tangis Milangi dimasukkan ke dalam golongan nyanyian, karena Tangis Milangi itu memang dinyanyikan (tangisan yang memenuhi semua unsur yang dibutuhkan oleh nyanyian), dan sebagai cirri khasnya yang lain adalah, selalu dinyanyikan dengan nada minor.
Kepeken berngini rebbak deng kita kirana
Naing mangan pelleng nimu katemu
Ndor aku meddem asa ndungo siceggen
Asa giam ndor kubahan pengidoenmi…
Nggo kessa cihur ceggen ari
Ndungo ko Pa, ninggu
Enggo ko keppe laus, Bapa
Uuuuuuuuu

Padahal tadi malam kita masih bersama ngobrol
Katamu ingin makan pelleng
Saya cepat tidur agar bangun pagi
Biar cepat saya kerjakan apa yang kau minta
Begitu pagi hari terang
Bangun, Pak, kataku
Ternyata engkau sudah pergi, Bapak
Uuuuuu (bagian ini disebut derru-derru/menangis jerit-jeritan)

Lirik di atas adalah salah satu yang dibuat secara bebas. Begitu bebasnya lirik Tangis Milangi itu, tanpa ada batasan apa-apa seperti juga durasinya. Bahkan, kadang-kadang sesuai yang rahasiapun disisipkan di sana, misalnya bicara tentang sesuatu yang belum terselesaikan dengan orang yang meninggal dunia (hutang piutang misalnya).
Tangis Milangi, sudah ada sejak dulu. Sehingga, bagi orang Pakpak, kematian tanpa ada Tangis Milangi, dianggap seperti sesuatu yang belum sempurna. Pilu mendengarnya, tapi kadang-kadang mendengar lirik yang dikarang pada saat itu juga, dalam hati bisa geli. Atau kita juga bisa geli, karena bisa mendadak yang tengah menangis milangi berhenti dan mengatakan kepada orang di sebelahnya, ‘’Giliranmu sekarang!’’ Atau sebaliknya, ketika bagian Uuuuuuuu (meraung-raung), tiba-tiba saja dia pingsan.
ODONG-ODONG

Walaupun masyarakat Pakpak terkenal dengan kebun kopi, berkebun nilam, dan mencari getah kemenyan, dan tiga-tiganya berasa di tempat sepi, Odong-Odong lebih dikenal milik perkemenjen (pencari getah kemenyan) di hutan belantara. 
Sampai sekarang, perkemenjen masih terus melakukan pekerjaannya dengan pola dan cara yang sama. Seperti orang mau mergeraha (berperang), perkemenjen akan diberangkatkan oleh keluarga, dilengkapi dengan segala kebutuhan berhari-hari tinggal di hutan, termasuk perlengkapan ‘’perang’’nya, berupa golok, congkil (alat untuk mencongkel getah kemenyan).
Perkemenjen selalu laki-laki. Persoalannya, medan yang dihadapi selalu cukup ekstrem, masuk hutan sendirian atau berdua, yang tentu saja bisa tiba-tiba berhadapan bukan hanya cuaca, tapi segala sesuatu yang hidup di hutan, termasuk binatang buas.
Setelah memasuki hutan belantara, biasanya mereka akan membuat semacam saung (dalam bahasa Pakpak disebut sapo-sapo/rumah-rumahan) tempat mereka menginap dan berteduh kalau hujan tiba-tiba turun.
Tinggal di hutan bisa berhari-hari, bahkan bisa dalam hitungan minggu. Tergantung jumlah getah kemenyan yang dikumpulkan. 
Bisa dibayangkan, sendirian, jauh dari keluarga, masak sendiri, tidur sendiri. Yang pasti temannya hanya ada satu: sunyi. Terutama saat perkemenjen memanjat pohon kemenyan di siang hari. Di bawah terik matahari perkemenjen berusaha agar getah kemenyan keluar dan mengental. Angin sepoi-sepoi, ada nyanyian burung dan desir angin meniup daun-daunan penambah rasa sunyi. Bayangan wajah anak dan istri tentu langsung menggelayut di benak. Saat itulah biasanya perkemenjem menumpahkan rasa sunyi dan semua harapannya ke dalam lagu yang disebut Odong-Odong.
Seperti juga Tangis Milangi, Odong-Odong tidak dibatasi durasi, tidak dibatasi lirik. Tergantung yang ber-Odong-Odong mau berhenti kapan, dan mau membuat liriknya seperti apa.
….. Otang kabang-kabang mi urang Julu ko lebbe manuk-manuk
Pesoh mo giam teddoh ni ate mendahi si buyung
I tengah rambah en ngo bapana merkemenjen
Giam burju-burju ia sikkola
Barang mi juma mendengani inangna
Odong-odong-odonggggggg (ditingkahi dengan legato yang meliuk-liuk)

Terbang ke urang Julu (ke daerah hulu) lah kau burung
Sampaikan rindu hati kepada si buyung (anak)
Bapaknya di tengah hutan mencari kemenyan
Mudah-mudahan dia baik-baik sekolah
Atau ke ladang menemani ibunya
Odong…odong…odong…..

(contoh lirik bebas Odong-Odong)

Tangis Milangi maupun Odong-Odong adalah sebuah peninggalan nenek moyang orang Pakpak yang sesungguhnya tiada bertara. Yang berhubungan dengan jiwa, dan dibebaskan kepada jiwa siapa saja yang membawakannya. Bisa jadi, itu pula yang membuatnya terus lestari, sebab setiap saat bisa diaktualisasi, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan batin yang membawakannya.